Unit Usaha Syariah (UUS) Permata Bank tengah mempersiapkan diri matang-matang jelang pelaksanaan spin off. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap aturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan pemisahan unit usaha syariah menjadi bank umum syariah mandiri. Strategi yang diambil bukan soal buru-buru pisah, tapi memperkuat fondasi bisnis agar siap secara internal.
Fokus saat ini justru pada peningkatan kapabilitas operasional dan struktur keuangan. Salah satu indikator utamanya adalah pencapaian aset sebesar Rp37 triliun. Angka ini masih di bawah ambang batas regulasi yang mensyaratkan pemisahan ketika aset mencapai Rp50 triliun. Namun, pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan menjadi prioritas agar transisi nanti bisa berjalan mulus tanpa mengganggu layanan nasabah.
Penguatan Bisnis Jadi Modal Utama Menuju Spin Off
Sebelum benar-benar melepas diri dari induknya, UUS Permata Bank memastikan bahwa bisnisnya kuat dan siap bersaing. Ini bukan sekadar soal angka di neraca, tapi juga kemampuan menjangkau pasar dengan lebih luas. Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan UUS Permata Bank, menyebut bahwa semua itu dilakukan agar ketika waktunya tiba, transisi bisa berjalan optimal.
Langkah konkret yang diambil salah satunya adalah dengan memperluas cakupan bisnis ke segmen-segmen yang punya potensi besar. Mulai dari ritel, usaha kecil menengah (SME), hingga komersial. Targetnya jelas, yakni memperbanyak basis nasabah sekaligus meningkatkan adopsi produk-produk keuangan syariah.
1. Fokus Ekspansi ke Segmen Ritel
Segmen ritel menjadi salah satu bidikan utama karena memiliki daya serap yang tinggi. Dengan populasi konsumen yang besar, potensi pertumbuhan di sektor ini sangat menjanjikan. Apalagi, tren digitalisasi membuat akses ke layanan perbankan semakin mudah.
Permata Bank Syariah pun mulai merancang berbagai solusi keuangan yang ramah untuk kalangan individu. Mulai dari tabungan, giro, hingga pinjaman konsumtif yang disesuaikan dengan prinsip syariah. Tujuannya, agar masyarakat tidak hanya mengenal bank syariah sebagai alternatif, tapi sebagai pilihan utama.
2. Pengembangan Layanan untuk UKM/SME
Usaha kecil menengah (SME) juga masuk dalam radar utama. Kelompok ini kerap diabaikan oleh bank konvensional karena dianggap rentan risiko. Tapi bagi UUS Permata Bank, mereka justru merupakan pasar yang belum tersentuh secara maksimal.
Program pembiayaan yang dikembangkan saat ini dirancang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan riil pelaku usaha. Selain itu, edukasi keuangan juga menjadi bagian penting agar para pengusaha kecil bisa memahami manfaat dan cara menggunakan produk syariah dengan lebih baik.
3. Peningkatan Portofolio Komersial
Di sisi lain, portofolio pembiayaan komersial juga mulai diperluas. Sejauh ini, mayoritas pembiayaan masih terpusat pada korporasi besar dan kredit kepemilikan rumah. Padahal, sektor komersial menengah punya potensi pendapatan yang tak kalah menarik.
Dengan diversifikasi ini, diharapkan struktur pendapatan bisa lebih seimbang. Risiko pun bisa dikelola lebih baik karena tidak terlalu bergantung pada satu segmen saja. Ini juga sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam sistem perbankan syariah.
Edukasi dan Inklusi Jadi Kunci Pertumbuhan
Memperluas jaringan dan produk saja tidak cukup. UUS Permata Bank juga sadar bahwa tantangan terbesar dalam menggenjot pertumbuhan adalah rendahnya literasi keuangan masyarakat. Banyak orang masih awam dengan prinsip syariah, apalagi sampai memahami manfaatnya.
Oleh karena itu, program edukasi dan inklusi keuangan digencarkan. Baik melalui kampanye digital maupun kegiatan langsung di lapangan. Tujuannya, agar masyarakat tidak hanya tahu, tapi juga percaya bahwa bank syariah bisa memberikan nilai tambah yang nyata.
4. Program Literasi Keuangan Syariah
Permata Bank Syariah aktif menggelar berbagai program edukasi, baik offline maupun online. Materi yang disampaikan mencakup dasar-dasar keuangan syariah, manfaat produk, hingga simulasi penggunaan layanan perbankan.
Dengan pendekatan yang lebih personal dan mudah dipahami, harapannya masyarakat bisa lebih terbuka terhadap bank syariah. Terutama generasi muda yang lebih cepat menyerap informasi baru.
5. Kolaborasi dengan Komunitas Lokal
Selain itu, kolaborasi dengan komunitas lokal juga menjadi strategi yang efektif. Melalui kemitraan dengan organisasi masyarakat, yayasan, dan lembaga pendidikan, pesan tentang manfaat keuangan syariah bisa tersebar lebih luas.
Inisiatif ini tidak hanya berdampak pada peningkatan jumlah nasabah, tapi juga membantu mendorong inklusi keuangan secara nasional. Terutama di daerah-daerah yang sebelumnya kurang terjamah oleh layanan perbankan.
Persiapan Menuju Ambang Batas Regulasi
Meski saat ini aset UUS Permata Bank masih berada di kisaran Rp37 triliun, langkah-langkah strategis yang diambil menunjukkan komitmen serius untuk terus tumbuh. Targetnya jelas: mendekati atau bahkan menyentuh ambang batas aset Rp50 triliun yang ditetapkan OJK.
Namun, bukan berarti pertumbuhan harus dilakukan secara tergesa-gesa. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap langkah yang diambil berkontribusi pada penguatan struktur bisnis secara keseluruhan. Termasuk dalam hal tata kelola, manajemen risiko, dan kapasitas SDM.
6. Peningkatan Infrastruktur Teknologi
Untuk mendukung ekspansi bisnis, investasi di sektor teknologi pun terus ditingkatkan. Platform digital yang user-friendly, sistem keamanan mutakhir, dan integrasi layanan omnichannel menjadi prioritas.
Ini penting agar nasabah bisa menikmati pengalaman perbankan yang nyaman dan aman, terlepas dari lokasi atau waktu. Terutama di era di mana mobilitas dan kecepatan menjadi faktor penentu loyalitas pelanggan.
7. Penguatan SDM dan Budaya Kerja
Selain infrastruktur, sumber daya manusia juga menjadi fokus utama. Pelatihan rutin, peningkatan kapasitas, dan pembentukan budaya kerja yang selaras dengan nilai-nilai syariah terus digalakkan.
SDM yang kompeten dan memiliki integritas tinggi akan menjadi modal utama dalam mewujudkan visi UUS Permata Bank sebagai bank syariah yang unggul dan terpercaya.
Tabel Perkembangan Aset UUS Permata Bank
| Tahun | Total Aset (Rp Triliun) | Catatan |
|---|---|---|
| 2024 | 32 | Awal fase pembenahan internal |
| 2025 | 35 | Masuknya portofolio ritel dan SME |
| 2026 | 37 | Penguatan strategi menuju spin off |
Catatan: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung perkembangan bisnis serta regulasi dari OJK.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensial dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar, kebijakan regulasi, serta strategi internal UUS Permata Bank. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi lebih lanjut jika memerlukan data terkini.
Langkah-langkah yang diambil oleh UUS Permata Bank saat ini menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar mengejar target regulasi, tapi benar-benar membangun fondasi yang kokoh untuk masa depan. Dengan fokus pada ritel, SME, dan komersial, serta dukungan edukasi dan teknologi, bank syariah ini siap melangkah lebih jauh—baik sebagai bagian dari Permata Bank maupun sebagai entitas mandiri nantinya.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













