Finansial

Menjelang Lebaran, Fintech Samir Gelar Strategi Khusus Hadapi Lonjakan Transaksi Digital

Fadhly Ramadan
×

Menjelang Lebaran, Fintech Samir Gelar Strategi Khusus Hadapi Lonjakan Transaksi Digital

Sebarkan artikel ini
Menjelang Lebaran, Fintech Samir Gelar Strategi Khusus Hadapi Lonjakan Transaksi Digital

Musim Ramadan dan Lebaran selalu jadi momen istimewa di kalangan pelaku usaha mikro. Bukan cuma soal peningkatan transaksi, tapi juga tantangan pengelolaan keuangan yang harus lebih cermat. Bagi fintech peer-to-peer (P2P) lending seperti Samir, momen ini punya dampak langsung ke risiko kredit, terutama pada metrik TWP90 alias Tingkat Waktu Pinjaman 90 hari.

TWP90 sendiri adalah ukuran seberapa besar pinjaman yang macet lebih dari 90 hari. Semakin tinggi angkanya, semakin besar risiko kredit yang ditanggung oleh platform. Nah, menjelang Lebaran , Samir tampaknya sudah siap dengan sejumlah antisipasi.

Strategi Samir Hadapi Lonjakan Risiko Kredit

Ramadan dan Lebaran identik dengan lonjakan pengeluaran. Masyarakat banyak yang merogoh kocek untuk biaya mudik, belanja lebaran, hingga THR keluarga. Tak heran jika pasca-Lebaran kerap terjadi peningkatan tunggakan pinjaman.

Samir tahu betul fenomena ini. Maka dari itu, beberapa strategi disiapkan agar risiko tetap terjaga meski permintaan pinjaman naik.

1. Penguatan Analisis Kelayakan Kredit

Proses seleksi calon peminjam tak main-main. Samir menggunakan sistem analisis berbasis data dan teknologi untuk menilai kemampuan bayar tiap individu. Artinya, bukan cuma soal input data diri, tapi juga perilaku keuangan dan riwayat transaksi.

Langkah ini membantu mengurangi risiko ke peminjam yang tidak benar-benar layak. Dengan begitu, meskipun volume pinjaman naik, kualitas portofolio tetap terjaga.

2. Monitoring Portofolio Secara Berkala

Setelah pinjaman disalurkan, Samir tak langsung “berpaling.” Tim melakukan monitoring rutin terhadap performa pinjaman. Jika ada indikasi keterlambatan, sistem akan otomatis mengirimkan notifikasi pengingat ke pengguna.

Ini penting karena sering kali keterlambatan bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena lupa atau kesibukan. Pengingat yang tepat waktu bisa mencegah tunggakan berlarut-larut.

3. Edukasi Literasi Keuangan

Samir sadar bahwa risiko kredit bukan cuma soal sistem internal. Faktor eksternal, terutama perilaku pengguna, juga turut berpengaruh. Oleh karena itu, keuangan jadi bagian penting dari strategi jangka panjang.

Melalui konten edukatif dan simulasi pinjaman, Samir berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan keuangan digital. Tujuannya, agar pinjaman digunakan sesuai kebutuhan, bukan gaya hidup.

Faktor Musiman yang Memicu Kenaikan TWP90

Lonjakan pengeluaran menjelang dan seusai Lebaran memang sulit dihindari. Ini bukan cuma isu personal, tapi juga tren makro ekonomi yang terlihat di seluruh industri keuangan.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan lonjakan TWP90 antara lain:

  • Peningkatan pengeluaran mendadak, terutama untuk biaya mudik dan belanja lebaran.
  • Perubahan pola cash flow akibat THR dan bonus yang masuk sekaligus.
  • Rendahnya literasi keuangan, membuat sebagian masyarakat terjebak utang konsumtif.

Menurut data internal Samir per 6 2026, TWP90 mereka masih berada di level 1,39%. Angka ini relatif rendah dibandingkan rata-rata industri yang sempat menyentuh 4,38% di awal tahun.

Data TWP90 Fintech Lending Awal 2026

Untuk gambaran lebih lengkap, berikut perkembangan TWP90 di fintech lending nasional:

Bulan TWP90 (%)
Januari 2025 2,52
Desember 2025 4,32
Januari 2026 4,38

Naiknya angka ini menunjukkan bahwa kondisi makro dan pola konsumsi masyarakat berdampak nyata ke sektor keuangan digital. Samir yang proaktif dalam mitigasi risiko punya lebih besar untuk tetap di tengah gejolak.

Tips Mengelola Pinjaman Saat Lebaran

Bagi pengguna layanan fintech, momen Lebaran juga jadi ujian pengelolaan keuangan. Agar tidak terjebak tunggakan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sejak dini.

1. Buat Anggaran Khusus Lebaran

Catat semua rencana pengeluaran, mulai dari belanja sembako hingga biaya mudik. Dengan jelas, pengeluaran bisa dikontrol dan tidak melesat.

2. Hindari Pinjaman Konsumtif

Pinjaman sebaiknya digunakan untuk kebutuhan produktif, bukan gaya hidup sesaat. Jika sudah punya cicilan aktif, pertimbangkan lagi apakah butuh tambahan pinjaman atau tidak.

3. Bayar Tepat Waktu

Gunakan fitur reminder atau auto-debit jika tersedia. Bayar sedini mungkin sebelum tanggal jatuh tempo untuk hindari denda dan catatan buruk di sistem.

Kesimpulan

Momen Ramadan dan Lebaran memang selalu jadi tantangan tersendiri bagi fintech P2P. Namun dengan strategi yang tepat, risiko bisa diminimalkan. Samir yang fokus pada analisis kredit, monitoring aktif, dan edukasi pengguna menunjukkan komitmen kuat menjaga stabilitas operasional.

Bagi pengguna, saat-saat seperti ini juga jadi peluang untuk belajar mengelola keuangan lebih baik. Karena di akhir tahun, yang paling penting bukan cuma bisa belanja puas, tapi juga tidur nyenyak tanpa beban utang.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar dan regulasi yang berlaku.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.