Bank Tabungan Negara (BTN) mulai memetik hasil dari kinerja keuangan yang solid di tahun 2025. Salah satu bukti nyata adalah rencana pembagian dividen yang bakal naik di tahun buku mendatang. Kabar ini datang langsung dari Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu, yang memberi bocoran terkait agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026.
Rencana RUPST sendiri dijadwalkan digelar pada 23 April 2026. Agenda utamanya mencakup pembahasan penggunaan laba bersih tahun 2025, termasuk peningkatan rasio pembayaran dividen. Tak hanya itu, ada sejumlah poin penting lainnya yang bakal dibahas, mulai dari laporan pertanggungjawaban dewan komisaris hingga perubahan susunan pengurus.
Rencana Dividen BTN Naik Jadi 30% dari Laba Bersih
Salah satu sorotan utama dari rencana RUPST 2026 adalah peningkatan Dividend Payout Ratio (DPR) dari 25% menjadi 30%. Artinya, dari laba bersih yang diraih BTN di tahun 2025, sekitar 30% bakal dialokasikan sebagai dividen untuk pemegang saham.
Laba bersih BTN di akhir 2025 mencapai Rp 3,5 triliun, naik 16,4% year-on-year. Dengan DPR 30%, total dana yang bakal dibagikan sebagai dividen diperkirakan mencapai Rp 1,05 triliun. Angka ini cukup menjanjikan, terutama bagi investor yang menunggu return dari investasi mereka di saham BTN.
Nixon Napitupulu menjelaskan bahwa kenaikan DPR ini tidak dilakukan sembarangan. Langkah ini sejalan dengan target peningkatan Return on Equity (ROE) BTN yang ditetapkan di kisaran 14%, naik 2% dari tahun sebelumnya. Dengan ROE yang lebih tinggi, diharapkan daya tarik saham BTN juga semakin meningkat di mata investor.
Rangkaian Agenda RUPST 2026
Selain pembahasan dividen, RUPST 2026 juga bakal membahas sejumlah agenda penting lainnya. Berikut adalah poin-poin utama yang masuk dalam agenda rapat tahunan tersebut:
1. Laporan Pertanggungjawaban Dewan Komisaris dan Direksi
Laporan ini mencerminkan kinerja manajemen dalam menjalankan operasional perusahaan selama tahun buku 2025. Termasuk di dalamnya pencapaian target bisnis, tantangan yang dihadapi, serta strategi ke depan.
2. Remunerasi Pengurus
RUPST juga bakal membahas besaran tunjangan dan kompensasi yang diterima oleh dewan komisaris dan direksi. Penetapan ini mengacu pada kinerja tahun lalu serta kepatuhan terhadap regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
3. Penggunaan Laba Bersih
Selain dividen, laba bersih lainnya bakal dialokasikan untuk penguatan modal inti, investasi strategis, serta cadangan perusahaan. Ini penting untuk menjaga stabilitas keuangan jangka panjang BTN.
4. Perubahan Anggaran Dasar Terkait Danantara
Salah satu agenda tambahan adalah perubahan anggaran dasar perusahaan yang berkaitan dengan keberadaan Danantara sebagai pemegang saham seri A. Ini menunjukkan komitmen BTN dalam mengembangkan bisnis holding keuangan.
5. Laporan Penggunaan Obligasi
BTN juga bakal melaporkan penggunaan dana hasil penerbitan obligasi. Dana ini umumnya digunakan untuk pendanaan kredit, ekspansi bisnis, atau refinancing utang jatuh tempo.
6. Perubahan Susunan Pengurus
Beberapa posisi dalam dewan komisaris dan direksi bakal berganti karena masa jabatan yang telah habis. RUPST akan mengesahkan susunan pengurus baru yang bakal memimpin BTN ke tahap selanjutnya.
Target Kinerja BTN di Tahun 2026
Tak hanya soal pembagian dividen, BTN juga punya target kinerja yang ambisius di tahun 2026. Salah satunya adalah pertumbuhan kredit yang ditargetkan mencapai dua digit. Ini menunjukkan bahwa BTN optimistis dengan pemulihan ekonomi nasional serta peningkatan aktivitas usaha masyarakat.
BTN juga berencana menyalurkan kredit sebesar Rp 4,5 triliun untuk mendukung ekspansi bisnis holding Danareksa. Langkah ini sejalan dengan strategi diversifikasi pendapatan dan penguatan posisi di sektor keuangan non-bank.
Perbandingan Dividen BTN dengan Bank BUMN Lain
Untuk memberi gambaran lebih jelas, berikut adalah perbandingan rencana dividen BTN dengan beberapa bank BUMN lainnya di tahun 2026:
| Bank | DPR (Dividend Payout Ratio) | Estimasi Dividen (Rp) | Laba Bersih (Rp) |
|---|---|---|---|
| BTN | 30% | 1,05 triliun | 3,5 triliun |
| BRI | 25% | 20,6 triliun (interim) | 82,4 triliun |
| Mandiri | 27% | – | – |
| BNI | 25% | – | – |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung keputusan RUPST masing-masing bank.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat prediktif dan mengacu pada rencana serta target yang disampaikan pihak manajemen BTN. Angka-angka seperti laba bersih, dividen, dan target kinerja masih bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung pada kondisi makro ekonomi serta keputusan resmi dalam RUPST 2026 mendatang.
Investasi pada saham selalu memiliki risiko. Sebelum membuat keputusan, sebaiknya pelajari lebih lanjut kondisi keuangan emiten dan konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













