Finansial

Regulator Keuangan Dorong Multifinance Perketat Kriteria Nasabah demi Tekan Risiko Kredit Macet di Tahun 2026

Retno Ayuningrum
×

Regulator Keuangan Dorong Multifinance Perketat Kriteria Nasabah demi Tekan Risiko Kredit Macet di Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Regulator Keuangan Dorong Multifinance Perketat Kriteria Nasabah demi Tekan Risiko Kredit Macet di Tahun 2026

Industri pembiayaan atau multifinance kini semakin hati-hati dalam menyalurkan kredit. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa perusahaan pembiayaan mulai menerapkan pendekatan selektif dalam memilih debitur. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga kualitas portofolio pembiayaan dan meminimalkan risiko kredit bermasalah.

Pada Februari 2026, total piutang pembiayaan multifinance mencapai Rp 512,14 triliun, naik tipis sebesar 1,01% secara year-on-year. Namun, catatan itu dibayangi dengan meningkatnya tingkat Non Performing Financing (NPF) gross dari 2,72% menjadi 2,78%. Angka tersebut menunjukkan adanya tekanan pada kualitas pembiayaan yang perlu diwaspadai.

Perlambatan Ekonomi Picu Kebijakan Selektif

Dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya pulih menjadi salah satu faktor utama multifinance menerapkan kebijakan selektif. Permintaan konsumen yang fluktuatif dan beli yang belum stabil membuat risiko semakin tinggi. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menyebut bahwa pendekatan hati-hati ini penting untuk menjaga industri.

Selain itu, multifinance juga dituntut untuk menjaga prinsip . Artinya, tidak hanya selektif dalam memilih debitur, tetapi juga memastikan bahwa proses pemberian kredit dilakukan secara transparan dan tidak merugikan pihak manapun.

Strategi Multifinance dalam Menjaga Kualitas Pembiayaan

1. Memperkuat Manajemen Risiko

Salah satu langkah utama yang diambil multifinance adalah memperkuat sistem manajemen risiko. Dengan melakukan analisis mendalam terhadap calon debitur, perusahaan bisa memprediksi potensi gagal bayar lebih awal. Ini termasuk mengevaluasi riwayat kredit, kemampuan membayar, hingga kondisi ekonomi pribadi calon peminjam.

2. Mengedepankan Prinsip Kehati-hatian

Multifinance kini tidak lagi berfokus pada pertumbuhan kuantitas, melainkan kualitas. Setiap aplikasi pembiayaan diperiksa secara ketat sebelum disetujui. Hal ini dilakukan agar portofolio kredit tetap sehat dan risiko NPF bisa ditekan.

3. Memanfaatkan Data SLIK OJK

Sistem Informasi Keuangan (SLIK) OJK menjadi alat penting dalam proses seleksi debitur. Dengan mengakses data historis calon peminjam, multifinance bisa membuat keputusan yang lebih tepat. Namun, penggunaan SLIK bukan berarti menyulitkan calon debitur, melainkan sebagai bentuk evaluasi profesional.

Data Kinerja Multifinance Februari 2026

Berikut adalah rincian data kinerja industri multifinance per Februari 2026:

Indikator Nilai
Total Piutang Pembiayaan Rp 512,14 triliun
Pertumbuhan YoY 1,01%
NPF Gross 2,78%
NPF Gross Bulan Sebelumnya 2,72%

Disclaimer: Data di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi industri dan ekonomi makro.

Faktor yang Mendorong Multifinance Lebih Selektif

1. Peningkatan Risiko Gagal Bayar

Kondisi ekonomi yang belum stabil membuat banyak konsumen rentan terhadap risiko kegagalan pembayaran. Multifinance harus lebih selektif agar tidak terkena dampak langsung dari peningkatan NPF.

2. Perlindungan Konsumen

OJK terus mendorong multifinance untuk menjaga keseimbangan antara profit dan perlindungan konsumen. Ini termasuk memastikan bahwa debitur tidak dibebani dengan kewajiban di luar kemampuan.

3. Kebijakan Makro yang Ketat

Bank sentral dan otoritas keuangan lainnya terus mengeluarkan kebijakan yang mendorong konsolidasi sektor keuangan. Multifinance harus menyesuaikan diri agar tetap kompetitif namun tetap aman secara risiko.

Dampak Selektivitas terhadap Konsumen

1. Akses Kredit Lebih Terbatas

Bagi calon debitur dengan riwayat kredit kurang baik atau tidak stabil, ke kredit multifinance bisa menjadi lebih sulit. Ini adalah konsekuensi langsung dari penerapan prinsip selektif.

2. Proses Pengajuan Lebih Ketat

Proses pengajuan kredit kini membutuhkan lebih banyak dokumen dan verifikasi. Meskipun terasa lebih ribet, langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa hanya debitur yang layak yang mendapatkan pembiayaan.

3. Perlindungan Jangka Panjang

Di sisi lain, selektivitas ini memberikan bagi konsumen. Dengan menghindari pinjaman yang terlalu besar dibanding kemampuan, debitur bisa terhindar dari risiko overindebtedness.

Tantangan di Balik Kebijakan Selektif

1. Menjaga Target Pertumbuhan

Meski lebih selektif, multifinance tetap dituntut untuk mencapai target pertumbuhan. Menyeimbangkan antara risiko dan pertumbuhan menjadi tantangan tersendiri.

2. Persaingan dengan Fintech

Fintech lending yang lebih fleksibel dan cepat bisa menjadi pesaing berat bagi multifinance. Namun, OJK terus mengawasi agar fintech juga menjalankan prinsip kehati-hatian.

3. Adaptasi Teknologi

Untuk menerapkan selektivitas secara efektif, multifinance harus terus mengembangkan sistem teknologi yang mendukung analisis risiko secara real-time dan akurat.

Kesimpulan

Industri multifinance saat ini berada di titik kritis di mana pertumbuhan harus seimbang dengan . Dengan menerapkan pendekatan selektif dalam memilih debitur, multifinance berusaha menjaga kualitas portofolio dan meminimalkan risiko kredit bermasalah. Langkah ini mungkin mempersempit akses kredit bagi sebagian konsumen, tetapi pada akhirnya memberikan perlindungan jangka panjang bagi seluruh .

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.