PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung transisi energi di Tanah Air. Tercatat sebagai salah satu lembaga pembiayaan pembangunan strategis, SMI menyiapkan anggaran besar untuk proyek energi baru dan terbarukan (EBT) pada tahun 2026. Jumlahnya mencapai Rp 33,10 triliun, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 30,98 triliun.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang SMI dalam mendukung target netralitas karbon nasional. Tidak hanya itu, porsi pembiayaan untuk proyek berbasis batu bara terus dikurangi. Pada 2026, anggaran untuk energi fosil hanya Rp 14,30 triliun, turun drastis dibanding dua tahun berikutnya yang hanya Rp 2,80 triliun.
Rencana Pembiayaan EBT SMI Sampai 2028
SMI tidak hanya berbicara komitmen, tapi juga menunjukkannya lewat angka-angka konkret. Dalam tiga tahun ke depan, porsi pembiayaan EBT terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar isu lingkungan, tapi juga menjadi prioritas bisnis.
1. Pembiayaan EBT pada 2026
Pada tahun 2026, SMI menyiapkan dana sebesar Rp 33,10 triliun untuk proyek-proyek energi baru dan terbarukan. Angka ini merupakan peningkatan dari tahun 2025 yang sebesar Rp 30,98 triliun. Fokusnya terbagi dalam berbagai bentuk, seperti pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan mikrohidro.
2. Rencana Pendanaan 2027
Tahun berikutnya, 2027, SMI menaikkan anggaran menjadi Rp 40 triliun. Ini menunjukkan bahwa percepatan transisi energi terus berjalan. Dana ini akan digunakan untuk proyek-proyek baru serta pengembangan infrastruktur pendukung energi bersih.
3. Target Pendanaan 2028
Pada 2028, jumlahnya naik lagi menjadi Rp 48,80 triliun. Ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang SMI untuk menjadi lembaga pembiayaan hijau yang andal. Dengan angka ini, SMI berharap dapat mempercepat pencapaian target energi terbarukan nasional.
Penurunan Pembiayaan untuk Proyek Batu Bara
Seiring dengan peningkatan dana untuk EBT, pembiayaan untuk proyek berbasis batu bara terus dikurangi. Ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang diusung SMI dalam setiap keputusan bisnisnya.
1. Alokasi Dana Batu Bara pada 2026
Pada tahun 2026, dana yang dialokasikan untuk proyek batu bara adalah Rp 14,30 triliun. Angka ini masih cukup besar, namun sudah menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
2. Proyeksi Penurunan pada 2027 dan 2028
Dua tahun ke depan, anggaran untuk energi fosil hanya Rp 2,80 triliun. Ini adalah penurunan yang sangat signifikan dan menunjukkan bahwa SMI benar-benar berkomitmen untuk beralih ke model bisnis yang lebih ramah lingkungan.
Strategi SMI dalam Mendukung Transisi Energi
Langkah-langkah yang diambil SMI tidak hanya soal angka. Ada strategi jangka panjang yang dirancang agar transisi energi berjalan efektif dan berkelanjutan.
1. Fokus pada Infrastruktur Iklim dan Sosial
SMI meningkatkan porsi pembiayaan untuk infrastruktur yang ramah lingkungan dan berdampak sosial. Ini mencakup proyek-proyek seperti pembangkit listrik terbarukan, sistem distribusi energi, dan pengembangan wilayah terpencil yang belum tersentuh listrik.
2. Dukungan terhadap Program Pengurangan Emisi
Sebagai bagian dari komitmen ESG, SMI juga mendukung program pengurangan emisi karbon nasional. Langkah ini tidak hanya membantu lingkungan, tapi juga memperkuat posisi Indonesia di mata investor global.
3. Kolaborasi dengan Pemerintah dan Swasta
SMI tidak bekerja sendiri. Lembaga ini terus menjalin kolaborasi dengan pemerintah, BUMN lainnya, serta sektor swasta untuk mempercepat pembangunan infrastruktur energi bersih.
Tabel Rencana Pembiayaan SMI 2026–2028
Berikut rincian rencana pembiayaan SMI untuk proyek EBT dan energi berbasis batu bara dalam tiga tahun ke depan:
| Tahun | Pembiayaan EBT | Pembiayaan Batu Bara |
|---|---|---|
| 2026 | Rp 33,10 triliun | Rp 14,30 triliun |
| 2027 | Rp 40 triliun | Rp 2,80 triliun |
| 2028 | Rp 48,80 triliun | Rp 2,80 triliun |
Peran SMI dalam Ekosistem Energi Nasional
SMI tidak hanya menjadi lembaga pembiaya, tapi juga berperan sebagai katalisator dalam transformasi sektor energi. Dengan mengalokasikan dana besar untuk EBT, SMI membantu mendorong investasi swasta dan menarik perhatian investor internasional.
Langkah ini juga sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai 23% energi terbarukan pada bauran energi nasional pada 2025. Meskipun target tersebut sudah lewat, SMI tetap berkomitmen untuk mempercepat pencapaiannya di tahun-tahun mendatang.
Tantangan dan Peluang dalam Transisi Energi
Meski komitmen kuat sudah ditunjukkan, transisi energi tidak datang tanpa tantangan. Infrastruktur yang belum merata, regulasi yang terkadang berubah, dan keterbatasan SDM menjadi isu yang harus terus diatasi.
Namun, di balik tantangan tersebut, ada peluang besar. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, terutama dari sumber surya, angin, dan panas bumi. Dengan dukungan pembiayaan yang tepat, potensi ini bisa segera direalisasikan.
Kesimpulan
Langkah SMI menyiapkan dana Rp 33,10 triliun untuk proyek EBT pada 2026 adalah sinyal kuat bahwa transisi energi sedang berjalan dengan serius. Dengan pengurangan pendanaan untuk energi fosil dan peningkatan alokasi untuk energi bersih, SMI memperkuat posisinya sebagai lembaga pembiaya hijau yang andal.
Rencana jangka panjang sampai 2028 menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kampanye jangka pendek. Ini adalah komitmen nyata untuk mendukung keberlanjutan dan menciptakan masa depan energi yang lebih bersih.
Disclaimer: Angka dan rencana pembiayaan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat proyeksi dan dapat berubah tergantung pada kondisi makro ekonomi, regulasi, serta kebijakan strategis SMI ke depannya.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













