Finansial

Waspadai Risiko Kredit 2026, Bank Soroti Ancaman di Sektor Industri dan Perdagangan Ini Faktor Utamanya

Rista Wulandari
×

Waspadai Risiko Kredit 2026, Bank Soroti Ancaman di Sektor Industri dan Perdagangan Ini Faktor Utamanya

Sebarkan artikel ini
Waspadai Risiko Kredit 2026, Bank Soroti Ancaman di Sektor Industri dan Perdagangan Ini Faktor Utamanya

Industri pengolahan dan perdagangan masih menjadi andalan utama dalam pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia. Meski begitu, sejumlah risiko mulai mengintai, terutama seiring lonjakan energi global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Kondisi ini berpotensi menekan profitabilitas pelaku usaha dan meningkatkan .

mencatat bahwa penyaluran kredit ke sektor industri pengolahan mencapai Rp 400,6 triliun pada Desember 2025, naik 18,9% secara tahunan. Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran juga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 63,53%. Angka ini menunjukkan bahwa kedua sektor tersebut tetap menjadi pilar penting bagi ekspansi kredit produktif.

Mengapa Bank Mulai Waspada?

Lonjakan harga energi global bukan isu biasa. Ini berdampak langsung pada struktur biaya operasional pelaku usaha, khususnya di sektor yang sangat sensitif terhadap harga bahan baku dan biaya logistik. Dalam kondisi normal, industri pengolahan dan perdagangan bisa tumbuh stabil. Namun saat tekanan eksternal datang, margin keuntungan bisa tergerus, dan kemampuan bayar debitur pun ikut terancam.

1. Lonjakan Biaya Produksi dan Logistik

Salah satu langsung dari kenaikan harga energi adalah lonjakan biaya produksi. Banyak perusahaan terpaksa menyesuaikan harga jual, yang bisa berujung pada penurunan daya beli konsumen. Ini menciptakan lingkaran tekanan yang berpotensi mengganggu aliran kas perusahaan.

2. Tekanan pada Margin Usaha

Margin usaha yang sempit membuat banyak perusahaan rentan terhadap fluktuasi harga. Saat biaya input naik, tapi harga jual tidak bisa diikuti proporsional, laba bisa terkikis. Ini berdampak pada kemampuan perusahaan untuk membayar angsuran pinjaman tepat waktu.

Data Kredit Terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan

(OJK) mencatat bahwa hingga akhir 2025, kredit ke sektor industri pengolahan tumbuh 5,94% secara tahunan, dengan proporsi 15,08% dari total kredit. Di sisi lain, sektor perdagangan tumbuh 3,88% yoy, menyumbang 14,50% dari total kredit yang beredar.

Sektor Pertumbuhan Kredit (YoY) Proporsi terhadap Total Kredit
Industri Pengolahan 5,94% 15,08%
Perdagangan 3,88% 14,50%

Meski angka pertumbuhan masih positif, OJK mencatat bahwa Performing Loan (NPL) sektor ini masih terkendali, yakni berada di bawah ambang batas 5%. Secara keseluruhan, NPL bruto per Februari 2026 tercatat sebesar 2,17%, dengan Loan at Risk (LaR) sebesar 9,24%.

Strategi Perbankan dalam Menghadapi Risiko

Perbankan tidak tinggal diam. Banyak institusi mulai menerapkan pendekatan yang lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Salah satu langkah yang diambil adalah memperketat seleksi calon debitur, terutama di sektor yang rentan terhadap gejolak eksternal.

1. Seleksi Debitur yang Ketat

Bank mulai fokus pada debitur dengan fundamental kuat, termasuk riwayat pembayaran yang bersih dan arus kas yang stabil. Ini menjadi filter penting agar kualitas kredit tetap terjaga.

2. Stress Testing terhadap Skenario Inflasi

Beberapa bank melakukan simulasi terhadap berbagai skenario kenaikan harga energi. Tujuannya untuk memprediksi dampak terhadap kemampuan bayar debitur dan menyiapkan mitigasi yang tepat.

3. Diversifikasi Portofolio Kredit

Alih-alih hanya mengandalkan sektor tertentu, bank juga mulai menyeimbangkan portofolio dengan sektor yang lebih tahan banting terhadap , seperti infrastruktur dan pertanian.

Respons dari Pelaku Industri Perbankan

OK Bank mencatat bahwa realisasi kredit di sektor perdagangan dan industri pengolahan mencapai sekitar 25% dari total portofolio kreditnya. Direktur OK Bank, Efdinal Alamsyah, menyebut bahwa permintaan kredit di kedua sektor ini masih cukup stabil, sejalan dengan pemulihan konsumsi domestik dan peningkatan aktivitas produksi.

KB Bank juga mencatat hal serupa. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyampaikan bahwa permintaan di sektor perdagangan dan industri pengolahan masih solid, terutama untuk kebutuhan modal kerja dan rantai pasok.

Proyeksi Risiko Kredit di Tahun 2026

Meskipun kondisi saat ini masih terkendali, proyeksi ke depan menunjukkan adanya potensi kenaikan NPL jika tekanan harga energi dan suku bunga terus berlanjut. Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, memperkirakan NPL perbankan pada 2026 akan tetap berada di kisaran 2,3%, meski ada potensi kenaikan jika situasi global semakin memburuk.

1. Ancaman Inflasi dan Suku Bunga

Inflasi yang tinggi dan suku bunga acuan yang naik bisa memperlebar tekanan pada sektor usaha kecil dan menengah. Ini berpotensi meningkatkan jumlah kredit bermasalah.

2. Sensitivitas terhadap Harga Energi

Sektor yang bergantung pada energi dan bahan baku impor menjadi sorotan utama. Fluktuasi harga bisa langsung memengaruhi profitabilitas dan kemampuan bayar debitur.

Kesimpulan

Industri pengolahan dan perdagangan tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan kredit perbankan. Namun, lonjakan harga energi global dan ketegangan geopolitik mulai mengintai. Bank harus lebih selektif dalam menyalurkan kredit, sekaligus memperkuat mitigasi risiko. Di sinilah kunci agar pertumbuhan kredit tetap berjalan sehat tanpa mengorbankan sistem keuangan.

Disclaimer: Data dan proyeksi dalam ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Februari 2026. Situasi geopolitik dan ekonomi global dapat berubah sewaktu-waktu dan memengaruhi kondisi riil di lapangan.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.