Finansial

Fitch Pertahankan Rating BBB untuk BCA dengan Outlook Negatif 2026 Ini Penyebabnya

Danang Ismail
×

Fitch Pertahankan Rating BBB untuk BCA dengan Outlook Negatif 2026 Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Fitch Pertahankan Rating BBB untuk BCA dengan Outlook Negatif 2026 Ini Penyebabnya

Lembaga pemeringkat internasional Ratings kembali menegaskan peringkat kredit PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Perusahaan tetap mempertahankan rating investasi BCA di level BBB dengan outlook negatif. Penegasan ini mencerminkan bank terbesar ketiga di Indonesia itu, meskipun terdapat beberapa tantangan makroekonomi yang patut diwaspadai.

Penilaian ini dirilis oleh Fitch pada Selasa (21/4/2026), bersamaan dengan penegasan National Long-Term Rating BCA di level AAA(idn) dengan outlook stabil. Rating jangka panjang BCA didukung oleh Viability Rating (VR) sebesar bbb, yang menunjukkan daya tahan bisnis bank secara . Fitch mencatat bahwa BCA memiliki fondasi bisnis yang kokoh, terutama dari sisi franchise dan basis dana murah yang luas.

Kekuatan Fundamental BCA yang Mendukung Rating

BCA terus menunjukkan performa solid di tengah dinamika sektor perbankan Indonesia. Keberhasilan bank ini tidak lepas dari strategi konservatif dalam dan kemampuan menjaga likuiditas serta rentabilitas yang stabil.

1. Franchise Domestik yang Kuat

Sebagai bank swasta terbesar di Indonesia, BCA memiliki posisi dominan dengan pangsa aset mencapai sekitar 12% di akhir 2025. Ini menjadikannya bank ketiga terbesar secara keseluruhan. Keunggulan ini membantu BCA dalam mengakses dana murah dan memperluas basis pelanggan, baik ritel maupun korporat.

2. Pendanaan Murah dan Stabil

Proporsi Current Account Saving Account (CASA) milik BCA mencapai 84,6% dari total simpanan. Angka ini merupakan yang tertinggi di antara bank-bank yang dirating oleh Fitch. Dana murah ini menjadi tulang punggung pendanaan BCA, memungkinkan bank ini menjaga margin bunga bersih tetap kompetitif.

3. Risiko Kredit Terkendali

BCA menunjukkan kedisiplinan dalam proses underwriting. Rasio Non-Performing Loan (NPL) turun menjadi 1,7% di akhir 2025, dari 1,8% pada tahun sebelumnya. Total loan at risk juga menyusut menjadi 4,8%. Fitch mencatat bahwa angka ini adalah yang terendah di kalangan bank domestik berperingkat mereka.

4. Profitabilitas yang Konsisten

Operating profit terhadap risk-weighted assets mencapai 7,6% pada 2025, naik tipis dari 7,5% tahun sebelumnya. Meskipun diperkirakan sudah mendekati puncak, margin bunga BCA tetap terjaga berkat struktur aset yang menguntungkan dan biaya dana yang rendah.

5. Permodalan Kuat

Common Equity Tier 1 (CET1) BCA mencapai 29,2% di akhir 2025, naik dari 28,1% pada 2024. Angka ini termasuk salah satu yang tertinggi di kalangan bank besar Asia. Modal yang kuat ini menjadi benteng pertahanan BCA terhadap potensi .

6. Likuiditas Luar Biasa

(LCR) BCA mencapai 311%, jauh di atas batas minimum regulator. Net Stable Funding Ratio (NSFR) juga tinggi, yakni 159%. Likuiditas yang melimpah ini memastikan BCA mampu memenuhi kewajiban jangka pendek kapan pun dibutuhkan.

Faktor Makro yang Mempengaruhi Outlook Negatif

Meski kinerja internal BCA tergolong solid, outlook negatif tetap diberlakukan. Ini terkait erat dengan kondisi makroekonomi global dan domestik yang dinilai masih penuh ketidakpastian.

1. Outlook Negatif Indonesia

Fitch merevisi outlook sovereign Indonesia menjadi negatif pada Maret 2026. Alasannya adalah meningkatnya ketidakpastian kebijakan fiskal dan tekanan pada ketahanan eksternal. Ketegangan geopolitik, khususnya konflik Iran, juga menjadi faktor risiko yang bisa memicu lonjakan harga energi global.

2. Potensi Risiko Eksternal

Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk tekanan dari kebijakan AS terhadap Irak, bisa berimbas pada stabilitas harga minyak dunia. Jika hal ini terjadi, tekanan inflasi di Indonesia pun bisa meningkat, memaksa Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan.

3. Keterbatasan Ruang Kebijakan Moneter

Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1% pada 2026 dan 5% pada 2027, ruang gerak kebijakan moneter dinilai semakin sempit. Apalagi jika inflasi terus terdorong oleh faktor eksternal, BI harus waspada dalam menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas harga.

Dukungan Pemerintah dan Implikasi Rating

Fitch juga mempertahankan Government Support Rating (GSR) BCA di level bbb-, satu tingkat di bawah sovereign Indonesia. Ini menunjukkan keyakinan bahwa pemerintah memiliki kecenderungan tinggi untuk memberikan dukungan jika dibutuhkan, mengingat peran sistemik BCA dalam infrastruktur pembayaran nasional.

1. Potensi Revisi Rating ke Stabil

Fitch menyatakan bahwa jika outlook sovereign Indonesia kembali stabil, maka rating BCA juga berpotensi direvisi ke arah yang positif. Namun, sebaliknya, jika tekanan makroekonomi semakin meningkat, ada risiko penurunan rating.

2. Keterkaitan dengan Sektor Perbankan Nasional

Rating BCA tidak hanya mencerminkan kinerja individu bank, tapi juga kondisi industri perbankan secara umum. Fitch menilai bahwa lingkungan Indonesia masih kondusif, meskipun tantangan global tetap menjadi ancaman.

Data Kinerja BCA Tahun 2025

Berikut ringkasan kinerja keuangan BCA di akhir 2025:

Indikator Nilai
Rasio NPL 1,7%
Total Loan at Risk 4,8%
Operating Profit/Risk-Weighted Assets 7,6%
CET1 Ratio 29,2%
CASA Ratio 84,6%
LCR 311%
NSFR 159%

Disclaimer: Data di atas bersumber dari laporan tahunan BCA dan penilaian Fitch Ratings per 2026. Informasi dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan kondisi makroekonomi dan kebijakan pemerintah.

Kesimpulan

Penegasan rating BBB oleh Fitch menunjukkan bahwa BCA tetap menjadi salah satu bank paling solid di Indonesia. Fundamental yang kuat, manajemen risiko yang cermat, dan likuiditas tinggi menjadi andalan utama bank ini. Namun, outlook negatif tetap menjadi pengingat bahwa tantangan eksternal, terutama dari sisi geopolitik dan kebijakan fiskal, belum sepenuhnya sirna. Untuk dan stakeholder, kinerja BCA tetap layak diikuti, terutama dalam konteks ketahanan sektor perbankan nasional di tengah gejolak global.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.