BNI mencatat pencapaian signifikan dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Februari 2026. Total realisasi kredit mencapai Rp1,7 triliun yang disalurkan kepada 7.607 debitur. Mayoritas penyaluran ini diserap oleh sektor perdagangan, yang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di Tanah Air.
Capaian ini menunjukkan bahwa BNI telah melampaui target yang ditetapkan, dengan alokasi proporsional mencapai 104%. Artinya, bank pelat merah ini bahkan melebihi ekspektasi dalam mendukung sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama periode awal tahun ini.
Kualitas Kredit KUR BNI Tetap Terjaga
Dari sisi kualitas portofolio, BNI berhasil menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) KUR di angka 2,70%. Angka ini tergolong rendah dan menunjukkan bahwa manajemen risiko yang diterapkan cukup efektif. Menurut Direktur Commercial Banking BNI, Muhammad Iqbal, kinerja ini didukung oleh penguatan pengelolaan risiko secara menyeluruh.
Rasio NPL yang stabil menjadi indikator bahwa penyaluran kredit tidak hanya cepat, tapi juga selektif. BNI berkomitmen menjaga kualitas pembiayaan agar tetap sehat di tengah dorongan percepatan penyaluran.
Sektor Prioritas Penerima KUR
Penyaluran KUR BNI hingga Februari 2026 didominasi oleh sektor perdagangan. Namun, sektor lain seperti pertanian, industri, dan jasa juga menunjukkan potensi besar untuk terus mendapat dukungan kredit. BNI juga menyesuaikan penyaluran dengan program prioritas pemerintah, khususnya di bidang ketahanan pangan.
Sebagai informasi, berikut rincian sektor penerima KUR BNI hingga Februari 2026:
| Sektor | Proporsi Penyaluran (%) |
|---|---|
| Perdagangan | 45% |
| Pertanian | 20% |
| Jasa | 18% |
| Industri | 12% |
| Lainnya | 5% |
Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan realisasi di lapangan.
Strategi BNI Dalam Meningkatkan Efisiensi Penyaluran KUR
Untuk menjaga keseimbangan antara kecepatan dan kualitas penyaluran, BNI mengandalkan digitalisasi. Proses pengajuan dan penilaian kelayakan debitur kini lebih cepat dan akurat berkat pemanfaatan teknologi.
Langkah-langkah strategis yang diambil BNI antara lain:
- Digitalisasi proses pengajuan dan verifikasi debitur
- Penguatan sistem manajemen risiko berbasis data
- Kolaborasi dengan lembaga pemerintah untuk sinkronisasi program prioritas
- Fokus pada sektor produktif dan berdampak langsung pada perekonomian rakyat
Melalui pendekatan ini, BNI optimistis dapat terus meningkatkan volume penyaluran KUR sepanjang 2026 tanpa mengorbankan kualitas portofolio.
Perbandingan Penyaluran KUR BNI dengan Bank Lain
Dalam konteks perbankan nasional, BNI bukan satu-satunya bank yang aktif menyalurkan KUR. Bank Mandiri dan BRI juga mencatatkan angka penyaluran yang cukup besar. Berikut perbandingan realisasi KUR hingga Februari 2026:
| Bank | Realisasi KUR (Rp Triliun) |
|---|---|
| BNI | 1,7 |
| Bank Mandiri | 7,35 |
| BRI | 31,42 |
Catatan: Data BRI terakhir hingga Oktober 2025 menunjukkan angka Rp31,42 triliun, sehingga total akhir Februari 2026 bisa lebih tinggi.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski pencapaian BNI tergolong solid, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah memastikan bahwa penyaluran KUR tidak hanya cepat, tapi juga tepat sasaran. Terlebih di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah, pengelolaan risiko menjadi semakin penting.
Namun, peluang tetap terbuka lebar. Dengan dukungan pemerintah dan semakin matangnya ekosistem digital, BNI punya ruang untuk terus memperluas jangkauan KUR ke pelosok daerah dan kalangan UMKM yang selama ini belum tersentuh.
Kesimpulan
Penyaluran KUR BNI sebesar Rp1,7 triliun hingga Februari 2026 menunjukkan komitmen kuat bank ini dalam mendukung ekonomi kerakyatan. Dengan rasio NPL yang terjaga dan strategi digital yang terus diperkuat, BNI berada di jalur yang tepat untuk terus menjadi andalan UMKM di Indonesia.
Namun, perjalanan belum selesai. Di tengah persaingan antarbank dan tantangan eksternal, BNI harus terus adaptif dan inovatif agar bisa menjaga momentum ini sepanjang tahun.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













