Rekening simpanan valuta asing (valas) di sejumlah bank mengalami lonjakan pertumbuhan di awal tahun 2026. Data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat jumlah rekening valas mencapai 7,67 juta pada Februari 2026, naik 50,8% secara tahunan (yoy). Meski begitu, pertumbuhan nominal simpanan valas hanya mencapai 2,1% yaitu sebesar Rp 1.487 triliun.
Perbandingannya dengan simpanan rupiah cukup mencolok. Rekening simpanan rupiah hanya tumbuh 9,8% yoy, tapi nominalnya melonjak hingga 14,6% yoy. Artinya, jumlah rekening valas meningkat tajam, tetapi nilai transaksinya tidak sebanding.
Penyebab Lonjakan Rekening Valas
-
Kebutuhan Transaksi Internasional
Banyak perusahaan dan individu yang membutuhkan dana dalam mata uang asing untuk transaksi lintas negara. Ini mendorong peningkatan jumlah rekening valas meskipun nominalnya belum sebanding. -
Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Pergerakan nilai tukar rupiah yang cukup volatil membuat sebagian nasabah lebih memilih menyimpan dana dalam dolar AS sebagai bentuk antisipasi risiko. -
Ekspansi Bisnis Bank ke Pasar Internasional
Beberapa bank seperti KB Bank dan CIMB Niaga tengah memperluas layanan mereka untuk menjangkau komunitas ekspatriat dan korporasi multinasional. Hal ini turut meningkatkan jumlah rekening valas.
Respons Bank-Bank Besar
PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mencatat peningkatan simpanan valas, terutama dari segmen deposito. Direktur Umum KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyebut bahwa pertumbuhan ini didorong oleh kebutuhan nasabah korporasi yang cenderung menggunakan dolar AS. Komunitas ekspatriat Korea juga menjadi kontributor penting.
PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) melaporkan pertumbuhan DPK valas sebesar 16% yoy. Presiden Direktur Lani Darmawan menyatakan bahwa tren ini sejalan dengan kondisi industri perbankan secara umum.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat DPK valas mencapai Rp 83,6 triliun pada Desember 2025, tumbuh 11,7% yoy. EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn, menyebut bahwa fluktuasi nilai tukar dan kebutuhan transaksi valas menjadi faktor utama.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatat pertumbuhan yang lebih stabil. Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menyebut bahwa karena fokus utama BTN pada sektor perumahan domestik, kebutuhan valas tidak sebesar bank lain.
Perbandingan Pertumbuhan Simpanan Valas dan Rupiah (Februari 2026)
| Bank | Pertumbuhan Rekening Valas | Pertumbuhan Nominal Valas | Pertumbuhan Simpanan Rupiah |
|---|---|---|---|
| KB Bank | Tinggi | Sedang | Sedang |
| CIMB Niaga | Tinggi | 16% yoy | Lebih rendah dari valas |
| BCA | Tinggi | 11,7% yoy | Lebih tinggi dari valas |
| BTN | Stabil | Rendah | Tinggi |
Dampak pada Nasabah dan Ekonomi
Lonjakan jumlah rekening valas menunjukkan semakin banyaknya aktivitas ekonomi yang melibatkan transaksi internasional. Ini bisa menjadi indikator positif bagi sektor ekspor dan investasi asing. Namun, bagi nasabah individu, hal ini juga berarti perlunya literasi keuangan yang lebih baik untuk memahami risiko dan manfaat simpanan valas.
Strategi Bank dalam Menghadapi Tren Valas
-
Peningkatan Layanan untuk Nasabah Internasional
Bank mulai menyesuaikan layanan mereka untuk menarik nasabah dari kalangan ekspatriat dan korporasi multinasional. -
Pengembangan Produk Simpanan Valas
Inovasi produk seperti deposito valas dan tabungan valas dengan suku bunga kompetitif menjadi daya tarik tersendiri. -
Diversifikasi Risiko Mata Uang
Bank juga memperhatikan manajemen risiko terkait fluktuasi nilai tukar agar tidak merugikan nasabah maupun bank itu sendiri.
Catatan Penting
Data dan angka yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi makro ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia serta LPS.
Lonjakan jumlah rekening valas di awal tahun ini menunjukkan bahwa semakin banyak pelaku ekonomi yang membutuhkan akses ke mata uang asing. Meski nominalnya belum sebanding dengan simpanan rupiah, tren ini bisa menjadi cerminan dari semakin terbukanya pasar Indonesia terhadap transaksi global.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













