Penurunan BI Rate yang dilakukan secara bertahap sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026 belum sepenuhnya diikuti dengan penurunan bunga kredit yang signifikan. Meski regulator moneter telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 125 basis poin dalam periode yang sama, rata-rata bunga kredit baru hanya turun sebesar 40 bps menjadi 8,8% pada Januari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa transmisi kebijakan moneter masih mengalami hambatan di tengah sistem perbankan.
Fenomena ini bukan hal baru. Banyak pihak mengaitkan keterbatasan transmisi dengan kondisi likuiditas dan strategi bisnis bank yang cenderung menjaga margin bunga agar tetap menguntungkan. Bank-bank besar memang memiliki likuiditas yang lebih baik, tetapi belum tentu bersedia menurunkan bunga kredit jika dampaknya mengurangi pendapatan bunga mereka. Sementara bank kecil seringkali terkendala oleh keterbatasan modal dan likuiditas.
Penyebab Transmisi BI Rate Tersendat
1. Margin Bunga yang Harus Dipertahankan
Salah satu alasan utama bank enggan menurunkan bunga kredit adalah perlunya menjaga margin bunga. Penurunan BI Rate memang memberikan tekanan pada bank untuk menyesuaikan suku bunga, tapi jika bank menurunkan bunga kredit secara agresif, pendapatan bunga mereka bisa tergerus. Banyak bank memilih untuk menahan penurunan bunga agar tetap bisa memperoleh keuntungan dari selisih antara bunga pinjaman dan bunga simpanan.
2. Kondisi Likuiditas yang Belum Merata
Meski BI telah menyalurkan insentif likuiditas melalui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp 427,5 triliun, penyaluran ini belum tentu langsung dirasakan oleh semua bank. Bank-bank besar cenderung lebih cepat menyerap insentif tersebut, sedangkan bank kecil masih menghadapi tantangan dalam mengakses likuiditas yang cukup. Akibatnya, mereka tidak memiliki ruang untuk menurunkan bunga kredit secara signifikan.
3. Strategi Bisnis dan Permodalan yang Berbeda
Setiap bank memiliki strategi bisnis yang berbeda. Ada bank yang lebih fokus pada pertumbuhan volume kredit, sementara yang lain lebih memilih menjaga rentabilitas. Bank dengan permodalan kuat mungkin lebih berani menurunkan bunga, tapi bank kecil seringkali harus berhati-hati agar tidak mengorbankan stabilitas keuangan mereka.
Dampak dari Transmisi yang Lambat
1. Biaya Pinjaman yang Masih Tinggi
Ketika bunga kredit tidak turun sejalan dengan BI Rate, masyarakat dan pelaku usaha tetap harus menghadapi biaya pinjaman yang tinggi. Ini menjadi penghambat investasi dan konsumsi, terutama di kalangan usaha kecil dan menengah yang sangat bergantung pada akses perbankan.
2. Perlambatan Stimulus ke Sektor Riil
Salah satu tujuan penurunan BI Rate adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit. Namun, jika transmisi tersendat, efek stimulatif dari kebijakan moneter tidak akan terasa secara langsung di sektor riil. Ini bisa memperlambat pemulihan ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian global.
3. Kurangnya Kepercayaan Pasar
Transmisi yang lambat juga bisa menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan. Investor dan pelaku usaha mungkin ragu untuk mengambil langkah ekspansi jika kondisi suku bunga belum menunjukkan kejelasan arah yang mendukung.
Langkah-Langkah yang Dapat Ditempuh
1. Evaluasi Kebijakan Likuiditas
Bank Indonesia perlu terus mengevaluasi efektivitas penyaluran KLM agar likuiditas bisa lebih merata menjangkau seluruh lapisan perbankan. Ini penting agar bank kecil juga bisa ikut menurunkan bunga kredit.
2. Penguatan Pengawasan dan Insentif
Memberikan insentif tambahan bagi bank yang aktif menurunkan bunga kredit bisa menjadi solusi. Misalnya, BI bisa memberikan fasilitas likuiditas dengan syarat bank bersangkutan menurunkan bunga pinjaman secara proporsional.
3. Edukasi dan Koordinasi dengan Bank
Koordinasi yang lebih intens antara BI dan perbankan penting untuk memastikan kebijakan bisa diterjemahkan secara efektif. Edukasi mengenai manfaat transmisi yang lancar juga perlu terus digalakkan agar bank tidak hanya berorientasi pada laba jangka pendek.
Perbandingan Bunga Kredit Sebelum dan Sesudah Penurunan BI Rate
| Periode | BI Rate | Rata-Rata Bunga Kredit | Selisih Terhadap BI Rate |
|---|---|---|---|
| Desember 2025 | 9,25% | 9,2% | 0,05% |
| Januari 2026 | 8,00% | 8,8% | 0,80% |
Catatan: Data di atas berdasarkan laporan Bank Indonesia dan riset internal perbankan.
Faktor yang Memengaruhi Keputusan Bank Menurunkan Bunga
- Struktur biaya operasional bank
- Tingkat persaingan di pasar perbankan
- Kondisi makroekonomi dan ekspektasi inflasi
- Kebijakan fiskal pemerintah
Tantangan ke Depan
Meski BI telah berupaya keras melalui berbagai kebijakan, tantangan utama tetap terletak pada bagaimana kebijakan itu bisa diterjemahkan secara efektif oleh bank-bank pelaku. Transmisi yang lambat bisa mengurangi efektivitas kebijakan moneter dan memperlambat pemulihan ekonomi.
Selain itu, dinamika global seperti ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas juga bisa memengaruhi ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya memaksa BI untuk bersikap hati-hati dalam menurunkan suku bunga lebih lanjut.
Penutup
Transmisi BI Rate yang tersendat bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan sinergi antara kebijakan moneter, perbankan, dan fiskal agar efek penurunan suku bunga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Sampai saat ini, bank masih menunggu sinyal yang lebih kuat sebelum benar-benar menurunkan bunga kredit secara signifikan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan kebijakan moneter dan kondisi ekonomi makro.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













