Finansial

Inflasi Biaya Kesehatan Diprediksi Tekan Pertumbuhan Premi Asuransi Swasta

Rista Wulandari
×

Inflasi Biaya Kesehatan Diprediksi Tekan Pertumbuhan Premi Asuransi Swasta

Sebarkan artikel ini
Inflasi Biaya Kesehatan Diprediksi Tekan Pertumbuhan Premi Asuransi Swasta

Inflasi medis terus menjadi tantangan besar bagi kesehatan di Indonesia. PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI), atau yang dikenal sebagai Maximus Insurance, mencatat bahwa tekanan dari kenaikan secara langsung memengaruhi kinerja segmen asuransi kesehatan mereka sepanjang 2025. Kondisi ini terlihat dari belum tercapainya target loss ratio dan profitabilitas underwriting yang diharapkan.

Direktur Utama Maximus Insurance, Jemmy Atmadja, menjelaskan bahwa inflasi medis menyebabkan lonjakan biaya klaim secara konsisten dan progresif. Ini bukan masalah yang dialami oleh Maximus saja, tapi juga industri secara umum. Namun, ia menegaskan bahwa inflasi medis bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kinerja. Ada beberapa variabel lain yang turut berkontribusi terhadap tekanan pada portofolio asuransi kesehatan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Asuransi Kesehatan

1. Persaingan Harga yang Ketat

Persaingan di pasar asuransi kesehatan masih didominasi oleh harga. Banyak perusahaan belum sepenuhnya memasukkan proyeksi inflasi medis secara realistis ke dalam struktur premi mereka. Hal ini membuat mereka terjebak dalam underpricing historis, di mana premi yang ditetapkan tidak sebanding dengan kenaikan biaya yang terjadi.

2. Underpricing Historis

Beberapa portofolio asuransi kesehatan masih menggunakan premi yang secara aktuaria tidak mencerminkan tren kenaikan biaya medis. Ini berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan antara pendapatan premi dan pengeluaran klaim, yang pada akhirnya memengaruhi profitabilitas.

3. Adverse Selection dan Utilisasi Tinggi

Adverse selection terjadi ketika nasabah dengan risiko tinggi lebih cenderung membeli asuransi. Ditambah dengan utilisasi klaim yang tinggi, baik dari segi frekuensi maupun severity, ini menjadi penyebab utama meningkatnya loss ratio.

4. Perubahan Pola Klaim Pasca Pandemi

Setelah pandemi, banyak klaim yang tertunda mulai muncul kembali. Terutama klaim untuk dan rawat inap yang sebelumnya ditunda. Ini menciptakan lonjakan klaim yang tidak terduga dan memperberat beban .

Strategi Maximus Menghadapi Tekanan Inflasi Medis

1. Penyesuaian Premi Berbasis Data Aktuaria

Maximus berencana menyesuaikan premi berdasarkan data aktuaria dan tren klaim riil. Langkah ini diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai risiko dan biaya yang sebenarnya.

2. Selektivitas Underwriting yang Lebih Ketat

Seleksi risiko yang lebih ketat akan membantu perusahaan menghindari portofolio yang berisiko tinggi. Ini juga menjadi cara untuk menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan keberlanjutan bisnis.

3. Optimalisasi Pengelolaan Provider dan Cost Containment

Kerja sama yang lebih baik dengan provider kesehatan serta pengendalian biaya menjadi fokus utama. Tujuannya untuk memastikan bahwa biaya pengobatan tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas layanan.

4. Redesign Produk Asuransi

Maximus juga akan merancang ulang produk asuransi agar lebih responsif terhadap tren medis dan kebutuhan nasabah. Ini mencakup penyesuaian , batasan cakupan, dan struktur premi.

5. Monitoring Portofolio Secara Berkala

Pemantauan berkala terhadap portofolio menjadi kunci untuk menjaga loss ratio tetap dalam batas acceptable risk. Dengan begitu, perusahaan bisa mengambil langkah cepat jika ada deviasi yang terjadi.

Tantangan Industri Asuransi Kesehatan Secara Umum

Asosiasi (AAUI) juga mencatat bahwa tantangan yang dihadapi industri asuransi kesehatan memang semakin berat. Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, menyebutkan bahwa inflasi medis yang tinggi membuat premi yang dibayarkan ke reasuransi juga naik secara signifikan. Ini menciptakan tekanan tambahan bagi perusahaan asuransi.

Selain itu, ada ketimpangan antara pendapatan premi dan pengeluaran klaim. Banyak perusahaan akhirnya memilih mundur dari bisnis asuransi kesehatan karena tidak mampu menjaga profitabilitas. Data AAUI mencatat bahwa premi asuransi kesehatan industri terkontraksi sebesar 20,9% secara year-on-year (YoY) di akhir 2025.

Data Loss Ratio Asuransi Kesehatan

Tahun Loss Ratio (%)
2024 58,2%
2025 67,3%

Penurunan kinerja ini tercermin dari meningkatnya loss ratio dari 58,2% di akhir 2024 menjadi 67,3% di akhir 2025. Angka ini menunjukkan bahwa pengeluaran klaim semakin mendekati atau bahkan melampaui pendapatan premi yang diterima.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kondisi makro ekonomi, regulasi, dan dinamika pasar. Perusahaan disarankan untuk melakukan analisis lebih lanjut sebelum mengambil keputusan bisnis.

Inflasi medis memang menjadi tantangan nyata yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, dengan pendekatan yang tepat dan jangka panjang, industri asuransi kesehatan masih punya peluang untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah tekanan tersebut.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.