Perbankan digital kian agresif menyalurkan kredit melalui skema channeling. Skema ini memungkinkan bank menjangkau lebih banyak nasabah lewat mitra perantara, tanpa harus memiliki jaringan cabang yang luas. Dengan pertumbuhan digital yang pesat, skema ini jadi andalan utama bagi sejumlah bank digital dalam mempercepat penyaluran kredit.
Skema channeling sendiri adalah penyaluran kredit yang dilakukan lewat pihak ketiga, seperti perusahaan fintech atau lembaga keuangan lainnya. Bank tetap menjadi sumber dana utama, tapi proses pengajuan dan pencairan dilakukan oleh mitra channeling. Model ini memungkinkan bank digital menjangkau pasar yang lebih luas, terutama di segmen UMKM dan individu yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan konvensional.
Dinamika Skema Channeling di Sektor Perbankan
Perbankan digital memanfaatkan channeling untuk memperluas jangkauan kredit karena model bisnis mereka umumnya belum memiliki basis nasabah yang besar. Dengan skema ini, mereka bisa menyalurkan kredit lebih cepat dan efisien. Sebaliknya, bank konvensional besar cenderung lebih selektif dan fokus pada kredit langsung.
Trioksa Siahaan, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, menyebut bahwa bank digital lebih aktif menggunakan channeling karena skema ini sesuai dengan kapabilitas mereka saat ini. Bank besar, dengan jaringan dan sumber daya yang lebih lengkap, lebih memilih menyalurkan kredit secara langsung.
1. Pertumbuhan Kredit Channeling di Bank Digital
Bank digital seperti Krom Bank mencatatkan pertumbuhan kredit channeling yang signifikan. Pada Februari 2026, penyaluran kredit melalui channeling mencapai Rp 8,73 triliun, naik 119% secara tahunan dari Rp 3,98 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa channeling menjadi tulang punggung penyaluran kredit di bank digital.
2. Mitra Channeling yang Digunakan
Krom Bank bekerja sama dengan dua mitra utama, yaitu PT FinAccel Finance Indonesia (Kredivo) dan PT FinAccel Digital Indonesia (KrediFazz). Kemitraan ini memungkinkan Krom Bank menjangkau lebih banyak nasabah tanpa harus membangun infrastruktur dari nol. Selain itu, bank ini juga terus mencari mitra baru untuk memperluas jaringan channeling.
3. Strategi Bank Konvensional yang Berbeda
Berbeda dengan bank digital, sejumlah bank konvensional seperti CIMB Niaga justru mulai mengurangi ketergantungan pada skema channeling. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa banknya saat ini lebih fokus pada penyaluran kredit dengan jaminan (secured loan). Menurutnya, channeling tidak lagi menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama untuk produk unsecured loan.
Meski begitu, CIMB Niaga tidak menutup kemungkinan kembali mengembangkan channeling jika kondisi ekonomi membaik. Bank ini masih menjaga hubungan dengan mitra seperti Kredivo dan SPay, meski tidak menjadikannya sebagai fokus utama.
Perbandingan Pendekatan Bank Digital dan Konvensional
| Kriteria | Bank Digital | Bank Konvensional |
|---|---|---|
| Fokus Penyaluran | Channeling | Kredit Langsung |
| Pertumbuhan Kredit Channeling | Tinggi | Rendah hingga stagnan |
| Mitra Channeling | Banyak dan aktif | Terbatas, selektif |
| Jenis Kredit | Unsecured dan secured | Lebih banyak secured |
| Basis Nasabah | Terbatas, butuh mitra | Luas, cabang tersebar |
Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa skema channeling masih relevan dan efektif untuk bank digital yang sedang memperluas jaringan. Sementara bank konvensional lebih memilih mengandalkan sistem internal dan jaringan cabang yang sudah mapan.
Risiko dan Tantangan Skema Channeling
Meski efektif untuk ekspansi cepat, skema channeling juga membawa sejumlah risiko. Salah satunya adalah risiko kualitas mitra. Bank harus selektif dalam memilih mitra agar tidak terjerat dengan kredit macet yang berasal dari channeling.
1. Kualitas Mitra yang Tidak Konsisten
Bank perlu melakukan due diligence yang ketat terhadap mitra channeling. Jika mitra tidak memiliki sistem penilaian risiko yang baik, maka potensi kredit bermasalah akan meningkat. Ini menjadi tantangan utama bagi bank digital yang sedang memperluas jaringan mitra.
2. Ketidakpastian Ekonomi
Kondisi ekonomi domestik yang belum stabil juga membuat bank konvensional lebih hati-hati dalam mengembangkan skema channeling. Bank besar cenderung lebih fokus pada mitigasi risiko daripada ekspansi agresif.
3. Regulasi yang Ketat
Otoritas pengawas perbankan semakin memperketat pengawasan terhadap skema channeling. Bank harus memastikan bahwa mitra mereka memenuhi standar regulasi yang berlaku. Jika tidak, bank bisa terkena sanksi atau reputasi terganggu.
Kesimpulan
Skema channeling tetap menjadi pilihan utama bagi bank digital dalam menyalurkan kredit. Dengan pertumbuhan yang pesat dan jaringan mitra yang luas, bank digital bisa menjangkau lebih banyak nasabah tanpa harus membangun infrastruktur dari nol. Namun, bank konvensional lebih memilih fokus pada kredit langsung karena dianggap lebih aman dan terkendali.
Meski begitu, skema ini bukan tanpa risiko. Bank harus selektif dalam memilih mitra dan terus memantau kualitas kredit yang disalurkan. Dengan pengelolaan yang baik, skema channeling bisa terus menjadi andalan penyaluran kredit di masa depan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Maret 2026. Angka dan kondisi bisa berubah seiring perkembangan ekonomi dan regulasi.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













