Finansial

Bank Digital Terus Andalkan Kredit Skema Channeling untuk Pertumbuhan Bisnis

Fadhly Ramadan
×

Bank Digital Terus Andalkan Kredit Skema Channeling untuk Pertumbuhan Bisnis

Sebarkan artikel ini
Bank Digital Terus Andalkan Kredit Skema Channeling untuk Pertumbuhan Bisnis

kian agresif menyalurkan kredit melalui skema channeling. Skema ini memungkinkan bank menjangkau lebih banyak nasabah lewat mitra perantara, tanpa harus memiliki jaringan cabang yang luas. Dengan pertumbuhan digital yang pesat, skema ini jadi andalan utama bagi sejumlah bank digital dalam mempercepat penyaluran kredit.

Skema channeling sendiri adalah penyaluran kredit yang dilakukan lewat pihak ketiga, seperti perusahaan fintech atau lembaga lainnya. Bank tetap menjadi sumber utama, tapi proses pengajuan dan pencairan dilakukan oleh mitra channeling. Model ini memungkinkan bank digital menjangkau pasar yang lebih luas, terutama di segmen UMKM dan individu yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan konvensional.

Dinamika Skema Channeling di Sektor Perbankan

Perbankan digital memanfaatkan channeling untuk memperluas jangkauan kredit karena model mereka umumnya belum memiliki basis nasabah yang besar. Dengan skema ini, mereka bisa menyalurkan kredit lebih cepat dan efisien. Sebaliknya, bank konvensional besar cenderung lebih selektif dan fokus pada kredit langsung.

Trioksa Siahaan, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, menyebut bahwa bank digital lebih aktif menggunakan channeling karena skema ini sesuai dengan kapabilitas mereka saat ini. Bank besar, dengan jaringan dan sumber yang lebih lengkap, lebih memilih menyalurkan kredit secara langsung.

1. Pertumbuhan Kredit Channeling di Bank Digital

Bank digital seperti Krom Bank mencatatkan pertumbuhan kredit channeling yang signifikan. Pada , penyaluran kredit melalui channeling mencapai Rp 8,73 triliun, naik 119% secara tahunan dari Rp 3,98 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa channeling menjadi tulang punggung penyaluran kredit di bank digital.

2. Mitra Channeling yang Digunakan

Krom Bank bekerja sama dengan dua mitra utama, yaitu PT FinAccel Finance Indonesia (Kredivo) dan PT FinAccel Digital Indonesia (KrediFazz). Kemitraan ini memungkinkan Krom Bank menjangkau lebih banyak nasabah tanpa harus membangun infrastruktur dari nol. Selain itu, bank ini juga terus mencari mitra baru untuk memperluas jaringan channeling.

3. Strategi Bank Konvensional yang Berbeda

Berbeda dengan bank digital, sejumlah bank konvensional seperti CIMB Niaga justru mulai mengurangi ketergantungan pada skema channeling. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa banknya saat ini lebih fokus pada penyaluran kredit dengan jaminan (secured loan). Menurutnya, channeling tidak lagi menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama untuk produk unsecured loan.

Meski begitu, CIMB Niaga tidak menutup kemungkinan kembali mengembangkan channeling jika kondisi ekonomi membaik. Bank ini masih menjaga hubungan dengan mitra seperti Kredivo dan SPay, meski tidak menjadikannya sebagai fokus utama.

Perbandingan Pendekatan Bank Digital dan Konvensional

Kriteria Bank Digital Bank Konvensional
Fokus Penyaluran Channeling Kredit Langsung
Pertumbuhan Kredit Channeling Tinggi Rendah hingga stagnan
Mitra Channeling Banyak dan aktif Terbatas, selektif
Jenis Kredit Unsecured dan secured Lebih banyak secured
Basis Nasabah Terbatas, butuh mitra Luas, cabang tersebar

Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa skema channeling masih relevan dan efektif untuk bank digital yang sedang memperluas jaringan. Sementara bank konvensional lebih memilih mengandalkan sistem internal dan jaringan cabang yang sudah mapan.

Risiko dan Tantangan Skema Channeling

Meski efektif untuk ekspansi cepat, skema channeling juga membawa sejumlah risiko. Salah satunya adalah risiko kualitas mitra. Bank harus selektif dalam memilih mitra agar tidak terjerat dengan kredit macet yang berasal dari channeling.

1. Kualitas Mitra yang Tidak Konsisten

Bank perlu melakukan due diligence yang ketat terhadap mitra channeling. Jika mitra tidak memiliki sistem penilaian risiko yang baik, maka kredit bermasalah akan meningkat. Ini menjadi tantangan utama bagi bank digital yang sedang memperluas jaringan mitra.

2. Ketidakpastian Ekonomi

Kondisi ekonomi domestik yang belum stabil juga membuat bank konvensional lebih hati-hati dalam mengembangkan skema channeling. Bank besar cenderung lebih fokus pada mitigasi risiko daripada ekspansi agresif.

3. Regulasi yang Ketat

Otoritas pengawas perbankan semakin memperketat pengawasan terhadap skema channeling. Bank harus memastikan bahwa mitra mereka memenuhi standar regulasi yang berlaku. Jika tidak, bank bisa terkena atau reputasi terganggu.

Kesimpulan

Skema channeling tetap menjadi pilihan utama bagi bank digital dalam menyalurkan kredit. Dengan pertumbuhan yang pesat dan jaringan mitra yang luas, bank digital bisa menjangkau lebih banyak nasabah tanpa harus membangun infrastruktur dari nol. Namun, bank konvensional lebih memilih fokus pada kredit langsung karena dianggap lebih aman dan terkendali.

Meski begitu, skema ini bukan tanpa risiko. Bank harus selektif dalam memilih mitra dan terus memantau yang disalurkan. Dengan pengelolaan yang baik, skema channeling bisa terus menjadi andalan penyaluran kredit di .

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Maret 2026. Angka dan kondisi bisa berubah seiring perkembangan ekonomi dan regulasi.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.