Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah kembali menunjukkan performa positif di akhir pekan perdagangan Februari 2026. Mata uang lokal ini menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD), menutup di level Rp16.802 per USD. Penguatan ini terjadi seiring dengan dinamika ekonomi global yang turut memengaruhi sentimen pasar keuangan di Tanah Air.
Penguatan rupiah mencatatkan kenaikan sebesar 86 poin atau sekitar 0,51 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.888 per USD. Data Bloomberg mencatat penutupan ini terjadi pada Senin, 23 Februari 2026. Meski begitu, data dari sumber lain seperti Yahoo Finance menunjukkan angka yang sedikit berbeda, yakni rupiah berada di posisi Rp16.790 per USD, naik 90 poin atau 0,53 persen dari sebelumnya.
Sementara itu, kurs referensi Jisdor mencatat rupiah di level Rp16.818 per USD. Angka ini juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.885 per USD. Meskipun terdapat sedikit perbedaan antar sumber data, tren penguatan rupiah terhadap USD tetap terlihat konsisten.
Faktor di Balik Penguatan Rupiah
Penguatan rupiah tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor makroekonomi global yang turut memengaruhi pergerakan nilai tukar ini. Dari sisi fundamental, data ekonomi Amerika Serikat memberikan dampak langsung terhadap sentimen investor terhadap mata uang dolar.
1. Penurunan PDB AS Kuartal IV-2025
Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah adalah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal IV-2025. Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang melambat secara year-on-year (YoY), turun dari 4,4 persen menjadi hanya 1,4 persen.
Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah penutupan pemerintah AS selama 43 hari. Kondisi ini mengganggu aktivitas ekonomi dan mengurangi output kuartal tersebut.
2. Inflasi Inti PCE yang Naik Tipis
Indikator inflasi inti AS, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE), juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Data menunjukkan bahwa inflasi inti PCE naik menjadi 3,0 persen, dari sebelumnya 2,8 persen. Meski masih di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral AS, kenaikan ini tidak terlalu signifikan.
Namun, tetap saja angka ini menjadi perhatian investor karena menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih ada, meskipun tidak terlalu besar.
3. Ancaman Kebijakan Tarif dari Pemerintah AS
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan yang diusulkan oleh pemerintah AS. Presiden Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif sebesar 10 persen terhadap impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS.
Ancaman ini muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif sebelumnya yang lebih luas. Sebagai respons, pemerintah kemudian menaikkan tarif menjadi 15 persen, yang merupakan batas maksimum berdasarkan undang-undang tersebut.
Kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian di pasar global. Investor mulai waspada terhadap potensi gangguan pada rantai pasokan global dan risiko tindakan balasan dari negara lain.
Perbandingan Data Kurs Rupiah terhadap USD
Berikut adalah perbandingan data kurs rupiah terhadap dolar AS dari berbagai sumber pada tanggal 23 Februari 2026:
| Sumber Data | Kurs (Rp/USD) | Perubahan (Poin) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Bloomberg | 16.802 | -86 | -0,51% |
| Yahoo Finance | 16.790 | -90 | -0,53% |
| Jisdor | 16.818 | -67 | -0,40% |
Perbedaan angka antarsumber cukup umum terjadi karena metode pengambilan data dan waktu referensi yang berbeda. Namun, secara keseluruhan, tren penguatan rupiah tetap terlihat.
Dampak Penguatan Rupiah terhadap Ekonomi Domestik
Penguatan rupiah terhadap dolar memiliki dampak ganda bagi ekonomi Indonesia. Di satu sisi, rupiah yang kuat bisa menekan laju inflasi karena harga impor cenderung lebih murah. Ini menguntungkan konsumen dan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor.
Di sisi lain, rupiah yang menguat bisa membuat ekspor Indonesia kurang kompetitif di pasar global. Harga barang ekspor menjadi lebih mahal bagi pembeli asing, yang berpotensi menurunkan permintaan.
Namun, dampak ini tidak serta merta terasa secara langsung. Banyak faktor lain seperti permintaan global, kebijakan moneter BI, dan stabilitas politik dalam negeri juga turut berperan.
Proyeksi Kurs Rupiah ke Depan
Melihat kondisi saat ini, rupiah diperkirakan akan tetap mengalami volatilitas. Faktor global seperti kebijakan moneter The Fed, isu tarif perdagangan, dan data ekonomi AS akan terus menjadi pendorong utama pergerakan nilai tukar.
Bank Indonesia (BI) juga akan terus memantau perkembangan ini. Jika diperlukan, BI bisa melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.
Investor dan pelaku usaha disarankan untuk terus memantau perkembangan data ekonomi global dan kebijakan moneter. Dengan begitu, mereka bisa mengambil langkah antisipatif terhadap risiko pergerakan nilai tukar.
Tips Mengantisipasi Fluktuasi Kurs
Bagi pelaku usaha atau investor yang terpapar risiko mata uang asing, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak fluktuasi kurs:
1. Gunakan Instrumen Lindung Nilai (Hedging)
Salah satu cara mengurangi risiko fluktuasi kurs adalah dengan menggunakan instrumen lindung nilai seperti forward contract atau currency swap. Instrumen ini memungkinkan penguncian nilai tukar di masa depan.
2. Diversifikasi Mata Uang
Mengelola portofolio atau transaksi dalam berbagai mata uang bisa membantu menyeimbangkan risiko. Diversifikasi ini mengurangi ketergantungan pada satu mata uang saja.
3. Pantau Data Makroekonomi Global
Data ekonomi global seperti inflasi, PDB, dan kebijakan moneter memiliki dampak langsung terhadap nilai tukar. Memantau perkembangan ini bisa membantu dalam pengambilan keputusan.
4. Konsultasi dengan Ahli Keuangan
Jika terlibat dalam transaksi lintas negara atau investasi asing, konsultasi dengan ahli keuangan atau analis pasar bisa memberikan pandangan yang lebih tepat dan strategi mitigasi risiko.
Disclaimer
Data kurs yang disajikan bersifat mengacu pada sumber terpercaya namun dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika pasar. Perbedaan angka antarsumber merupakan hal yang wajar mengingat metode pengambilan dan waktu referensi yang berbeda. Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi atau keputusan keuangan.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.








