Tanpa guru honorer, dunia pendidikan Indonesia bisa terancam lumpuh. Ancaman ini bukan sekadar lebay, tapi sudah mulai terlihat dampak riil di lapangan. Banyak sekolah, terutama di wilayah terpencil, sangat bergantung pada tenaga guru honorer untuk menjaga roda pendidikan tetap berputar. Mereka bekerja tanpa status pegawai negeri, tanpa jaminan masa depan, tapi tetap bertahan karena panggilan profesi dan kebutuhan ekonomi.
Anggota Komisi X DPR RI, Furtasan Ali Yusuf, menyuarakan keprihatinan ini secara tegas. Menurutnya, kebijakan yang ingin menghilangkan keberadaan guru honorer tanpa solusi pengganti yang matang bisa berujung pada krisis pendidikan. Kalau sampai semua honorer diberhentikan, efek domino akan terasa di mana-mana. Terutama di sekolah-sekolah kecil yang belum sempat tersentuh rekrutmen guru tetap.
Ketergantungan Sekolah pada Guru Honorer
Banyak daerah di Indonesia masih kekurangan guru. Seleksi CPNS dan PPPK memang sudah digelar, tapi jumlahnya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan. Di sinilah peran guru honorer menjadi penting. Mereka datang sebagai solusi cepat, meski sementara, untuk menjaga proses belajar mengajar tetap berjalan.
Sekolah-sekolah di pelosok daerah, yang sulit dijangkau oleh guru lulusan seleksi resmi, sangat rentan terhadap kebijakan penghapusan honorer. Tanpa mereka, anak-anak bisa kehilangan akses ke pendidikan dasar. Padahal, itulah hak dasar yang seharusnya bisa dinikmati semua anak bangsa.
1. Sekolah Kecil dan Wilayah Terpencil Paling Rentan
Di daerah-daerah dengan jumlah penduduk sedikit, alokasi guru sering kali tidak proporsional. Sekolah dengan jumlah siswa kurang dari 50 orang, misalnya, belum tentu bisa mendapat alokasi guru tetap dari pemerintah. Inilah celah yang diisi oleh guru honorer.
2. Mata Pelajaran Strategis yang Masih Kurang Tenaga
Beberapa mata pelajaran seperti IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris masih kekurangan guru yang kompeten. Banyak honorer yang mengajar di bidang ini karena memang belum ada guru tetap yang bersedia atau mampu mengisi. Penghapusan honorer tanpa persiapan bisa membuat kualitas pendidikan di bidang ini menurun drastis.
Kenapa Kebijakan Harus Dipertimbangkan Ulang?
Kebijakan penghapusan guru honorer biasanya didasari oleh prinsip regulasi dan profesionalitas. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan bahwa tanpa mereka, sistem pendidikan bisa ambrol. Bukan hanya soal jumlah guru, tapi juga soal distribusi dan keberlanjutan proses belajar mengajar.
1. Belum Adanya Pengganti yang Siap
Saat ini, jumlah guru PPPK dan CPNS masih belum mencukupi. Apalagi kalau harus menunggu proses rekrutmen yang bisa memakan waktu bertahun-tahun. Banyak sekolah tidak sanggup menunggu selama itu. Anak-anak butuh guru hari ini, bukan tahun depan.
2. Biaya Operasional Sekolah Tetap Harus Dijaga
Guru honorer biasanya digaji dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Meskipun upahnya rendah, keberadaan mereka membantu kepala sekolah mengatur anggaran dan tetap menjaga aktivitas akademik berjalan.
3. Kondisi Emosional dan Sosial Guru Honorer
Banyak guru honorer sudah bertahun-tahun mengabdi. Ada yang bahkan lebih dari satu dekade tanpa status kepegawaian. Mereka bukan cuma tenaga pengajar, tapi juga bagian dari masyarakat setempat. Kepergian mereka bisa meninggalkan trauma sosial di lingkungan sekolah.
Solusi yang Lebih Bijak
Alih-alih langsung memberhentikan guru honorer, langkah yang lebih bijak adalah mengakomodasi mereka dalam sistem kepegawaian yang lebih stabil. Ini bukan soal memberi kemudahan semata, tapi soal keadilan dan keberlanjutan sistem pendidikan nasional.
1. Evaluasi Kinerja dan Integrasi Bertahap
Guru honorer yang sudah bertahun-tahun mengajar dan memiliki rekam jejak baik bisa dimasukkan ke dalam jalur khusus PPPK atau pegawai kontrak permanen. Evaluasi bisa dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas mengajar tetap terjaga.
2. Penyediaan Dana Khusus untuk Tunjangan Guru Honorer
Pemerintah daerah bisa menyediakan dana khusus untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer. Ini termasuk tunjangan transport, insentif mengajar, hingga jaminan hari tua. Tujuannya agar mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus mengabdi.
3. Program Pelatihan dan Sertifikasi Gratis
Meningkatkan kapasitas guru honorer melalui pelatihan bisa menjadi langkah awal sebelum integrasi mereka ke sistem kepegawaian. Dengan begitu, mereka bisa memenuhi standar nasional guru yang ditetapkan Kemendikbudristek.
Data Perbandingan Guru Honorer dan Guru Tetap
| Parameter | Guru Honorer | Guru Tetap (CPNS/PPPK) |
|---|---|---|
| Status Kepegawaian | Tidak tetap | Pegawai Negeri/Terampil |
| Tunjangan | Terbatas | Lengkap (BPJS, THR, pensiun) |
| Mobilitas Kerja | Tinggi (sering pindah tempat) | Stabil |
| Kesejahteraan | Rendah | Tinggi |
| Masa Kerja | Tidak dihitung secara resmi | Diakui negara |
Disclaimer
Data dan kondisi guru honorer bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan pemerintah daerah maupun pusat. Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga Mei 2024. Kebijakan baru tentang rekrutmen guru dan penghapusan honorer mungkin akan mengubah situasi di lapangan.
Langkah terbaik saat ini adalah dialog terbuka antara DPR, Kemendikbudristek, pemerintah daerah, dan stakeholder pendidikan lainnya. Guru honorer bukan masalah yang perlu dihapus, tapi potensi yang perlu dikelola dengan bijak. Tanpa mereka, risiko kolapsnya sistem pendidikan bukan cuma retorika, tapi bisa jadi kenyataan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













