Perbankan

Fund Manager Asing Serbu Beli Saham BBCA di Harga Murah

Herdi Alif Al Hikam
×

Fund Manager Asing Serbu Beli Saham BBCA di Harga Murah

Sebarkan artikel ini
Fund Manager Asing Serbu Beli Saham BBCA di Harga Murah

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali jadi sorotan investor. Sejumlah fund manager global besar memborong ini saat harga sedang berada di level yang relatif murah. Aksi beli besar-besaran ini terjadi sejak awal tahun , ketika BBCA sempat terkoreksi sekitar 12% sepanjang year to date.

Harga saham BBCA yang sempat tertekan justru menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing yang melihat potensi valuasi yang masih menarik. Pada perdagangan Kamis (5/3/2026), saham BBCA ditutup menguat 3,27% menjadi Rp7.100 per saham. Lonjakan ini sebagian besar didukung oleh aksi beli dari beberapa fund manager ternama.

Fund Manager Asing yang Borong Saham BBCA

Aksi beli ini bukan sekadar gerakan spekulatif. Fund manager besar seperti Vanguard, Blackrock, dan Capital Group ternyata memanfaatkan sebagai akumulasi. Mereka melihat prospek jangka panjang BBCA yang tetap solid meski perbankan menghadapi tantangan margin bunga bersih di tahun 2026.

Berikut adalah daftar fund manager asing yang aktif memborong saham BBCA sejak awal tahun:

1. St. James’s Place plc (SJP)

St. James’s Place plc (SJP) menjadi fund manager paling agresif dalam memborong saham BBCA. Dengan AUM mencapai £220 miliar atau setara Rp4.962 triliun, SJP memborong 121,5 juta saham BBCA sepanjang 2026. Hingga Kamis (5/3/2026), total kepemilikan SJP mencapai 458,23 jua saham, menjadikannya salah satu pemegang saham besar di BBCA.

2. Capital Group Cos Inc

Capital Group, salah satu fund manager terbesar di Amerika Serikat, juga tidak mau ketinggalan. Perusahaan ini memborong 112,83 juta saham BBCA sepanjang tahun ini. Total saham yang dikendalikan Capital Group saat ini mencapai 1,07 miliar saham atau setara dengan 0,87% dari total saham BBCA.

3. Principal Financial Group

Principal Financial Group memborong 36,79 juta saham BBCA. Saat ini, Principal mengendalikan total 235,47 juta saham BBCA. Langkah ini menunjukkan bahwa investor global tetap optimis terhadap prospek pertumbuhan bank swasta terbesar Indonesia ini.

4. Vanguard

Vanguard memborong 35,02 juta saham BBCA sepanjang tahun ini. Total kepemilikan Vanguard saat ini mencapai 2,66 miliar saham atau setara dengan 2,16% dari total saham BBCA. Dengan posisinya sebagai pemegang saham terbesar keempat, Vanguard menunjukkan keyakinan kuat terhadap kinerja BBCA ke depan.

5. Blackrock

Blackrock juga ikut memborong 32 juta saham BBCA. Saat ini, Blackrock mengendalikan 1,88 miliar saham atau setara dengan 1,53% dari total saham BBCA. Blackrock menempati posisi sebagai pemegang saham terbesar kelima di BBCA.

Proyeksi Kinerja BBCA di Tahun 2026

Meski industri perbankan menghadapi tantangan penurunan margin bunga bersih (NIM) di tahun 2026, prospek BBCA tetap dinilai solid. Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, BBCA diproyeksikan mencatatkan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp79,58 triliun atau naik 5,73% dibandingkan .

Laba bersih BBCA juga diproyeksikan menembus Rp60 triliun, naik 5,35% secara tahunan. Meskipun NIM berpotensi tertekan akibat penurunan yield kredit, manajemen BBCA memproyeksikan NIM tetap berada di kisaran 5,4%–5,6%.

1. Pertumbuhan Kredit

BBCA memproyeksikan pertumbuhan kredit sekitar 8%–10% di tahun 2026. Meskipun yield kredit turun, peningkatan volume kredit bisa membantu menjaga performa .

2. Biaya Kredit Stabil

Biaya kredit diperkirakan tetap stabil di kisaran 0,4%–0,5%. Stabilitas ini menunjukkan bahwa risiko kredit tetap terkendali, meskipun lingkungan makro mulai menunjukkan ketidakpastian.

3. Efisiensi Operasional

Untuk menjaga profitabilitas, BBCA mengandalkan peningkatan efisiensi operasional serta pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dan fee. Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) diproyeksikan membaik ke kisaran 31%–33% dalam beberapa tahun ke depan.

Valuasi BBCA Masih Menarik

Saat ini, BBCA diperdagangkan pada valuasi 3,11x price to book value (PBV). Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun terakhir yang berada di kisaran 3,6–4,2x PBV. Hal ini menunjukkan bahwa saham BBCA saat ini sedang dihargai di bawah nilai historisnya.

BRIDS mempertahankan rekomendasi Beli untuk BBCA dengan target harga Rp11.400, naik dari sebelumnya Rp10.800. Ini menunjukkan bahwa analis masih melihat potensi upside yang menarik dari saham ini.

Perbandingan Kepemilikan Saham BBCA oleh Fund Manager Asing

Berikut adalah rincian kepemilikan saham BBCA oleh beberapa fund manager asing sepanjang tahun 2026:

Fund Manager Saham Diborong (2026) Total Saham Dimiliki % Kepemilikan
St. James’s Place plc 121,5 juta 458,23 juta
Capital Group Cos Inc 112,83 juta 1,07 miliar 0,87%
Principal Financial Group 36,79 juta 235,47 juta
Vanguard 35,02 juta 2,66 miliar 2,16%
Blackrock 32 juta 1,88 miliar 1,53%

Disclaimer: Data di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung aktivitas dan kebijakan investor.

Penutup

Aksi beli dari fund manager global menunjukkan bahwa investor asing masih melihat potensi pertumbuhan yang kuat dari BBCA. Meskipun industri perbankan menghadapi tantangan makro ekonomi, kinerja BBCA tetap dianggap solid dan berkelanjutan. Valuasi yang saat ini berada di level menarik semakin memperkuat daya tarik saham ini bagi investor jangka panjang.

Bagi investor yang mencari saham blue-chip dengan prospek jangka panjang, BBCA tetap layak untuk dikantongi. Terlebih dengan dukungan dari investor global yang memiliki track record kuat dalam memilih saham berkualitas.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.