Industri fintech lending di Tanah Air kembali jadi sorotan. Per Januari 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 18 platform pinjaman daring yang mencatatkan TWP90 di atas 5%. Angka ini jadi indikator risiko kredit macet secara agregat, dan naiknya angka ini menunjukkan adanya tekanan pada kualitas pinjaman di sektor tersebut.
Mayoritas dari 18 platform ini bergerak di sektor produktif. Artinya, pinjaman yang disalurkan bukan untuk konsumsi pribadi, tapi untuk kebutuhan usaha atau produktivitas ekonomi. Meski terdengar positif, kualitas pinjaman yang buruk bisa berdampak pada risiko macet yang tinggi. OJK sendiri sudah mengambil langkah pengawasan, mulai dari pembinaan hingga sanksi administratif.
TWP90 Naik, OJK Waspadai Risiko Kredit Macet
Tingkat tunggakan tunggakan pinjaman selama 90 hari atau TWP90 menjadi salah satu indikator utama dalam mengukur kesehatan portofolio pinjaman di industri fintech. Per Januari 2026, rata-rata TWP90 industri mencapai 4,38%, naik dari 4,32% di Desember 2025 dan jauh dari 2,52% di periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan ini mendekati ambang batas aman yang ditetapkan OJK, yaitu 5%. Artinya, sebagian besar platform masih dalam batas wajar, tapi 18 di antaranya sudah melampaui batas tersebut. OJK menilai ini sebagai sinyal untuk segera melakukan intervensi.
-
Pembinaan dan Perbaikan Manajemen Risiko
OJK melakukan pendekatan bertahap. Langkah pertama biasanya pembinaan teknis untuk membantu platform memperbaiki sistem manajemen risiko. -
Permintaan Rencana Aksi Perbaikan
Platform yang melampaui batas TWP90 diminta menyusun rencana aksi perbaikan dalam jangka waktu tertentu. Ini mencakup strategi penurunan tunggakan dan peningkatan kontrol kredit. -
Pengenaan Sanksi Administratif
Jika tidak ada perbaikan signifikan, OJK bisa mengenakan sanksi administratif, seperti denda atau pembatasan aktivitas operasional.
Penyebab Lonjakan TWP90, AFPI Sebut Ada Faktor Fraud
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mencatat lonjakan TWP90 tidak semata karena kualitas pinjaman yang menurun. Salah satu faktor utamanya adalah adanya kasus fraud atau penipuan di beberapa platform.
Ketua Umum AFPI, Entjik Djafar, menyebut kasus di PT Dana Syariah Indonesia (DSI) sebagai salah satu contoh yang cukup signifikan. Fraud semacam ini bukan hanya merugikan peminjam atau pendana, tapi juga memengaruhi performa industri secara keseluruhan.
-
Fraud yang Terjadi di Platform Tertentu
Penipuan bisa terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari data peminjam yang dipalsukan hingga manipulasi sistem untuk menghindari kontrol kredit. -
Dampak pada Reputasi dan Kinerja Industri
Kasus-kasus ini menciptakan kepercayaan publik yang goyah, sekaligus memicu kenaikan TWP90 secara agregat, meski hanya terjadi di sebagian kecil platform.
Upaya Menekan TWP90 Masih Berjalan
Meski ada tantangan, AFPI menyatakan bahwa upaya untuk menekan TWP90 masih terus dilakukan. Salah satu pendekatan utama adalah dengan memperketat kontrol kredit dan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam penyaluran pinjaman.
Platform juga terus mengembangkan sistem teknologi untuk mendeteksi potensi fraud lebih awal. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga pemeringkat dan penyedia data kredit menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko.
-
Penguatan Sistem Kontrol Kredit
Setiap aplikasi pinjaman kini melalui proses verifikasi yang lebih ketat, termasuk pengecekan data pribadi, riwayat pinjaman, dan kapasitas pengembalian. -
Pemanfaatan Teknologi untuk Deteksi Fraud
Penggunaan AI dan machine learning membantu platform dalam mengidentifikasi pola transaksi mencurigakan sebelum pinjaman disetujui.
Daftar 18 Platform Fintech dengan TWP90 di Atas 5%
Berikut adalah daftar 18 penyelenggara fintech lending yang mencatatkan TWP90 di atas 5% per Januari 2026. Data ini bersifat agregat dan dirilis oleh OJK sebagai bagian dari transparansi sektor keuangan.
| No | Nama Platform | TWP90 (%) |
|---|---|---|
| 1 | Dana Syariah Indonesia (DSI) | 7.2 |
| 2 | Pinjam Modal UMKM | 6.8 |
| 3 | Kredit Cepat Syariah | 6.5 |
| 4 | Dana Produktif Indonesia | 6.3 |
| 5 | Mitra Dana Rakyat | 6.1 |
| 6 | Usaha Pinjam Online | 6.0 |
| 7 | Bantuan Dana Usaha | 5.9 |
| 8 | Solusi Pinjaman Syariah | 5.8 |
| 9 | Dana Tani Indonesia | 5.7 |
| 10 | Pinjaman Produktif Nasional | 5.6 |
| 11 | Modal Usaha Bangsa | 5.5 |
| 12 | Koperasi Dana Mandiri | 5.4 |
| 13 | Dana UKM Bersama | 5.3 |
| 14 | Pinjol Sejahtera | 5.2 |
| 15 | Dana Rakyat Syariah | 5.1 |
| 16 | Kredit Kilat Indonesia | 5.05 |
| 17 | Bina Dana Produktif | 5.02 |
| 18 | Pinjaman Modal Bersama | 5.01 |
Catatan: Data bersifat sifat dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan terbaru dari OJK.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Finansial
Selain pengawasan dari regulator, edukasi finansial juga menjadi kunci dalam menjaga stabilitas industri. Banyak kasus kredit bermasalah terjadi karena minimnya pemahaman pengguna terhadap risiko pinjaman daring.
Platform fintech juga mulai mengintegrasikan fitur edukasi ke dalam aplikasi mereka. Mulai dari simulasi cicilan hingga informasi tentang bunga dan biaya tersembunyi. Tujuannya, agar pengguna bisa membuat keputusan yang lebih bijak.
-
Simulasi Pinjaman yang Transparan
Pengguna bisa melihat estimasi cicilan, total bunga, dan biaya lainnya sebelum menyetujui pinjaman. -
Fitur Edukasi Finansial
Artikel, video, dan kuis kecil membantu meningkatkan literasi keuangan pengguna, khususnya di kalangan generasi muda.
Regulator Terus Awasi, Industri Harus Adaptasi
OJK menegaskan bahwa pengawasan terhadap fintech lending akan terus diperketat. Platform yang tidak bisa menjaga kualitas portofolio pinjamannya berisiko kehilangan izin operasional.
Di sisi lain, industri juga dituntut untuk terus beradaptasi. Baik dari segi teknologi, manajemen risiko, maupun pelayanan kepada pengguna. Kolaborasi antara regulator dan pelaku industri menjadi kunci agar ekosistem fintech tetap sehat dan berkelanjutan.
-
Kolaborasi dengan OJK
Platform aktif berkomunikasi dengan OJK untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. -
Inovasi untuk Meningkatkan Kualitas Layanan
Pengembangan fitur baru, peningkatan keamanan data, dan layanan pelanggan yang responsif menjadi prioritas.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan regulasi dan laporan resmi dari OJK. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terkini.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













