Konektivitas sistem pembayaran lintas negara antara Indonesia dan China kini memasuki babak baru yang lebih praktis. Bank Indonesia bersama People’s Bank of China resmi meluncurkan implementasi QRIS antarnegara, sebuah langkah strategis untuk mempermudah transaksi keuangan bagi wisatawan maupun pelaku bisnis di kedua negara.
Inisiatif ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan upaya nyata untuk memperkuat penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Dengan nilai transaksi LCT yang telah menembus angka US$ 18 miliar, kolaborasi ini diproyeksikan mampu menekan risiko volatilitas nilai tukar sekaligus meningkatkan efisiensi perdagangan bilateral.
Mengapa QRIS Antarnegara Menjadi Game Changer
Kehadiran QRIS di China memberikan kemudahan akses bagi masyarakat Indonesia yang sedang bepergian ke Negeri Tirai Bambu, begitu pula sebaliknya bagi warga China yang berkunjung ke Indonesia. Pengguna tidak perlu lagi direpotkan dengan penukaran uang tunai secara fisik, karena sistem pembayaran digital kini telah terintegrasi sesuai standar QRIS yang berlaku.
Langkah ini didukung penuh oleh berbagai pihak, mulai dari Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) hingga institusi perbankan di kedua negara. Fokus utamanya adalah menciptakan ekosistem pembayaran yang inklusif, cepat, dan efisien bagi seluruh lapisan masyarakat.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait performa transaksi digital nasional hingga kuartal I-2026:
- Volume transaksi pembayaran digital nasional mencapai 14,82 miliar transaksi dengan pertumbuhan 37,69% secara tahunan.
- Pertumbuhan transaksi QRIS tercatat sangat impresif, yakni mencapai 116,43% secara tahunan.
- Sejak diluncurkan pada 2020, QRIS telah merangkul 61,7 juta pengguna dan 44 juta merchant di seluruh Indonesia.
- Total nilai transaksi QRIS sejak awal peluncuran hingga triwulan I-2026 telah menyentuh angka Rp 2.970 triliun.
Untuk memahami bagaimana perbandingan transaksi lintas negara yang terjadi pada awal tahun 2026, berikut adalah rincian datanya:
| Jenis Transaksi | Volume Transaksi | Nilai Nominal |
|---|---|---|
| QRIS Inbound (Wisatawan Asing) | 2,79 Juta | Rp 713,59 Miliar |
| QRIS Outbound (Masyarakat RI) | 737.647 | Rp 249,26 Miliar |
Catatan: Data di atas merupakan akumulasi transaksi pada kuartal I-2026 dan dapat mengalami perubahan seiring dengan perkembangan adopsi teknologi di lapangan.
Tantangan dan Masa Depan Integrasi QRIS
Meskipun peluncuran ini menjadi angin segar bagi sektor ekonomi, proses integrasi di lapangan masih menghadapi beberapa tantangan teknis. Saat ini, jangkauan QRIS di China masih dalam tahap pengembangan agar bisa mencakup lebih banyak platform pembayaran populer.
Pihak otoritas sistem pembayaran terus berupaya melakukan sinkronisasi teknologi agar penggunaan QRIS dapat merata di seluruh merchant di China. Berikut adalah tahapan pengembangan yang sedang diupayakan oleh para pemangku kepentingan:
- Integrasi sistem pembayaran dengan UnionPay dan Alipay sebagai langkah awal.
- Perluasan kerja sama dengan penyedia layanan pembayaran lain seperti WeChat Pay dan MPC.
- Peningkatan infrastruktur teknologi untuk memastikan interkoneksi yang stabil antara sistem perbankan kedua negara.
- Perluasan jangkauan layanan dari skala ritel menuju segmen bisnis dan korporasi.
Transisi menuju sistem pembayaran digital yang sepenuhnya terintegrasi ini memang memerlukan waktu, terutama karena adanya perbedaan infrastruktur teknologi antarnegara. Namun, komitmen dari pemerintah China dan Indonesia menjadi modal kuat untuk mempercepat proses tersebut.
Ke depannya, perluasan cakupan QRIS tidak hanya ditujukan bagi wisatawan, tetapi juga diharapkan dapat memfasilitasi transaksi bisnis yang lebih besar. Dengan semakin banyaknya bank dan institusi pembayaran yang terlibat, efisiensi transaksi lintas negara dipastikan akan meningkat secara signifikan.
Masyarakat kini bisa lebih leluasa bertransaksi tanpa harus membawa banyak uang tunai saat berada di luar negeri. Kemudahan ini menjadi bukti nyata bahwa digitalisasi keuangan terus berkembang untuk menjawab kebutuhan mobilitas global yang semakin dinamis.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini didasarkan pada data resmi yang tersedia hingga periode Mei 2026. Kebijakan sistem pembayaran, nilai transaksi, dan cakupan merchant dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan regulasi otoritas terkait dan perkembangan teknologi sistem pembayaran di Indonesia maupun China.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













