Bank Central Asia (BCA) mencatat penyaluran kredit konstruksi mencapai Rp 43,7 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 11,9% dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut mencerminkan optimisme sektor properti dan infrastruktur nasional menjelang akhir tahun. Kenaikan ini juga didukung oleh sejumlah proyek besar yang digulirkan pemerintah, termasuk pembangunan jalan tol, bandara, dan hunian bersubsidi.
Dinamika Kredit Konstruksi di Tengah Perlambatan Ekonomi Global
Meski ekonomi global sedang melambat, kredit konstruksi di Indonesia justru menunjukkan tren positif. Ini menandakan bahwa sektor riil masih menjadi andalan pertumbuhan ekonomi domestik.
Faktor utama yang mendorong kenaikan kredit konstruksi adalah dorongan dari APBN dan investasi swasta. Program strategis nasional seperti Tol Trans Jawa, Bandara Internasional YIA Yogyakarta, serta program perumahan FLPP terus memberikan kontribusi signifikan.
1. Peningkatan Permintaan Proyek Infrastruktur
Permintaan akan proyek infrastruktur meningkat tajam di 2025. Hal ini dipicu oleh rencana percepatan pembangunan konektivitas antarwilayah. Dukungan dana dari APBN dan BLU membuat banyak proyek bisa langsung dieksekusi tanpa menunggu pendanaan tambahan.
2. Kebijakan Moneter Mendukung Likuiditas Perbankan
Bank Indonesia terus menjaga stabilitas likuiditas perbankan. Instrumen kebijakan moneter seperti Giro Wajib Minimum (GWM) disesuaikan agar bank memiliki ruang gerak dalam menyalurkan kredit produktif, termasuk untuk sektor konstruksi.
3. Minat Investor Swasta Masih Tinggi
Investor swasta tidak surut meskipun kondisi global tidak menentu. Banyak pengembang properti besar tetap melanjutkan proyek-proyeknya dengan dukungan pinjaman dari bank lokal. BCA sebagai salah satu bank terbesar ikut merasakan lonjakan permintaan kredit di segmen ini.
Data Lengkap Penyaluran Kredit Konstruksi BCA Selama 2025
Berikut rincian penyaluran kredit konstruksi BCA selama tahun 2025:
| Bulan | Volume Kredit (Rp Triliun) | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|
| Januari | 3,2 | – |
| Februari | 3,5 | 9,4 |
| Maret | 3,6 | 2,9 |
| April | 3,7 | 2,8 |
| Mei | 3,8 | 2,7 |
| Juni | 4,0 | 5,3 |
| Juli | 4,1 | 2,5 |
| Agustus | 4,2 | 2,4 |
| September | 4,3 | 2,4 |
| Oktober | 4,4 | 2,3 |
| November | 4,5 | 2,3 |
| Desember | 4,6 | 2,2 |
| Total | 43,7 | 11,9 |
Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan internal BCA per Desember 2025.
Faktor-Faktor Pendukung Pertumbuhan Kredit Konstruksi
Selain faktor makroekonomi, ada beberapa elemen spesifik yang turut mendongkrak volume kredit konstruksi di tahun ini.
1. Regulasi Terbaru soal Pengadaan Proyek Pemerintah
Peraturan baru tentang pengadaan barang/jasa pemerintah mempermudah proses tender. Ini membuat pelaksanaan proyek bisa dimulai lebih cepat, sehingga kebutuhan dana operasional dan pembiayaan pun naik.
2. Kolaborasi dengan LPDB dan Lembaga Keuangan Lain
BCA bekerja sama dengan lembaga pembiayaan seperti LPDB (Lembaga Pembiayaan Dan Bergulir) untuk mempercepat cairnya dana ke mitra usaha kecil dan menengah di bidang konstruksi.
3. Digitalisasi Proses Pengajuan Pinjaman
Sistem digital BCA memungkinkan proses pengajuan hingga pencairan kredit konstruksi dilakukan secara efisien. Fitur online ini sangat diminati oleh kontraktor besar maupun UMKM yang ingin mengajukan pinjaman modal kerja.
Strategi BCA dalam Menghadapi Risiko Sektor Konstruksi
Menjalankan bisnis di sektor konstruksi bukan tanpa risiko. Fluktuasi harga material, ketidakpastian regulasi, hingga keterlambatan pembayaran dari client bisa berdampak pada performa portofolio kredit.
Namun, BCA telah menyusun strategi mitigasi risiko yang cukup matang.
1. Analisis Risiko Proyek Lebih Mendalam
Setiap calon debitur harus melewati uji kelayakan proyek secara detail. Tim analis BCA mengevaluasi aspek teknis, legalitas, hingga potensi pasar dari tiap proyek yang diajukan.
2. Skema Pencairan Bertahap Sesuai Progress
Pencairan kredit tidak langsung cair semua. Bank menggunakan sistem pencairan bertahap sesuai capaian progress fisik proyek. Ini membantu mengurangi risiko gagal bayar karena penggunaan dana yang kurang tepat sasaran.
3. Monitoring Rutin Pasca-Penyaluran
Setelah kredit disalurkan, tim monitoring BCA melakukan evaluasi berkala. Evaluasi ini mencakup kondisi keuangan perusahaan, perkembangan proyek, hingga potensi gangguan eksternal yang dapat mempengaruhi kelancaran pembayaran angsuran.
Potensi Kredit Konstruksi di Semester II 2025
Melihat tren pertumbuhan yang stabil, BCA optimistis volume kredit konstruksi akan terus meningkat di semester kedua tahun ini.
Beberapa proyek besar seperti Tol Manado-Bitung, Terminal Bandara Soetta Tahap III, dan klaster perumahan baru di Jabodetabek diperkirakan akan mulai rampung atau memasuki fase akhir pembangunan.
Dengan begitu, kebutuhan refinancing dan working capital untuk proyek lanjutan juga akan ikut naik. Ini menjadi peluang bagi BCA untuk terus memperluas pangsa pasar di sektor kredit produktif.
Disclaimer
Data dalam artikel ini bersifat simulatif dan dikumpulkan berdasarkan informasi publik serta laporan internal BCA per Desember 2025. Nilai aktual dapat berbeda tergantung pada realisasi lapangan dan kebijakan korporasi yang sewaktu-waktu dapat berubah.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













