Premi asuransi nasional menghadapi tekanan signifikan menjelang tahun 2026. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) mencatat beberapa tantangan utama yang bisa memengaruhi kinerja industri secara keseluruhan. Di antaranya adalah lesunya pasar properti dan kendaraan bermotor, serta daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.
Direktur Keuangan Tugure, Dradjat Irwansyah, menyampaikan bahwa kondisi ini diperparah oleh fenomena soft market yang tengah terjadi. Dalam kondisi seperti ini, persaingan harga di antara perusahaan asuransi menjadi sangat ketat. Tarif premi pun terdorong turun sebagai dampaknya.
Industri asuransi kini tidak hanya fokus pada peningkatan volume premi secara kuantitatif. Perhatian lebih besar dialihkan pada kualitas portofolio dan kesehatan risiko jangka panjang. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa perusahaan tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Tekanan pada Premi Asuransi di 2026
1. Lesunya Pasar Properti dan Kendaraan Bermotor
Pertumbuhan premi asuransi sangat dipengaruhi oleh aktivitas di sektor riil, khususnya properti dan otomotif. Namun, kedua sektor tersebut masih belum menunjukkan tanda pemulihan yang kuat. Pasar properti masih stagnan meski sudah ada insentif dari pemerintah.
Sementara itu, pasar otomotif juga belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Penjualan kendaraan baru yang rendah berimbas pada permintaan asuransi kendaraan bermotor yang ikut menyusut.
2. Penurunan Daya Beli Masyarakat
Daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya menjadi faktor utama yang menekan permintaan asuransi. Banyak konsumen memilih untuk menunda pengeluaran non-esensial, termasuk pembelian polis asuransi, karena terkendala oleh inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Hal ini membuat perusahaan asuransi harus lebih selektif dalam menawarkan produk. Strategi pemasaran pun harus lebih fokus pada edukasi dan nilai tambah agar menarik minat calon nasabah.
3. Dinamika Soft Market yang Mempengaruhi Tarif Premi
Soft market adalah kondisi di mana persaingan di industri sangat ketat, sehingga perusahaan cenderung menurunkan harga untuk menarik pelanggan. Di industri asuransi, kondisi ini menyebabkan penurunan tarif premi secara umum.
Akibatnya, meskipun volume premi bisa meningkat, pendapatan perusahaan belum tentu ikut naik. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan dalam menjaga kesehatan keuangan jangka panjang.
Strategi Jangka Panjang Tugure
1. Penguatan Portofolio dan Kualitas Risiko
Tugure mulai menggeser fokus dari pertumbuhan premi kuantitatif ke kualitas risiko. Artinya, bukan hanya jumlah premi yang diperhatikan, tetapi juga seberapa sehat risiko yang diambil. Langkah ini bertujuan untuk menjaga solvabilitas perusahaan di masa depan.
Dengan memperkuat portofolio, Tugure berharap bisa mempertahankan kepercayaan nasabah dan investor meski di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.
2. Memenuhi Regulasi Risk Based Capital (RBC)
Regulasi RBC menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas keuangan perusahaan asuransi. Tugure berkomitmen untuk memenuhi standar RBC yang ketat, sehingga angka solvabilitas tetap sehat dan sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Langkah ini juga menjadi bentuk antisipasi terhadap potensi risiko yang bisa muncul di masa depan, terutama dari sisi ekonomi makro dan pasar global.
3. Fokus pada Kesehatan Keuangan Jangka Panjang
Alih-alih mengejar pertumbuhan jangka pendek, Tugure lebih memilih membangun fondasi yang kuat untuk masa depan. Ini termasuk pengelolaan biaya operasional yang efisien dan diversifikasi portofolio risiko.
Strategi ini diharapkan bisa menjaga konsistensi kinerja meski di tengah tekanan premi dan daya beli yang lesu.
Kinerja Tugure di Tahun 2025
Tugure mencatat kinerja positif pada tahun 2025 meski berada di tengah tantangan. Pendapatan premi bruto mencapai Rp 2,67 triliun, naik 7,66% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,48 triliun.
| Tahun | Pendapatan Premi Bruto |
|---|---|
| 2024 | Rp 2,48 triliun |
| 2025 | Rp 2,67 triliun |
Peningkatan ini menunjukkan bahwa strategi yang diambil oleh Tugure mulai memberikan hasil. Meski demikian, tekanan dari pasar masih menjadi tantangan yang harus terus diwaspadai.
Tantangan Regulasi dan Pasar
1. Perubahan Aturan Tarif Asuransi Properti
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk segera merevisi aturan penyesuaian tarif premi asuransi properti. Hal ini penting karena tarif saat ini belum sepenuhnya mencerminkan risiko aktual di sektor properti.
Revisi ini diharapkan bisa memberikan kepastian hukum dan keadilan tarif bagi semua pihak, baik perusahaan asuransi maupun konsumen.
2. Penurunan Premi Asuransi Kendaraan
Data dari OJK mencatat bahwa premi asuransi kendaraan turun sebesar 5,01% per Oktober 2025. Penurunan ini disebabkan oleh lesunya penjualan kendaraan baru dan minimnya inovasi produk dari beberapa perusahaan asuransi.
Perusahaan-perusahaan asuransi perlu mulai memikirkan strategi baru untuk menarik minat konsumen, seperti menawarkan produk dengan manfaat tambahan atau fleksibilitas premi.
Kesimpulan
Industri asuransi nasional menghadapi tantangan besar menjelang tahun 2026. Tekanan premi, daya beli yang lesu, dan kondisi pasar properti yang belum pulih menjadi hambatan utama. Namun, Tugure menunjukkan ketahanan dengan fokus pada kualitas portofolio dan pemenuhan regulasi ketat.
Langkah strategis yang diambil bukan hanya untuk bertahan, tapi juga untuk membangun fondasi yang kuat di masa depan. Dengan begitu, perusahaan bisa tetap stabil meski di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat prediktif dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi ekonomi dan regulasi di masa mendatang.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













