Permintaan pembiayaan emas di bank syariah kian meningkat seiring memanasnya situasi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang berkepanjangan membuat masyarakat lebih waspada terhadap risiko ekonomi dan mencari instrumen investasi yang aman. Emas, sebagai aset lindung nilai, kembali menjadi pilihan utama.
Lonjakan minat ini terlihat dari data pertumbuhan pembiayaan emas di sejumlah bank syariah besar. Tren ini bukan sekadar respons terhadap ketidakpastian global, tapi juga dorongan dari literasi keuangan yang semakin baik dan kemudahan akses layanan perbankan syariah.
Permintaan Emas Melonjak, Bank Syariah Respons Cepat
1. Bank BJB Syariah Catat Lonjakan Pembiayaan Emas
Bank BJB Syariah mencatat peningkatan permintaan pembiayaan emas yang cukup signifikan. Dari Desember 2025 hingga Februari 2026, volume pembiayaan naik 118,13% atau sekitar Rp 95 miliar. Total pembiayaan emas di bank ini mencapai Rp 624,6 miliar, dengan jumlah nasabah aktif mencapai 10.709 orang.
2. Skema Pembiayaan Mudah dan Cepat
Bank BJB Syariah menawarkan skema pembiayaan emas dengan akad murabahah. Nasabah cukup mengajukan permohonan di cabang terdekat, melengkapi dokumen, dan membayar uang muka sesuai ketentuan. Proses ini bisa selesai dalam satu hari kerja.
3. Target Pertumbuhan Capai 129% di 2026
Bank BJB Syariah menargetkan pertumbuhan pembiayaan emas hingga 129% pada akhir 2026 dibandingkan posisi akhir 2025. Untuk mendukung target ini, bank memperluas kerja sama dengan pemasok emas dan menggenjot digitalisasi layanan melalui mobile banking.
Bank Muamalat Tancap Gas di Bisnis Emas Syariah
1. Solusi Emas Hijrah Dorong Pertumbuhan
Bank Muamalat mencatat lonjakan permintaan produk Solusi Emas Hijrah (SOLEH) sepanjang 2025. Volume pembiayaan naik hingga 33 kali lipat, mencapai Rp1,1 triliun. Jumlah rekening SOLEH juga meningkat tajam, dari 1.833 menjadi 24.335 rekening.
2. Literasi dan Akses Jadi Pendorong Utama
Peningkatan minat masyarakat terhadap emas syariah dipicu oleh literasi investasi yang semakin baik dan akses yang mudah melalui aplikasi Muamalat DIN. Nasabah bisa memilih tenor cicilan dari 3 hingga 10 tahun, dengan harga dan margin yang sudah disepakati di awal.
3. Prospek Bisnis Emas Masih Cerah
Bank Muamalat optimistis bisnis pembiayaan emas bisa menjadi salah satu pilar pertumbuhan pembiayaan konsumer. Strategi yang diambil antara lain memperkuat ekosistem emas syariah, memperluas kolaborasi dengan mitra logam mulia, dan meningkatkan edukasi investasi.
Bank Syariah Indonesia (BSI) Juga Ikut Berkilau
1. Nasabah Bullion Bank Naik 44% dalam Dua Bulan
Bank Syariah Indonesia mencatat kenaikan jumlah nasabah bullion bank sebesar 44% secara year to date dari Januari hingga Februari 2026. Penjualan emas juga sudah mencapai 58% dari total penjualan tahun 2025.
2. Superapps BYOND Permudah Transaksi Emas
BSI memanfaatkan superapps BYOND untuk memudahkan nasabah membeli emas secara real-time. Harga emas tersedia mulai dari Rp50.000-an, dan nasabah bisa mentransfer saldo emas ke sesama pengguna BSI Emas.
3. Antisipasi Permintaan dengan Manajemen Stok Baik
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, BSI memastikan ketersediaan stok melalui manajemen inventory yang baik dan kerja sama dengan berbagai supplier. Bank juga terus memantau perkembangan situasi geopolitik agar bisa merespons dengan cepat.
Faktor Pendorong Permintaan Emas Syariah
1. Ketidakpastian Geopolitik
Ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik Israel-Hamas dan ancaman eskalasi Iran-Israel, memicu ketidakpastian global. Hal ini membuat investor mencari aset aman, salah satunya emas.
2. Harga Emas yang Terus Naik
Harga emas di pasaran, termasuk di Butik Emas Antam, terus mengalami kenaikan. Pada Maret 2026, harga emas mencapai Rp 3,024 juta per gram. Lonjakan ini mendorong masyarakat untuk berinvestasi lebih awal agar tidak kehilangan kesempatan.
3. Prinsip Syariah yang Menarik
Produk pembiayaan emas syariah menggunakan prinsip jual beli (murabahah), bukan bunga. Ini menarik bagi nasabah yang ingin berinvestasi sesuai dengan nilai-nilai keislaman.
Strategi Bank Syariah Hadapi Lonjakan Permintaan
1. Digitalisasi Layanan
Bank-bank syariah mempercepat digitalisasi layanan pembiayaan emas. Aplikasi mobile banking kini menjadi alat utama untuk mengajukan dan mengelola investasi emas.
2. Perluasan Jaringan Supplier
Untuk memastikan ketersediaan stok, bank menjalin kerja sama dengan berbagai supplier emas terpercaya, seperti PT Antam, PT Hartadinata Abadi, dan PT Pegadaian.
3. Edukasi Nasabah
Bank aktif mengedukasi masyarakat tentang manfaat investasi emas jangka panjang. Edukasi ini dilakukan melalui seminar, webinar, dan konten digital.
Tabel Perbandingan Pertumbuhan Pembiayaan Emas di Bank Syariah (2025–2026)
| Bank | Volume Pembiayaan (2025) | Volume Pembiayaan (2026) | Pertumbuhan (%) | Jumlah Nasabah (2026) |
|---|---|---|---|---|
| Bank BJB Syariah | Rp 528,7 Miliar | Rp 624,6 Miliar | 118,13% | 10.709 |
| Bank Muamalat | Rp 33,3 Miliar | Rp 1,1 Triliun | 33x lipat | 24.335 |
| Bank Syariah Indonesia | – | – | 44% (nasabah) | 5,7 Juta |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan kebijakan bank terkait.
Kesimpulan
Permintaan pembiayaan emas di bank syariah terus meningkat seiring ketidakpastian geopolitik global. Bank-bank syariah seperti BJB Syariah, Muamalat, dan BSI merespons dengan mempercepat digitalisasi, memperluas jaringan supplier, dan meningkatkan edukasi nasabah. Emas syariah bukan hanya sebagai instrumen investasi, tapi juga solusi keuangan yang selaras dengan nilai-nilai keislaman.
Dengan prospek yang cerah dan strategi yang matang, bisnis pembiayaan emas syariah berpotensi menjadi salah satu pilar pertumbuhan di sektor perbankan syariah ke depannya.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar dan kebijakan masing-masing bank.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













