Di tengah gejolak ekonomi global yang belum sepenuhnya reda, Bank Indonesia terus berjibaku menjaga stabilitas harga agar tetap terkendali. Tantangan datang dari berbagai arah mulai dari ketidakpastian kebijakan moneter global hingga risiko kenaikan harga komoditas akibat ketegangan geopolitik. Namun, BI tetap optimistis bahwa dengan sinergi kebijakan dan pengawasan ketat, inflasi bisa dijaga tetap dalam koridor yang aman.
Langkah-langkah strategis terus digulirkan, terutama menjelang dan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Momentum ini biasanya menjadi titik kritis karena lonjakan permintaan masyarakat berpotensi mendorong tekanan harga. BI pun memastikan bahwa kesiapan infrastruktur distribusi, ketersediaan pasokan, dan koordinasi lintas lembaga berjalan dengan baik.
Strategi Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Harga
1. Pemantauan Saluran Transmisi Gejolak Global
Bank Indonesia mengidentifikasi tiga saluran utama yang bisa membawa dampak gejolak global ke dalam negeri, yaitu harga pangan, pasar keuangan, dan nilai tukar rupiah. Ketiganya saling terkait dan berpotensi memicu kenaikan harga secara luas jika tidak dikelola dengan baik.
2. Intervensi Pasar untuk Menjaga Nilai Tukar
Untuk menjaga nilai tukar tetap stabil, BI aktif melakukan intervensi di pasar spot maupun melalui instrumen derivatif. Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi.
3. Kebijakan Suku Bunga yang Terjaga
Pada awal tahun 2026, BI mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Kebijakan ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga. Selain itu, BI juga mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen operasi moneter.
Koordinasi dan Sinergi dalam Pengendalian Inflasi
1. Strategi 4K: Kunci Pengendalian Inflasi
Bank Indonesia bersama pemerintah menjalankan strategi 4K yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah ini dirancang agar tekanan harga selama HBKN tidak berdampak signifikan pada masyarakat.
2. Peran Tim Pengendalian Inflasi
Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) menjadi garda terdepan dalam memantau harga di pasar tradisional dan modern. Jaringan BI yang tersebar di 46 kantor perwakilan juga membantu memetakan daerah sentra produksi dan wilayah defisit.
3. Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS)
Program GPIPS yang diluncurkan di Palembang menjadi salah satu langkah konkret untuk menekan laju inflasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha pangan. Program ini diharapkan bisa direplikasi di daerah lain.
Dinamika Pasokan dan Permintaan Menjelang HBKN
1. Ketersediaan Pangan yang Terjaga
Badan Pangan Nasional memastikan bahwa stok pangan nasional dalam kondisi aman hingga akhir tahun. Distribusi komoditas seperti cabai dan bawang merah dari sentra produksi ke daerah defisit terus dipantau agar tidak terjadi kelangkaan.
2. Pola Konsumsi Masyarakat saat HBKN
Menjelang dan sesudah HBKN, permintaan terhadap komoditas volatile food seperti daging, ayam, dan sembako biasanya meningkat. Namun, BI dan pemerintah optimistis bahwa pola ini akan kembali normal setelah momentum keagamaan berlalu.
3. Dampak Inflasi pada Konsumsi Non-Pangan
Kenaikan harga berdampak langsung pada pola konsumsi rumah tangga. Masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok dan mengurangi pengeluaran untuk barang tahan lama seperti elektronik atau kendaraan.
Peran Kebijakan Makro dan Struktur Distribusi
1. Kebijakan Moneter dan Struktur Pasokan Harus Sejalan
Firman Mochtar dari BI menekankan bahwa inflasi tidak hanya soal permintaan, tetapi juga struktur produksi dan distribusi. Oleh karena itu, BI terus mendorong model bisnis yang efisien dan bisa direplikasi di berbagai daerah.
2. Pentingnya Supply Pendanaan dan Bantuan
Ekonom CORE Indonesia, Hendri Saparini, menyatakan bahwa anggaran pemerintah harus menjadi pengungkit ekonomi daerah. Bukan hanya untuk belanja jangka pendek, tetapi juga untuk menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.
3. Intervensi Harga ala Malaysia
Sebagai contoh, Malaysia menerapkan price control untuk komoditas dasar seperti telur, gula, dan ayam. Intervensi langsung ini membantu menjaga daya beli masyarakat saat harga global sedang tinggi.
Tantangan dan Prospek Ekonomi Domestik
1. Pertumbuhan Ekonomi 2026 Diproyeksikan 4,9% hingga 5,7%
Meski terdapat tekanan dari luar, prospek ekonomi domestik tetap positif. Momentum belanja awal tahun dan peningkatan aktivitas produksi diharapkan bisa menopang pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.
2. Inflasi Inti Masih Terjaga
Inflasi inti yang mencerminkan tekanan permintaan masih berada di level 2,63%. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan masyarakat belum berlebihan dan inflasi bisa dikendalikan dengan kebijakan yang tepat.
3. Ancaman Panic Buying dan Makan Tabungan
Kenaikan harga bisa memicu fenomena panic buying atau makan tabungan. Ini berisiko menggerus simpanan masyarakat dan mengurangi konsumsi jangka panjang, yang pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Kesimpulan
Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas harga di tengah gejolak global melalui berbagai langkah strategis. Dari intervensi nilai tukar hingga koordinasi lintas lembaga, semua elemen digerakkan untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Dengan sinergi kebijakan makro dan struktur distribusi yang solid, inflasi bisa dikendalikan dan pertumbuhan ekonomi tetap berada di jalur yang sehat.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi global dan kebijakan pemerintah.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













