Tren perlambatan kredit konsumsi di tengah Ramadan jadi sorotan serius. Padahal, biasanya bulan suci ini jadi ajang konsumsi masyarakat melesat, terutama di segmen ritel dan perbankan. Tapi tahun ini, momentum yang biasanya menggairahkan permintaan justru malah menampakkan kelemahan daya beli yang makin nyata.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit industri secara umum melambat dari 10,2% year-on-year (yoy) menjadi 8,9% yoy. Kredit konsumsi juga nggak luput dari tekanan, hanya tumbuh 6,3% yoy, turun dari 7,2% yoy sebelumnya. Bahkan, segmen yang biasanya cukup stabil seperti KPR dan kredit kendaraan bermotor (KKB) juga ikut melambat.
Perlambatan Kredit Konsumsi, Cerminan Daya Beli yang Melemah
Ramadan biasanya jadi periode emas bagi sektor konsumsi. Tapi tahun ini, justru malah jadi cerminan betapa rapuhnya daya beli masyarakat. Bukan cuma karena tekanan eksternal seperti geopolitik, tapi juga karena kondisi ekonomi domestik yang belum pulih sepenuhnya.
1. Tekanan Biaya Hidup yang Terus Naik
Salah satu faktor utama yang menyebabkan masyarakat lebih hati-hati dalam konsumsi adalah lonjakan biaya hidup. Harga bahan pokok, transportasi, hingga energi terus naik, membuat pengeluaran bulanan makin memberatkan.
2. Lapangan Kerja yang Belum Pulih Sepenuhnya
Meski angka pengangguran mungkin terlihat membaik, kualitas lapangan kerja yang tersedia masih jadi pertanyaan. Banyak orang masih bergantung pada pekerjaan tidak tetap atau paruh waktu, yang membuat penghasilan tidak stabil.
3. Ketidakpastian Global yang Meningkat
Perang di Timur Tengah dan ketegangan antara Amerika Serikat serta Iran memicu volatilitas pasar global. Ini berdampak langsung pada nilai tukar, inflasi, dan tentu saja kepercayaan masyarakat untuk berkonsumsi.
Respons Perbankan: Tetap Optimis tapi Lebih Waspada
Meski pertumbuhan kredit konsumsi melambat, beberapa bank besar masih menunjukkan optimisme. Mereka tetap melihat peluang di tengah tantangan.
1. Bank Syariah Indonesia Fokus pada Manajemen Risiko
BSI mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,32% yoy di Februari 2026, meski sedikit melambat dari bulan sebelumnya. Porsi kredit konsumsi masih dominan, mencapai 72,5% dari total pembiayaan.
Wisnu Sunandar, Corporate Secretary BSI, menyebut bahwa bank tetap optimistis karena adanya stimulus pemerintah dan subsidi yang bisa mendorong daya beli masyarakat.
2. BCA Tetap Melihat Peluang Positif
Bank Central Asia (BCA) mencatat pertumbuhan kredit konsumsi hanya 0,2% yoy di akhir 2025. Namun, menurut Hera F. Heryn dari BCA, bank masih melihat katalis positif seperti prospek ekonomi yang baik dan likuiditas yang solid.
BCA juga terus menggelar promo khusus di berbagai pameran untuk mendorong permintaan kredit konsumsi.
Tabel Perbandingan Pertumbuhan Kredit Konsumsi (Februari 2025 vs Februari 2026)
| Jenis Kredit | Pertumbuhan Februari 2025 (yoy) | Pertumbuhan Februari 2026 (yoy) |
|---|---|---|
| Kredit Konsumsi | 7,2% | 6,3% |
| KPR | 5,5% | 5,0% |
| Kredit Multiguna | 9,9% | 8,7% |
| KKB | 6,7% | 7,9% |
Catatan: Data bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai laporan BI dan bank terkait.
Strategi Jangka Panjang di Tengah Perlambatan
Perbankan mulai menggeser fokus dari ekspansi agresif ke strategi yang lebih berkelanjutan. Manajemen risiko jadi pilar utama, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan inflasi yang masih tinggi.
1. Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi
Bank seperti BSI dan BCA mulai menerapkan pendekatan yang lebih ketat dalam menilai risiko kredit. Segmentasi nasabah dan pemetaan bisnis yang tepat jadi kunci agar tetap bisa tumbuh tanpa mengorbankan kualitas portofolio.
2. Diversifikasi Produk dan Layanan
Untuk tetap menarik minat konsumen, bank juga mulai menawarkan produk-produk yang lebih fleksibel. Promo khusus, cicilan ringan, hingga layanan digital yang memudahkan proses pengajuan kredit jadi bagian dari strategi ini.
Apa Artinya Ini untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia?
Perlambatan kredit konsumsi saat Ramadan bukan cuma angka. Ini adalah sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang di ambang batas. Jika tidak ditangani dengan kebijakan yang tepat, ada risiko pertumbuhan ekonomi melambat ke angka single digit di semester II-2026.
Rahma Gafmi, ekonom dari Universitas Airlangga, memperingatkan bahwa kondisi ini bisa berlarut jika inflasi energi dan ketidakpastian global masih tinggi. Pemerintah juga dinilai kurang antisipatif dibanding negara lain yang sudah lebih dulu menyiapkan mitigasi.
Penutup
Kondisi kredit konsumsi yang melambat di tengah Ramadan jadi cerminan dari tekanan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat. Bukan hanya soal angka, tapi juga soal bagaimana pola konsumsi mulai berubah. Perbankan pun mulai beradaptasi dengan strategi yang lebih hati-hati, sekaligus tetap mencari peluang di tengah tantangan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan ekonomi makro dan kebijakan yang diambil pemerintah maupun otoritas moneter.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













