Finansial

Strategi Cuan 2026 dengan Membeli Saham BBRI di Tengah Tren Harga yang Sedang Diskon

Herdi Alif Al Hikam
×

Strategi Cuan 2026 dengan Membeli Saham BBRI di Tengah Tren Harga yang Sedang Diskon

Sebarkan artikel ini
Strategi Cuan 2026 dengan Membeli Saham BBRI di Tengah Tren Harga yang Sedang Diskon

Dinamika saham global yang sedang tidak menentu sering kali membuat pelaku pasar merasa cemas. Fluktuasi rupiah dan sentimen ekonomi makro menjadi tantangan tersendiri bagi siapa pun yang ingin menempatkan modal.

Namun, di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan, justru muncul peluang menarik bagi investor yang memiliki orientasi jangka panjang. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Hery Gunardi, memberikan pandangan strategis mengenai cara menyikapi penurunan harga saham di pasar modal.

Memahami Kualitas di Balik Harga Saham

Menilai sebuah emiten tidak bisa hanya terpaku pada pergerakan harga harian yang naik atau turun. Fokus utama seharusnya terletak pada fundamental perusahaan serta bagaimana kinerja bisnis tersebut bertahan dalam jangka waktu lama.

Saham dengan kategori blue sering kali menjadi pilihan paling aman saat terjadi gejolak pasar. Perusahaan yang memiliki rekam jejak solid dan manajemen yang teruji cenderung lebih mampu melewati masa sulit dibandingkan emiten lainnya.

Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk menambah saham:

  1. Analisis fundamental perusahaan secara mendalam.
  2. Perhatikan konsistensi pembagian dividen dari tahun ke tahun.
  3. Evaluasi keuangan untuk memastikan kesehatan arus kas.
  4. Tentukan cakrawala waktu investasi, apakah jangka pendek atau jangka panjang.

Setelah memahami kondisi internal perusahaan, investor dapat lebih tenang saat menghadapi volatilitas pasar. Langkah selanjutnya adalah melihat bagaimana emiten tersebut memberikan nilai tambah bagi para pemegang sahamnya melalui kebijakan korporasi.

Mengapa Saham BBRI Menarik untuk Jangka Panjang

saat ini menjadi sorotan karena harganya yang berada di level cukup rendah dalam lima tahun terakhir. Meskipun harga sedang mengalami tekanan, fundamental perusahaan dinilai tetap kokoh oleh manajemen.

Salah satu daya tarik utama dari saham ini adalah kebijakan pembagian dividen yang sangat royal. Rasio yang tinggi menjadi bukti bahwa perusahaan tetap mampu mencetak laba bersih yang signifikan di tengah tantangan ekonomi.

Berikut adalah rincian mengenai performa dividen dan keuntungan yang ditawarkan:

  • Total dividen tunai tahun buku 2025 mencapai Rp 52,1 triliun.
  • Persentase dividen setara dengan 91,19% dari total laba bersih.
  • Rasio payout dividen konsisten berada di atas 80% sejak tahun 2021.
  • Estimasi return tahunan berada di kisaran 10% hingga 11%.

Tabel di bawah ini memberikan gambaran antara potensi keuntungan investasi saham dengan instrumen perbankan konvensional:

Instrumen Investasi Estimasi Imbal Hasil (Return) Tingkat Risiko
Saham Blue Chip (BBRI) 10% – 11% per tahun Menengah – Tinggi
Deposito Perbankan Sekitar 7% per tahun Rendah

Data di atas menunjukkan bahwa potensi return dari dividen saham blue chip masih lebih unggul dibandingkan bunga deposito standar. Tentu saja, angka tersebut bersifat dinamis dan bergantung pada kebijakan perusahaan serta kondisi pasar di masa depan.

Langkah Strategis Menghadapi Fluktuasi Pasar

Investasi di pasar saham memerlukan kesabaran dan strategi yang matang. Bagi investor yang memiliki target jangka panjang, seperti 5 hingga 20 tahun, penurunan harga saat ini justru bisa menjadi momentum untuk akumulasi secara bertahap.

Menghindari kepanikan saat harga saham turun adalah kunci utama dalam menjaga psikologi investasi. Fokus pada kualitas perusahaan akan membantu investor tetap rasional dalam mengambil keputusan di tengah situasi pasar yang tidak menentu.

Berikut adalah tahapan yang bisa dilakukan investor untuk mengoptimalkan portofolio:

  1. Lakukan dollar cost averaging atau pembelian bertahap untuk meminimalisir risiko fluktuasi harga.
  2. Pastikan alokasi dana investasi berasal dari dana dingin yang tidak digunakan untuk kebutuhan mendesak.
  3. Pantau terus kinerja keuangan kuartalan untuk memastikan fundamental perusahaan tidak berubah.
  4. Manfaatkan dividen yang diterima untuk melakukan investasi kembali (reinvest) guna memaksimalkan efek bunga majemuk.

Perlu diingat bahwa setiap keputusan investasi memiliki risiko inheren yang harus dipahami oleh setiap investor. Data kinerja masa lalu tidak menjamin hasil yang sama di masa depan, dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu karena faktor eksternal maupun internal.

Selalu lakukan riset mandiri atau konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan besar. Pastikan profil risiko pribadi selaras dengan instrumen investasi yang dipilih agar tujuan keuangan dapat tercapai dengan optimal.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.