Industri pembiayaan atau multifinance kini semakin hati-hati dalam menyalurkan kredit. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa perusahaan pembiayaan mulai menerapkan pendekatan selektif dalam memilih debitur. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga kualitas portofolio pembiayaan dan meminimalkan risiko kredit bermasalah.
Pada Februari 2026, total piutang pembiayaan multifinance mencapai Rp 512,14 triliun, naik tipis sebesar 1,01% secara year-on-year. Namun, catatan itu dibayangi dengan meningkatnya tingkat Non Performing Financing (NPF) gross dari 2,72% menjadi 2,78%. Angka tersebut menunjukkan adanya tekanan pada kualitas pembiayaan yang perlu diwaspadai.
Perlambatan Ekonomi Picu Kebijakan Selektif
Dinamika ekonomi yang belum sepenuhnya pulih menjadi salah satu faktor utama multifinance menerapkan kebijakan selektif. Permintaan konsumen yang fluktuatif dan daya beli yang belum stabil membuat risiko gagal bayar semakin tinggi. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, menyebut bahwa pendekatan hati-hati ini penting untuk menjaga keberlanjutan industri.
Selain itu, multifinance juga dituntut untuk menjaga prinsip perlindungan konsumen. Artinya, tidak hanya selektif dalam memilih debitur, tetapi juga memastikan bahwa proses pemberian kredit dilakukan secara transparan dan tidak merugikan pihak manapun.
Strategi Multifinance dalam Menjaga Kualitas Pembiayaan
1. Memperkuat Manajemen Risiko
Salah satu langkah utama yang diambil multifinance adalah memperkuat sistem manajemen risiko. Dengan melakukan analisis mendalam terhadap calon debitur, perusahaan bisa memprediksi potensi gagal bayar lebih awal. Ini termasuk mengevaluasi riwayat kredit, kemampuan membayar, hingga kondisi ekonomi pribadi calon peminjam.
2. Mengedepankan Prinsip Kehati-hatian
Multifinance kini tidak lagi berfokus pada pertumbuhan kuantitas, melainkan kualitas. Setiap aplikasi pembiayaan diperiksa secara ketat sebelum disetujui. Hal ini dilakukan agar portofolio kredit tetap sehat dan risiko NPF bisa ditekan.
3. Memanfaatkan Data SLIK OJK
Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK menjadi alat penting dalam proses seleksi debitur. Dengan mengakses data historis calon peminjam, multifinance bisa membuat keputusan yang lebih tepat. Namun, penggunaan SLIK bukan berarti menyulitkan calon debitur, melainkan sebagai bentuk evaluasi profesional.
Data Kinerja Multifinance Februari 2026
Berikut adalah rincian data kinerja industri multifinance per Februari 2026:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Total Piutang Pembiayaan | Rp 512,14 triliun |
| Pertumbuhan YoY | 1,01% |
| NPF Gross | 2,78% |
| NPF Gross Bulan Sebelumnya | 2,72% |
Disclaimer: Data di atas bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi industri dan ekonomi makro.
Faktor yang Mendorong Multifinance Lebih Selektif
1. Peningkatan Risiko Gagal Bayar
Kondisi ekonomi yang belum stabil membuat banyak konsumen rentan terhadap risiko kegagalan pembayaran. Multifinance harus lebih selektif agar tidak terkena dampak langsung dari peningkatan NPF.
2. Perlindungan Konsumen
OJK terus mendorong multifinance untuk menjaga keseimbangan antara profit dan perlindungan konsumen. Ini termasuk memastikan bahwa debitur tidak dibebani dengan kewajiban di luar kemampuan.
3. Kebijakan Makro yang Ketat
Bank sentral dan otoritas keuangan lainnya terus mengeluarkan kebijakan yang mendorong konsolidasi sektor keuangan. Multifinance harus menyesuaikan diri agar tetap kompetitif namun tetap aman secara risiko.
Dampak Selektivitas terhadap Konsumen
1. Akses Kredit Lebih Terbatas
Bagi calon debitur dengan riwayat kredit kurang baik atau pendapatan tidak stabil, akses ke kredit multifinance bisa menjadi lebih sulit. Ini adalah konsekuensi langsung dari penerapan prinsip selektif.
2. Proses Pengajuan Lebih Ketat
Proses pengajuan kredit kini membutuhkan lebih banyak dokumen dan verifikasi. Meskipun terasa lebih ribet, langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa hanya debitur yang layak yang mendapatkan pembiayaan.
3. Perlindungan Jangka Panjang
Di sisi lain, selektivitas ini memberikan perlindungan jangka panjang bagi konsumen. Dengan menghindari pinjaman yang terlalu besar dibanding kemampuan, debitur bisa terhindar dari risiko overindebtedness.
Tantangan di Balik Kebijakan Selektif
1. Menjaga Target Pertumbuhan
Meski lebih selektif, multifinance tetap dituntut untuk mencapai target pertumbuhan. Menyeimbangkan antara risiko dan pertumbuhan menjadi tantangan tersendiri.
2. Persaingan dengan Fintech
Fintech lending yang lebih fleksibel dan cepat bisa menjadi pesaing berat bagi multifinance. Namun, OJK terus mengawasi agar fintech juga menjalankan prinsip kehati-hatian.
3. Adaptasi Teknologi
Untuk menerapkan selektivitas secara efektif, multifinance harus terus mengembangkan sistem teknologi yang mendukung analisis risiko secara real-time dan akurat.
Kesimpulan
Industri multifinance saat ini berada di titik kritis di mana pertumbuhan harus seimbang dengan pengelolaan risiko. Dengan menerapkan pendekatan selektif dalam memilih debitur, multifinance berusaha menjaga kualitas portofolio dan meminimalkan risiko kredit bermasalah. Langkah ini mungkin mempersempit akses kredit bagi sebagian konsumen, tetapi pada akhirnya memberikan perlindungan jangka panjang bagi seluruh ekosistem keuangan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













