Perang yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat, dengan keterlibatan Israel, terus memunculkan gelombang dampak di sektor ekonomi global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Ketua Komite Bilateral Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohamad Bawazeer, menyatakan bahwa situasi ini sangat mengganggu aktivitas ekonomi, terutama di wilayah Teluk Persia.
Menurut Bawazeer, ketidakpastian akibat konflik bersenjata ini membuat sejumlah negara dan perusahaan pelayaran enggan melakukan aktivitas perdagangan secara normal. Ketakutan akan risiko serangan membuat banyak pihak memilih menunda pengiriman barang atau mengambil rute yang lebih panjang dan mahal.
Dampak Perang Iran-AS terhadap Ekonomi Timur Tengah
Kondisi ini memicu sejumlah gangguan di sektor logistik dan perdagangan internasional. Salah satunya adalah lonjakan biaya pengiriman melalui laut atau ocean rate yang naik hingga tiga kali lipat dari biasanya. Hal ini terjadi karena jalur pengiriman utama seperti Selat Hormuz menjadi tidak aman dan terancam oleh aktivitas militer.
- Tarif pengiriman laut meningkat hingga tiga kali lipat.
- Banyak kapal barang menghindari rute Laut Merah dan Bab-el-Mandeb.
- Rute alternatif melalui Afrika dan Terusan Suez menjadi pilihan, memperpanjang waktu pengiriman hingga dua bulan.
- Ribuan kontainer terjebak di pelabuhan seperti Jabal Ali karena pembatasan akses melalui Selat Hormuz.
Akibatnya, waktu pengiriman barang yang biasanya hanya memakan waktu 15 hingga 20 hari kini bisa memakan waktu hingga dua bulan. Ini tentu sangat merugikan bagi pelaku bisnis, terutama yang bergantung pada ketepatan waktu pengiriman.
Penyebab Gangguan Aktivitas Ekonomi
Perang Iran-AS bukan hanya soal pertempuran militer. Konflik ini menciptakan ketidakpastian yang berimbas pada sektor ekonomi secara luas. Bawazeer menyebut bahwa ketidakjelasan situasi peperangan menjadi penyebab utama terganggunya aktivitas bisnis di kawasan.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan gangguan ekonomi adalah:
- Ketidakpastian keamanan di jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz.
- Kebijakan pencekalan atau pembatasan akses oleh otoritas setempat.
- Kekhawatiran terhadap risiko kehilangan kapal atau barang karena serangan militer.
Selain itu, banyak perusahaan pelayaran memilih strategi wait and see atau menunggu dan melihat perkembangan situasi sebelum melanjutkan operasional. Ini membuat volume perdagangan menurun drastis di kawasan.
Dampak terhadap Ekspor dan Harga Barang
Perdagangan internasional yang terganggu berimbas langsung pada harga barang. Ketika biaya logistik naik, maka harga produk impor maupun ekspor pun ikut terdorong naik. Hal ini terjadi karena biaya tambahan yang ditanggung oleh pelaku usaha akhirnya dialihkan kepada konsumen.
- Harga bahan baku impor meningkat karena keterlambatan pengiriman.
- Biaya produksi di sektor manufaktur naik karena ketergantungan pada energi.
- Produk jadi yang dikirim ke pasar global kehilangan daya saing karena harga lebih tinggi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso juga mengungkapkan bahwa sektor energi adalah yang paling awal terdampak. Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, distribusi minyak global akan terganggu, yang bisa memicu lonjakan harga energi secara global.
Sektor yang Paling Rentan Terkena Dampak
Beberapa sektor di Indonesia juga merasakan tekanan dari konflik ini. Terutama sektor yang bergantung pada impor bahan baku dan ekspor hasil produksi ke pasar internasional.
Berikut adalah sektor-sektor yang paling rentan:
- Sektor manufaktur, karena ketergantungan pada energi dan bahan baku impor.
- Sektor ekspor, karena biaya pengiriman naik dan permintaan global melemah.
- Sektor logistik dan pelayaran, karena terpaksa mengambil rute lebih panjang dan mahal.
Kenaikan biaya produksi juga berisiko menekan margin keuntungan perusahaan. Jika tidak ditangani dengan baik, ini bisa berujung pada kenaikan harga barang secara nasional dan menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Tabel Perbandingan Biaya dan Waktu Pengiriman
| Parameter | Kondisi Normal | Kondisi Saat Konflik |
|---|---|---|
| Waktu pengiriman ke Teluk | 15-20 hari | Hingga 2 bulan |
| Biaya pengiriman laut | Standar | Naik hingga 3x lipat |
| Rute utama | Selat Hormuz | Terusan Suez via Afrika |
| Volume pengiriman | Stabil | Menurun drastis |
| Risiko pengiriman | Rendah | Tinggi |
Strategi Jangka Pendek untuk Mengurangi Dampak
Meskipun konflik ini berada di luar kendali pemerintah Indonesia, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk meminimalkan dampaknya.
- Diversifikasi rute perdagangan untuk menghindari jalur yang terancam.
- Meningkatkan cadangan bahan baku strategis untuk mengantisipasi kenaikan harga.
- Mendorong penggunaan teknologi untuk mempercepat proses logistik.
- Menjalin kerja sama dengan mitra dagang di kawasan untuk saling berbagi informasi risiko.
Langkah-langkah ini bisa membantu pelaku usaha tetap berjalan meskipun dalam kondisi yang tidak menentu.
Kesimpulan
Perang Iran-AS bukan hanya masalah geopolitik. Konflik ini memiliki dampak riil terhadap ekonomi global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Gangguan pada jalur perdagangan utama, kenaikan biaya logistik, dan ketidakpastian keamanan membuat aktivitas ekonomi terganggu.
Indonesia sebagai negara yang aktif dalam perdagangan internasional juga merasakan dampaknya. Oleh karena itu, penting bagi pelaku usaha dan pemerintah untuk bersiap menghadapi risiko yang muncul akibat ketegangan di kawasan.
Disclaimer: Data dan kondisi yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













