Industri multifinance di Tanah Air terus menunjukkan performa yang solid. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp 512,14 triliun per Februari 2026. Angka ini naik tipis 1,01% secara year-on-year (YoY), menunjukkan bahwa sektor ini tetap menjadi tulang punggung pembiayaan di luar perbankan.
Salah satu komponen utama yang mendorong pertumbuhan ini adalah pembiayaan multiguna. Jenis pembiayaan ini menyumbang hampir separuh dari total nilai, yaitu sebesar 50,22% atau Rp 257,17 triliun. Pertumbuhannya sendiri mencatat kenaikan 1,28% YoY, menjadikannya sebagai penopang utama industri multifinance.
Komposisi Pembiayaan Multifinance
Pembiayaan dalam industri multifinance terbagi ke dalam beberapa segmen utama. Masing-masing memiliki kontribusi berbeda terhadap total piutang. Berikut rinciannya:
-
Pembiayaan Multiguna
Menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 50,22% atau Rp 257,17 triliun. Meski pertumbuhannya moderat, segmen ini tetap menjadi andalan karena sifatnya yang fleksibel dan menjangkau berbagai kalangan. -
Pembiayaan Investasi
Menempati posisi kedua dengan kontribusi 32,79% atau senilai Rp 167,92 triliun. Sayangnya, segmen ini justru mengalami kontraksi sebesar 2,89% YoY, menunjukkan adanya perlambatan permintaan atau kehati-hatian dari pelaku investasi. -
Pembiayaan Modal Kerja
Menyumbang 10,67% dari total atau sekitar Rp 54,63 triliun. Berbeda dengan pembiayaan investasi, segmen ini justru tumbuh positif 8,31% YoY, menandakan adanya peningkatan aktivitas bisnis kecil dan menengah yang membutuhkan likuiditas tambahan.
Kondisi Risiko dan Tren Terkini
Meski pertumbuhan industri terlihat stabil, bukan berarti tanpa tantangan. Salah satu indikator risiko yang patut diwaspadai adalah tingkat Non Performing Financing (NPF) gross. Per Februari 2026, NPF multifinance mencapai 2,78%, naik dari 2,72% pada bulan sebelumnya.
Lonjakan NPF ini bisa menjadi sinyal awal bahwa tekanan pada kualitas portofolio mulai terasa. OJK pun mulai mendorong multifinance untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih rentan terhadap berbagai ketidakpastian global.
Proyeksi dan Peluang ke Depan
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, memperkirakan pembiayaan multiguna akan tetap menjadi penopang utama industri multifinance ke depannya. Namun, dia juga menekankan pentingnya diversifikasi produk agar industri tetap bisa tumbuh berkelanjutan.
Beberapa peluang bisnis baru mulai bermunculan, terutama di sektor digital dan layanan konsumen. Misalnya, pembiayaan paylater yang mulai digandrungi generasi milenial dan Gen Z. OJK juga mencatat bahwa proyeksi kinerja paylater di tahun 2026 diperkirakan tumbuh positif.
Perbandingan Segmen Pembiayaan Multifinance per Februari 2026
| Segmen Pembiayaan | Porsi (%) | Nilai (Rp Triliun) | Pertumbuhan YoY (%) |
|---|---|---|---|
| Pembiayaan Multiguna | 50,22% | 257,17 | +1,28% |
| Pembiayaan Investasi | 32,79% | 167,92 | -2,89% |
| Pembiayaan Modal Kerja | 10,67% | 54,63 | +8,31% |
| Lainnya | 6,32% | 32,42 | Stabil |
Catatan: Data bersifat preliminary dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai laporan resmi OJK.
Strategi Pengembangan Industri ke Depan
Industri multifinance tidak hanya berfokus pada pertumbuhan volume, tetapi juga pada kualitas. Beberapa langkah strategis yang tengah digulirkan antara lain:
-
Peningkatan Selektivitas Debitur
OJK mendorong multifinance untuk lebih ketat dalam menilai risiko calon debitur guna menekan NPF. -
Diversifikasi Produk Pembiayaan
Selain pembiayaan konvensional, pengembangan produk digital seperti paylater dan pembiayaan berbasis e-commerce menjadi fokus baru. -
Pemanfaatan Teknologi dan Data Analitik
Integrasi sistem SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) membantu multifinance dalam pengambilan keputusan kredit yang lebih akurat dan cepat. -
Penguatan Regulasi dan Pengawasan
OJK terus memperbarui kerangka regulasi agar industri multifinance tetap berjalan sehat dan terhindar dari praktik keuangan ilegal.
Kesimpulan
Industri multifinance di Indonesia kembali menunjukkan ketangguhannya dengan total piutang pembiayaan yang menyentuh Rp 512 triliun. Pembiayaan multiguna tetap menjadi tulang punggung, meski tantangan seperti kenaikan NPF dan perlambatan investasi mulai terasa. Dengan strategi yang tepat dan pengawasan ketat dari OJK, sektor ini punya potensi untuk terus berkembang dan menjadi bagian penting dari ekosistem keuangan nasional.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi OJK per Februari 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













