Pertumbuhan kredit modal kerja pada Februari 2026 masih tercatat melambat. Angka yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa penyaluran kredit modal kerja tumbuh 3,88% secara tahunan (yoy). Angka ini lebih rendah dibanding pertumbuhan di bulan Januari yang mencapai 4,13% (yoy) dan Desember 2025 sebesar 4,52% (yoy). Perlambatan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku usaha dalam mengembangkan bisnisnya di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan dari faktor makro eksternal.
Bank-bank besar seperti KB Bank dan BCA mencatatkan pertumbuhan kredit yang lesu. KB Bank, misalnya, hanya mencatat pertumbuhan kredit sebesar 3,23% (yoy) pada Februari 2026. Presiden Direktur KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyebut bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Iran serta pertumbuhan ekonomi domestik yang stagnan. Sementara itu, BCA mencatat pertumbuhan kredit sebesar 5,84% (yoy), sedikit lebih tinggi dari KB Bank, namun tetap lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.
Perlambatan Kredit Modal Kerja: Penyebab dan Dampaknya
1. Ketidakpastian Ekonomi Global
Salah satu faktor utama yang menyebabkan perlambatan kredit modal kerja adalah ketidakpastian ekonomi global. Konflik geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah seperti Iran, menciptakan tekanan pada pasar keuangan internasional. Hal ini membuat pelaku usaha lebih memilih menahan ekspansi bisnis hingga situasi lebih stabil.
2. Daya Beli Masyarakat yang Belum Pulih
Menurut Trioksa Siahaan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), daya beli masyarakat pada awal tahun ini belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Meski Ramadan telah tiba di pertengahan Februari, dampaknya terhadap peningkatan konsumsi belum terlalu terasa. Permintaan barang dan jasa yang rendah membuat pelaku usaha enggan menambah investasi atau ekspansi bisnis.
3. Kebijakan Kredit yang Lebih Selektif
Bank-bank saat ini lebih memilih menjaga portofolio kredit yang sehat dengan menerapkan pendekatan selektif. KB Bank, misalnya, memposisikan diri secara konservatif untuk mengantisipasi ketidakpastian makro ekonomi. Strategi ini memang bisa mengurangi risiko, tetapi juga memperlambat pertumbuhan penyaluran kredit.
Strategi Bank Menghadapi Perlambatan Kredit Modal Kerja
1. Menjaga Likuiditas dan Efisiensi Dana
Salah satu langkah yang diambil oleh sejumlah bank adalah menjaga likuiditas dan efisiensi biaya dana. Dengan mengelola dana secara efisien, bank bisa menekan suku bunga kredit yang ditawarkan kepada pelaku usaha. Hal ini diharapkan bisa meningkatkan minat pengajuan kredit, terutama untuk kebutuhan modal kerja.
2. Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas
KB Bank dan BCA lebih memilih fokus pada kualitas penyaluran kredit daripada mengejar target pertumbuhan yang tinggi. Dengan pendekatan ini, bank bisa meminimalkan risiko macet dan menjaga kesehatan portofolio kreditnya. Kunardy menyebut bahwa bank akan siap melakukan akselerasi jika indikator makroekonomi mulai membaik.
3. Menunggu Momentum Pemulihan Ekonomi
Bank juga menunggu momentum pemulihan ekonomi, baik dari dalam negeri maupun global. Jika daya beli masyarakat meningkat dan ketegangan geopolitik mereda, maka permintaan kredit modal kerja diperkirakan akan kembali bergairah. Trioksa optimistis bahwa kuartal kedua 2026 bisa menjadi titik balik yang lebih baik.
Perbandingan Pertumbuhan Kredit Modal Kerja Bulan ke Bulan
Berikut adalah data pertumbuhan kredit modal kerja dari bulan ke bulan berdasarkan data OJK:
| Bulan | Pertumbuhan Kredit Modal Kerja (yoy) |
|---|---|
| Desember 2025 | 4,52% |
| Januari 2026 | 4,13% |
| Februari 2026 | 3,88% |
Dari tabel di atas terlihat bahwa pertumbuhan kredit modal kerja mengalami tren penurunan. Angka ini menjadi indikator bahwa pelaku usaha masih menahan diri dalam melakukan ekspansi bisnis.
Harapan ke Depan: Kapan Kredit Modal Kerja Akan Bangkit?
Pemulihan kredit modal kerja sangat bergantung pada stabilitas ekonomi global dan peningkatan daya beli masyarakat domestik. Jika situasi geopolitik membaik dan inflasi terkendali, bank bisa mulai mengambil langkah lebih agresif dalam menyalurkan kredit. KB Bank dan BCA, misalnya, optimistis bisa mempercepat pertumbuhan kredit pada kuartal kedua 2026.
Namun, semua itu juga tergantung pada kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makro ekonomi. Intervensi BI yang terlalu sering bisa jadi hanya memberikan efek jangka pendek. Untuk itu, kolaborasi antara regulator dan pelaku industri keuangan sangat penting agar pertumbuhan kredit bisa kembali ke jalur yang sehat.
Kesimpulan
Pertumbuhan kredit modal kerja pada Februari 2026 memang masih melambat. Namun, ini bukan berarti kondisi tidak bisa membaik. Bank-bank besar seperti KB Bank dan BCA sudah menyiapkan strategi jitu untuk menghadapi situasi ini. Mereka tetap menjaga portofolio kredit yang sehat dan menunggu momentum yang tepat untuk kembali menyalurkan kredit secara lebih agresif.
Perlambatan saat ini lebih merupakan cerminan dari ketidakpastian global dan belum pulihnya daya beli masyarakat. Jika kedua faktor ini mulai membaik, kredit modal kerja pun bisa kembali tumbuh dengan lebih sehat dan berkelanjutan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro dan kebijakan regulator terkait.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













