Bank Central Asia (BCA) mencatatkan pencapaian solid di awal tahun 2026. Laba bersih bank ini mencapai Rp 14,7 triliun pada kuartal I-2026, naik 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa BCA tetap mampu menjaga performa bisnisnya meski berada di tengah dinamika ekonomi global yang tidak selalu ramah.
Pendapatan bunga bersih BCA tercatat sebesar Rp 21,1 triliun, stagnan dibanding kuartal I-2025. Meski begitu, pertumbuhan kredit yang solid dan pengelolaan dana yang efisien membantu menjaga laba tetap positif. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyebut momentum Ramadan dan Idulfitri sebagai salah satu pendorong kinerja kredit bank.
Kinerja Keuangan BCA di Kuartal I-2026
Penyaluran kredit BCA hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp 994 triliun, naik 5,6% secara tahunan. Kenaikan ini terutama didorong oleh pertumbuhan kredit produktif yang mencapai Rp 760,2 triliun, naik 7,8% YoY. Kredit produktif menjadi tulang punggung portofolio pembiayaan bank, menunjukkan bahwa BCA tetap fokus pada sektor-sektor yang berkontribusi langsung terhadap perekonomian riil.
Sejalan dengan komitmen berkelanjutan, BCA juga meningkatkan penyaluran kredit ke sektor ESG (Environmental, Social, and Governance). Kredit berkelanjutan mencapai Rp 258,4 triliun, naik 10% YoY, atau setara 26% dari total portofolio pembiayaan. Ini menunjukkan bahwa bank tidak hanya fokus pada profit, tapi juga dampak sosial dan lingkungan.
1. Pertumbuhan Kredit UMKM yang Menjanjikan
Kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik 12% YoY, mencapai Rp 146 triliun. Angka ini mencerminkan dukungan BCA terhadap ekosistem usaha lokal yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. UMKM tidak hanya menjadi sumber lapangan kerja, tapi juga pendorong inklusi keuangan.
2. Kredit Hijau Dorong Energi Terbarukan
Kredit hijau (green financing) BCA tumbuh 7,7% YoY, mencapai Rp 113 triliun. Salah satu kontributor utama adalah penyaluran ke sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang naik 53,5% YoY. Ini menunjukkan bahwa BCA mulai merespons kebutuhan transisi energi di Indonesia.
Pendanaan yang Solid Mendukung Pertumbuhan
Total Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA mencapai Rp 1.292,4 triliun, naik 8,3% YoY. Porsi terbesar berasal dari dana giro dan tabungan (CASA) yang mencapai Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2% YoY. CASA sendiri menyumbang 85,2% dari total DPK, angka yang sangat tinggi dan menunjukkan efisiensi biaya dana bank.
Hendra Lembong menjelaskan bahwa kenaikan CASA sejalan dengan pengembangan layanan perbankan transaksi BCA, baik melalui kanal digital maupun non-digital. Ini menunjukkan bahwa BCA terus memperkuat layanan retail-nya untuk menarik dan mempertahankan nasabah.
Kualitas Aset Tetap Terjaga
BCA juga berhasil menjaga kualitas asetnya. Loan at Risk (LAR) berada di level 5,1%, sedangkan Non Performing Loan (NPL) hanya 1,8%. Rasio pencadangan untuk LAR dan NPL masing-masing mencapai 69,7% dan 174,6%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa manajemen risiko BCA berjalan dengan baik.
| Indikator | Kuartal I-2026 | Kuartal I-2025 | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp 14,7 triliun | Rp 14,1 triliun | 3,8% |
| Pendapatan Bunga Bersih | Rp 21,1 triliun | Rp 21,1 triliun | 0% |
| Total Kredit | Rp 994 triliun | Rp 941 triliun | 5,6% |
| Kredit Produktif | Rp 760,2 triliun | Rp 705,3 triliun | 7,8% |
| DPK | Rp 1.292,4 triliun | Rp 1.193,3 triliun | 8,3% |
| CASA | Rp 1.089 triliun | Rp 979,2 triliun | 11,2% |
| LAR | 5,1% | 5,2% | – |
| NPL | 1,8% | 1,9% | – |
Strategi BCA Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan
BCA terus mengembangkan berbagai lini bisnis secara pruden, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Salah satu langkah strategisnya adalah melalui program BCA Expoversary 2026 yang diluncurkan sejak Februari. Program ini mendapat antusiasme tinggi dari nasabah dan masyarakat, yang berkontribusi pada peningkatan aktivitas transaksi dan kredit.
Selain itu, BCA juga terus berinovasi dalam layanan digital. Pengembangan aplikasi dan platform digital tidak hanya meningkatkan kenyamanan nasabah, tapi juga efisiensi operasional bank. Ini menjadi salah satu alasan mengapa CASA bisa tumbuh lebih cepat dibanding DPK secara keseluruhan.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski kinerja BCA di awal tahun ini tergolong solid, bank tetap harus waspada terhadap dinamika makro ekonomi global. Inflasi, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik bisa berdampak pada kinerja perbankan secara umum.
Namun, BCA tampak siap menghadapi tantangan tersebut. Dengan portofolio kredit yang sehat, dana yang solid, dan komitmen terhadap prinsip ESG, bank ini punya fondasi kuat untuk terus tumbuh di tengah ketidakpastian.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat simulasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi ekonomi dan regulasi yang berlaku.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













