Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mengkaji penerapan model universal banking sebagai langkah strategis untuk memperkuat integrasi layanan keuangan di Tanah Air. Langkah ini menunjukkan bahwa regulator keuangan Indonesia mulai membuka ruang bagi bank untuk menyediakan berbagai jenis layanan dalam satu atap, mulai dari perbankan komersial hingga manajemen aset.
Menurut Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, universal banking adalah model bisnis di mana satu entitas bank bisa menyediakan layanan keuangan secara menyeluruh. Artinya, nasabah bisa mendapatkan layanan perbankan, investment banking, wealth management, hingga advisory keuangan hanya dalam satu tempat.
Apa Itu Universal Banking?
Universal banking bukan konsep baru di dunia keuangan global. Di negara maju seperti Jerman, Inggris, dan Singapura, model ini sudah umum diterapkan. Bahkan di kawasan ASEAN, Malaysia, Thailand, dan Filipina juga sudah mengadopsinya. Indonesia kini mulai mempertimbangkan langkah serupa.
Model ini berbeda dengan sistem perbankan konvensional yang memisahkan layanan antara perbankan, pasar modal, dan asuransi. Dengan universal banking, semua layanan itu bisa digabung dalam satu entitas perusahaan. Ini memberi peluang lebih besar untuk efisiensi operasional dan peningkatan pengalaman nasabah.
Mengapa OJK Mulai Mempertimbangkan Universal Banking?
Saat ini, struktur perbankan di Indonesia masih terbagi dalam konglomerasi keuangan. Artinya, satu grup bisa memiliki bank, perusahaan sekuritas, dan perusahaan asuransi, tapi masing-masing berdiri sendiri. Ini membuat integrasi layanan belum optimal.
Dengan menerapkan universal banking, OJK berharap bisa mendorong efisiensi biaya, diversifikasi pendapatan bank, serta peningkatan inklusi keuangan. Model ini juga bisa mempercepat inovasi produk keuangan dan memberi lebih banyak pilihan kepada masyarakat.
Keuntungan Penerapan Universal Banking
-
Efisiensi Operasional
Dengan menggabungkan berbagai layanan dalam satu entitas, bank bisa menghemat biaya infrastruktur dan operasional. Ini karena tidak perlu membangun sistem terpisah untuk setiap jenis layanan. -
Diversifikasi Pendapatan
Bank bisa mengurangi ketergantungan pada sumber pendapatan utama seperti bunga kredit. Dengan menawarkan layanan investment banking atau wealth management, pendapatan bisa lebih stabil dan beragam. -
Peningkatan Akses Keuangan
Nasabah bisa mendapatkan berbagai layanan keuangan dalam satu tempat. Ini sangat membantu masyarakat yang ingin mengelola keuangan secara lebih komprehensif tanpa harus bolak-balik ke berbagai lembaga. -
Inovasi Produk
Integrasi layanan memberi ruang lebih besar bagi pengembangan produk keuangan baru yang sesuai dengan kebutuhan nasabah modern.
Tantangan dalam Penerapan Universal Banking
-
Penguatan Regulasi
Model ini membutuhkan kerangka hukum dan tata kelola yang kuat. OJK harus memastikan bahwa integrasi layanan tidak menimbulkan risiko sistemik atau konflik kepentingan. -
Pengawasan yang Ketat
Bank yang menerapkan universal banking akan memiliki struktur bisnis yang kompleks. Ini menuntut pengawasan yang lebih cermat agar tidak terjadi penyalahgunaan atau pelanggaran prudensial. -
Manajemen Risiko
Risiko operasional dan reputasi bisa meningkat karena aktivitas yang lebih beragam. Bank harus memiliki sistem manajemen risiko yang matang.
Bank Indonesia yang Sudah Menuju Universal Banking
Beberapa bank di Tanah Air sudah memiliki anak usaha di sektor pasar modal, seperti perusahaan sekuritas. Ini menunjukkan bahwa praktik universal banking sudah mulai terbentuk, meski belum sepenuhnya terintegrasi.
| Bank | Anak Usaha Sekuritas | Status Integrasi |
|---|---|---|
| Bank Mandiri | Mandiri Sekuritas | Terintegrasi Parsial |
| BCA | BCA Sekuritas | Terintegrasi Parsial |
| BRI | BRI Sekuritas | Terintegrasi Parsial |
Catatan: Data ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan pengembangan strategi korporasi masing-masing bank.
Langkah Selanjutnya Menuju Universal Banking
-
Penyusunan Regulasi Baru
OJK akan menyusun aturan yang mengatur penerapan universal banking agar tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. -
Penguatan Infrastruktur Teknologi
Bank perlu memperkuat sistem teknologi agar bisa mendukung layanan yang terintegrasi dan aman. -
Evaluasi Kesiapan Bank
Tidak semua bank siap menerapkan model ini. OJK akan mengevaluasi kesiapan bank berdasarkan aspek keuangan, operasional, dan manajemen risiko. -
Sosialisasi ke Pasar
Edukasi kepada publik dan pelaku industri sangat penting agar penerapan universal banking bisa diterima secara luas.
Perbandingan Model Perbankan Konvensional vs Universal Banking
| Aspek | Perbankan Konvensional | Universal Banking |
|---|---|---|
| Struktur Layanan | Terpisah (bank, sekuritas, asuransi) | Terintegrasi dalam satu entitas |
| Efisiensi Biaya | Rendah | Tinggi |
| Diversifikasi Pendapatan | Terbatas | Luas |
| Inovasi Produk | Lambat | Cepat |
| Pengawasan | Tersebar | Terpusat |
Kesimpulan
Penerapan universal banking di Indonesia masih dalam tahap kajian. Namun, langkah ini menunjukkan bahwa OJK ingin mendorong transformasi sektor keuangan agar lebih kompetitif dan inklusif. Dengan regulasi yang tepat dan kesiapan industri, model ini bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.
Meski begitu, perlu dicatat bahwa informasi dan kebijakan terkait universal banking masih bisa berubah. Data dan kondisi di atas bersifat terkini hingga Maret 2026 dan dapat diperbarui seiring perkembangan regulasi dan strategi industri keuangan nasional.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













