Finansial

Bank-Bank Swasta Bagikan Dividen Besar-Besaran, Simak 5 Emiten Paling Menguntungkan di 2026 Ini!

Rista Wulandari
×

Bank-Bank Swasta Bagikan Dividen Besar-Besaran, Simak 5 Emiten Paling Menguntungkan di 2026 Ini!

Sebarkan artikel ini
Bank-Bank Swasta Bagikan Dividen Besar-Besaran, Simak 5 Emiten Paling Menguntungkan di 2026 Ini!

Bank swasta di Tanah Air sedang bersiap membagikan dividen dalam jumlah besar. Meski begitu, di balik semangat memanjakan , ada pertimbangan matang soal keberlanjutan bisnis. Tidak semua bank langsung menaikkan rasio pembayaran dividen begitu saja. Ada yang tetap konsisten, ada juga yang justru memangkas agar bisa menjaga stabilitas jangka panjang.

Tren pembayaran dividen yang tinggi ini muncul di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Tekanan dari kenaikan suku bunga dan perlambatan pertumbuhan kredit membuat bank harus lebih selektif dalam menyeimbangkan antara memberi imbal hasil kepada pemegang saham dan menjaga likuiditas perusahaan.

Bank-Bank Swasta dengan Dividen Menarik

1. Bank Central Asia (BBCA)

BBCA terus menunjukkan performa kuat dalam hal pembayaran dividen. Dalam lima tahun terakhir, rasio pembayaran dividen (DPR) bank ini naik dari 57% pada 2021 menjadi 72% di tahun buku . Selain itu, BCA juga menggandeng frekuensi penyaluran dividen interim menjadi tiga kali setahun. Langkah ini diambil agar investor bisa merasakan manfaat secara berkala.

Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa kebijakan ini disesuaikan dengan kondisi keuangan bank dan telah mendapat restu dari Dewan Komisaris. Artinya, meski jumlah dividen besar, BCA tetap menjaga kesehatan finansialnya.

2. CIMB Niaga (BNGA)

Bank ini juga tidak mau kalah dalam memberikan apresiasi kepada pemegang saham. DPR BNGA meningkat dari 57,68% pada 2021 menjadi 60% di tahun buku 2024. Untuk tahun 2025, rencana RUPST akan dilakukan pada 17 April 2026. Meskipun kenaikannya tidak terlalu signifikan, konsistensi menjadi nilai tambah bagi investor jangka panjang.

3. Bank Danamon (BDMN)

Bank Danamon menjaga DPR stabil di level 35% selama lima tahun terakhir. Meski angka tersebut tergolong moderat, pertumbuhan laba yang konsisten membuat nilai dividen yang diterima investor terus meningkat. Pada tahun buku 2025, total dividen yang dibagikan mencapai Rp 1,4 triliun atau Rp 142 per saham.

Komisaris Utama Danamon, Yasushi Itagaki, menekankan bahwa keputusan ini mencerminkan tata kelola perusahaan yang baik. Artinya, dividen yang diberikan tidak hanya berdasarkan laba, tetapi juga pertimbangan strategis jangka panjang.

4. Permata Bank (BNLI)

BNLI mencatatkan peningkatan DPR dari 20% pada 2021 menjadi 35% di tahun buku 2025. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp 1, triliun atau Rp 35 per saham. Meski jumlahnya tidak sebesar BBCA atau BDMN, kenaikan DPR menunjukkan komitmen bank dalam memberikan apresiasi kepada investor.

5. Bank OCBC NISP (NISP)

Berbeda dari bank lain, OCBC NISP justru memangkas DPR menjadi 20% di tahun buku 2025, turun dari 50% di tahun sebelumnya. Meskipun laba bersih masih tumbuh 4% menjadi Rp 5,1 triliun, manajemen memilih untuk menahan pembayaran dividen demi menjaga struktur permodalan yang kuat.

Direktur Keuangan OCBC, Hartarti, menyatakan bahwa rasio kecukupan modal (CAR) bank masih kuat di level 24,5%. Ini menunjukkan bahwa langkah penghematan dividen lebih merupakan konservatif ketimbang tanda masalah finansial.

Perbandingan Dividen Bank Swasta Besar

Bank DPR 2021 DPR 2025 Dividen per Saham (2025) Total Dividen (Triliun)
BBCA 57% 72%
BNGA 57,68% 60%
BDMN 35% 35% Rp 142 Rp 1,4
BNLI 20% 35% Rp 35 Rp 1,3
NISP 50% 20% Rp 45

Catatan: Data dapat berubah tergantung kebijakan masing-masing bank dan kondisi pasar.

Strategi Bank Menghadapi Ketidakpastian Global

Di tengah tekanan dari suku bunga tinggi dan potensi perlambatan ekonomi global, bank swasta tidak serta merta mengejar dividen tinggi. Mereka lebih fokus pada stabilitas jangka panjang dan menjaga likuiditas agar tetap bisa mendukung ekspansi bisnis, terutama di sektor digital banking dan pembiayaan usaha produktif.

Strategi yang ditempuh antara lain optimalisasi pendapatan -bunga (fee-based income), efisiensi biaya dana, serta penjagaan kredit untuk menekan risiko kredit macet (NPL). Dengan pendekatan ini, dividen yang ditebar tetap menarik, tapi tidak mengorbankan masa depan perusahaan.

Apa Kata Pengamat?

Hendra Wardana, pengamat sekaligus pendiri Republik Investor, menilai bahwa konsistensi DPR bank swasta didukung oleh pertumbuhan laba yang solid dan yang terjaga pasca pandemi. Penurunan DPR seperti yang dilakukan OCBC dinilai sebagai langkah konservatif yang wajar mengingat ketidakpastian global.

Di sisi lain, Sukarno Alatas, Senior Analis Kiwoom Sekuritas, menyebut bahwa dividen perbankan masih menarik meski tidak lagi agresif. Tekanan dari penyempitan margin bunga dan perlambatan kredit membatasi ruang kenaikan DPR. Namun, permodalan yang kuat tetap menjadi jaminan bahwa dividen akan tetap berlanjut.

Kesimpulan

Bank swasta besar di Indonesia tetap menjadi pilihan menarik bagi investor yang mencari imbal hasil stabil. Meski ada yang memangkas dividen, secara umum bank-bank ini menjaga keseimbangan antara memberi apresiasi kepada pemegang saham dan menjaga kesehatan finansial jangka panjang.

Bagi investor, untuk melihat bukan hanya besaran dividen, tapi juga konsistensi, pertumbuhan laba, dan strategi jangka panjang bank tersebut. Dengan begitu, pilihan investasi bisa lebih tepat sasaran dan minim risiko.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan perusahaan serta kondisi pasar keuangan secara keseluruhan.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.