Setiap tahun menjelang Ramadan dan Idul Fitri, kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai selalu meningkat. Tren ini memaksa perbankan untuk menyiapkan dana kartal dalam jumlah besar agar masyarakat bisa menarik uang sesuai kebutuhan, baik untuk THR, belanja, maupun mudik. Namun, di tahun 2026 ini, ada yang menarik. Beberapa bank justru memangkas alokasi uang tunai yang disiapkan dibanding tahun sebelumnya.
Penurunan ini bukan berarti bank tidak siap menghadapi lonjakan transaksi. Justru, banyak dari mereka yang mengandalkan strategi digital dan efisiensi distribusi. Ada juga yang tetap menaikkan alokasi, meski tidak terlalu signifikan. Lalu, apa penyebab di balik fenomena ini?
Mengapa Alokasi Uang Tunai Lebaran 2026 Dipangkas?
Perubahan alokasi uang tunai oleh sejumlah bank bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi keputusan ini, mulai dari tren digitalisasi hingga pola konsumsi masyarakat yang berubah. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.
1. Digitalisasi Transaksi Makin Masif
Salah satu alasan utama adalah semakin tingginya adopsi pembayaran digital. Layanan mobile banking dan QRIS kini sudah menjadi pilihan utama masyarakat, terutama di kota-kota besar. Banyak transaksi yang dulunya dilakukan secara tunai, seperti pembayaran zakat, transfer THR, hingga belanja kebutuhan Lebaran, kini bisa dilakukan lewat aplikasi.
Bank Indonesia mencatat, volume transaksi digital pada Januari 2026 mencapai 4,79 miliar transaksi, naik 39,65% dibanding tahun sebelumnya. Transaksi QRIS saja tumbuh hingga 131,47% year-on-year. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin nyaman dengan transaksi non-tunai.
2. Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Selain itu, daya beli masyarakat juga dinilai belum pulih sepenuhnya. Banyak kalangan menengah lebih selektif dalam pengeluaran menjelang Lebaran. Ini membuat kebutuhan uang tunai tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini juga didorong oleh ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
3. Efisiensi Distribusi Uang Tunai
Bank juga mulai lebih cermat dalam mendistribusikan uang tunai. Dengan memanfaatkan data historis dan prediksi transaksi, bank bisa menentukan jumlah uang yang dibutuhkan di tiap lokasi. Tidak semua cabang atau ATM perlu diisi penuh setiap hari. Ini membantu mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi.
Alokasi Uang Tunai Tiap Bank di Lebaran 2026
Meski secara umum ada kecenderungan penurunan, alokasi uang tunai tiap bank tetap bervariasi. Ada yang naik tipis, ada juga yang turun signifikan. Berikut rinciannya.
BCA Turunkan Alokasi Hingga 6,44%
BCA menyiapkan dana tunai sebesar Rp 65,7 triliun untuk Ramadan dan Lebaran 2026. Angka ini turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 70,22 triliun. Artinya, ada pengurangan sekitar 6,44%.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyampaikan bahwa bank tetap berkomitmen menyediakan layanan terbaik. Namun, penyesuaian alokasi dilakukan untuk menyesuaikan dengan pola transaksi terkini.
BSI Pangkas Dana Tunai Drastis
Bank Syariah Indonesia (BSI) juga mencatat penurunan besar-besaran. Di tahun 2026, BSI hanya menyiapkan Rp 16 triliun, turun dari Rp 42,88 triliun di tahun sebelumnya. Penurunan ini mencapai lebih dari 60%.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna menjelaskan bahwa dana tersebut tetap disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan transaksi. BSI juga memastikan operasional ATM tetap berjalan lancar selama libur Lebaran.
Mandiri Naik Tipis, BNI Naik 14%
Berbeda dengan dua bank di atas, Bank Mandiri justru menaikkan alokasi uang tunai sebesar 5% menjadi Rp 44 triliun. Sementara itu, BNI mencatat kenaikan hingga 14,14% menjadi Rp 23,97 triliun.
BNI memperkirakan kebutuhan uang tunai mencapai Rp 1,71 triliun per hari. Dari total dana tersebut, sebagian besar dialokasikan untuk pengisian ATM dan CRM.
Bank Indonesia Siapkan Rp 185,6 Triliun
Bank Indonesia tetap menyiapkan uang layak edar (ULE) dalam jumlah besar, yaitu Rp 185,6 triliun. Angka ini sedikit turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 189,9 triliun.
Dari jumlah tersebut, Rp 177 triliun dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan perbankan, termasuk penarikan tunai melalui ATM dan kantor cabang.
Tabel Perbandingan Alokasi Uang Tunai Bank di Lebaran 2025 dan 2026
| Bank | Alokasi 2025 | Alokasi 2026 | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| BCA | Rp 70,22 triliun | Rp 65,7 triliun | -6,44% |
| BSI | Rp 42,88 triliun | Rp 16 triliun | -62,68% |
| Mandiri | Rp 41,9 triliun | Rp 44 triliun | +5% |
| BNI | Rp 21 triliun | Rp 23,97 triliun | +14,14% |
| BI | Rp 189,9 triliun | Rp 185,6 triliun | -2,26% |
Strategi Bank dalam Menghadapi Lebaran 2026
Meski alokasi uang tunai ada yang turun, bank tetap mempersiapkan strategi jitu agar layanan tetap optimal. Mulai dari pemanfaatan teknologi hingga penyesuaian operasional cabang.
1. Peningkatan Layanan Digital
Bank seperti BNI terus mendorong penggunaan aplikasi digital seperti wondr by BNI. Aplikasi ini memungkinkan nasabah melakukan berbagai transaksi tanpa harus datang ke cabang. Hingga akhir Februari 2026, aplikasi ini sudah digunakan oleh 12,7 juta pengguna.
2. Operasional Kantor Cabang Terbatas
Beberapa bank juga mengoperasikan kantor cabang secara terbatas selama libur Lebaran. Misalnya, BNI hanya membuka 23 outlet pada 20 Maret 2026 dan 32 outlet pada 23 Maret 2026.
3. Pengawasan ATM dan CRM
Bank juga menyiagakan tim internal dan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk memastikan ATM dan CRM tetap terisi. Ini penting mengingat transaksi tarik tunai melalui mesin ini masih tinggi, terutama di daerah non-urban.
Perubahan Perilaku Transaksi Masyarakat
Pola transaksi masyarakat kini semakin berubah. Di kota besar, transaksi digital sudah menjadi pilihan utama. Namun, di daerah tertentu, uang tunai masih menjadi andalan.
Moch Amin Nurdin, pengamat perbankan, menilai bahwa pergeseran ini terjadi secara bertahap. Meski QRIS dan mobile banking sudah luas digunakan, transaksi tunai masih dibutuhkan, terutama untuk pembayaran THR secara fisik dan belanja kebutuhan sehari-hari di wilayah pelosok.
Kesimpulan
Alokasi uang tunai Lebaran 2026 memang mengalami perubahan. Sebagian bank memangkas dana, sementara yang lain menaikkannya tipis. Ini semua mencerminkan adaptasi terhadap tren digitalisasi dan pola konsumsi masyarakat yang terus berkembang. Meski begitu, kesiapan bank dalam menyediakan layanan tetap menjadi prioritas utama.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi ekonomi dan kebijakan masing-masing bank serta otoritas moneter.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













