Permintaan mobil di pasar domestik mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan di awal 2026. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan mobil secara wholesales pada Januari 2026 mencapai 66.447 unit, naik 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan ritel juga tumbuh positif, meski lebih rendah, yakni sebesar 4,5% year-on-year (YoY) menjadi 66.936 unit.
Peningkatan ini menjadi sinyal baik bagi industri pembiayaan kendaraan, terutama perusahaan multifinance yang berperan besar dalam skema kredit otomotif. Namun, para pelaku industri tetap diminta waspada. Meski angka awal tahun terlihat optimis, pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody menilai kondisi ekonomi global dan dinamika pasar masih menyimpan ketidakpastian yang bisa memengaruhi keputusan konsumen.
Tren Penjualan Mobil dan Dampaknya pada Multifinance
Pertumbuhan penjualan mobil di awal tahun memang menjanjikan, tapi belum tentu berlanjut sepanjang kuartal I-2026. Jody menilai, faktor seperti jumlah hari kerja yang sedikit pada Maret 2026 bisa memengaruhi performa secara keseluruhan. Selain itu, situasi ekonomi global yang belum stabil juga berpotensi membuat konsumen lebih hati-hati dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan.
Meski begitu, ada beberapa momen katalis yang bisa mendorong pertumbuhan lebih lanjut. Misalnya, perayaan Lebaran, pameran otomotif, serta program subsidi kredit dari perbankan yang biasanya muncul menjelang musim belanja kendaraan.
1. Penjualan Mobil Baru dan Bekas di Awal 2026
| Jenis Mobil | Volume Penjualan (Januari 2026) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Mobil Baru (Wholesale) | 66.447 unit | +7% |
| Mobil Baru (Ritel) | 66.936 unit | +4,5% |
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa konsumen mulai kembali percaya diri membeli kendaraan baru. Namun, pertumbuhan penjualan mobil bekas juga tetap terjaga. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan mobil bekas hingga November 2025 mencatat pertumbuhan 0,42% YoY, mencapai Rp 87,46 triliun.
2. Pembiayaan Multifinance: Tantangan dan Peluang
Sementara itu, pembiayaan mobil baru oleh perusahaan multifinance justru mengalami kontraksi. Hingga November 2025, total pembiayaan mobil baru tercatat sebesar Rp 142,59 triliun, turun 4,65% dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa meski permintaan mobil naik, skema pembiayaan belum sepenuhnya pulih.
Namun, OJK optimistis bahwa sepanjang 2026, pembiayaan mobil baru bisa kembali tumbuh. Apalagi jika didukung oleh program insentif dan momentum belanja menjelang Lebaran.
Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Kendaraan di 2026
Beberapa faktor eksternal dan internal berpotensi memengaruhi performa industri pembiayaan kendaraan di tahun ini. Dari segi eksternal, ketidakpastian ekonomi global masih menjadi penghambat. Di sisi lain, kebijakan domestik seperti regulasi insentif mobil listrik juga mulai berdampak.
1. Insentif Mobil Listrik yang Mulai Berakhir
Insentif mobil listrik yang diberikan pemerintah akan berakhir di akhir 2026. Hal ini diperkirakan akan memengaruhi harga jual mobil listrik ke depan. GAIKINDO memprediksi bahwa harga mobil listrik bisa naik setelah insentif dicabut, yang pada akhirnya akan memengaruhi permintaan dan skema pembiayaan.
2. Obligasi Jatuh Tempo Multifinance
Industri multifinance juga menghadapi tantangan internal, seperti jatuh temponya obligasi senilai Rp 33,93 triliun pada 2026. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi likuiditas perusahaan dan bisa memengaruhi kapasitas penyaluran kredit.
3. Persaingan di Segmen Mobil Murah
Persaingan di segmen mobil murah juga mulai mengubah peta pembiayaan. Semakin banyaknya pilihan mobil dengan harga terjangkau membuat multifinance harus lebih kreatif dalam menyusun skema kredit yang menarik.
Strategi Multifinance Menghadapi Tahun 2026
Menghadapi tantangan dan peluang tersebut, multifinance perlu merancang strategi yang tepat agar tetap kompetitif dan mampu menyalurkan kredit secara berkelanjutan.
1. Fokus pada Pembiayaan Mobil Bekas
Dengan pertumbuhan pembiayaan mobil bekas yang masih positif, multifinance bisa memperluas portofolio di segmen ini. OJK sendiri memproyeksikan bahwa pembiayaan mobil bekas akan lebih resilien di tahun ini.
2. Manfaatkan Momen Pameran dan Subsidi Kredit
Momen seperti pameran otomotif dan program subsidi kredit menjadi peluang besar untuk meningkatkan penyaluran kredit. Multifinance bisa bekerja sama dengan dealer dan bank untuk menawarkan skema menarik selama periode tersebut.
3. Tingkatkan Efisiensi Operasional
Mengingat tekanan dari obligasi jatuh tempo, multifinance perlu meningkatkan efisiensi operasional dan manajemen risiko. Ini penting untuk menjaga stabilitas likuiditas dan tetap bisa menyalurkan kredit secara berkelanjutan.
Proyeksi OJK untuk Industri Multifinance di 2026
OJK memperkirakan bahwa industri multifinance akan kembali tumbuh positif di tahun 2026. Proyeksi ini didasarkan pada beberapa faktor, termasuk pemulihan permintaan mobil dan potensi pertumbuhan pembiayaan mobil bekas.
Namun, pertumbuhan ini tidak serta merta terjadi begitu saja. Multifinance tetap harus waspada terhadap risiko makro ekonomi dan dinamika pasar yang bisa berubah kapan saja.
Data Pembiayaan Kendaraan Hingga November 2025
| Jenis Pembiayaan | Nilai (Rp) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Mobil Baru | 142,59 triliun | -4,65% |
| Mobil Bekas | 87,46 triliun | +0,42% |
| Mobil Listrik | 17,64 triliun | – |
Data ini menunjukkan bahwa pembiayaan mobil listrik masih belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Padahal, sektor ini seharusnya menjadi fokus utama mengingat kebijakan pemerintah yang mendorong transisi ke energi bersih.
Kesimpulan
Penjualan mobil yang mulai pulih di awal 2026 memang menjadi kabar baik bagi industri pembiayaan kendaraan. Namun, multifinance tidak boleh terlena dengan angka positif tersebut. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari risiko makro ekonomi hingga jatuh temponya obligasi.
Strategi yang tepat, seperti fokus pada pembiayaan mobil bekas dan efisiensi operasional, bisa menjadi kunci keberhasilan di tahun ini. OJK pun optimistis bahwa industri multifinance bisa tumbuh positif selama mampu mengelola risiko dengan baik.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro dan kebijakan pemerintah.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













