Edukasi

DPR Tolak Rencana Aktivasi Kembali Sekolah Online, Esti Wijayanti Paparkan Ancaman Baru bagi Peserta Didik

Herdi Alif Al Hikam
×

DPR Tolak Rencana Aktivasi Kembali Sekolah Online, Esti Wijayanti Paparkan Ancaman Baru bagi Peserta Didik

Sebarkan artikel ini
DPR Tolak Rencana Aktivasi Kembali Sekolah Online, Esti Wijayanti Paparkan Ancaman Baru bagi Peserta Didik

Wacana pemerintah untuk kembali menerapkan pembelajaran daring di sekolah demi efisiensi anggaran langsung mendapat respons tajam dari DPR RI. Komisi X DPR menilai langkah ini justru berisiko menurunkan kualitas pendidikan nasional. Penolakan ini tak main-main, mengingat dampak pembelajaran jarak jauh selama pandemi masih terasa hingga kini.

Pendekatan daring memang kerap dianggap sebagai solusi untuk menghemat biaya. Namun, DPR menilai bahwa efisiensi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Apalagi, pengalaman sebelumnya sudah menunjukkan sejumlah tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Penolakan DPR dan Alasan di Baliknya

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, secara tegas menyatakan bahwa efisiensi anggaran bukan alasan kuat untuk kembali ke sistem pembelajaran daring. Menurutnya, masalah pendidikan saat ini bukan terletak pada besar kecilnya anggaran, tetapi pada bagaimana dana tersebut dialokasikan dan dimanfaatkan secara efektif.

MY Esti juga mengingatkan bahwa sistem daring selama pandemi lalu menimbulkan berbagai masalah nyata. Banyak siswa terutama di terpencil mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran karena minimnya akses internet. Belum lagi kesiapan guru dan fasilitas pendukung yang belum merata di seluruh Indonesia.

  1. Keterbatasan akses internet di wilayah pelosok
  2. Kesenjangan fasilitas antara daerah perkotaan dan pedesaan
  3. Kesiapan tenaga pendidik yang belum merata

Ketiga poin ini menjadi alasan kuat mengapa kebijakan pembelajaran daring tidak serta merta bisa diulang. Terlebih, dampaknya bisa memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah.

Risiko Jangka Panjang dari Pembelajaran Daring

Kembali ke sistem daring bukan hanya masalah teknis, tapi juga soal dampak jangka panjang terhadap kualitas pendidikan. Banyak studi menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka memberikan hasil lebih baik dalam hal interaksi, materi, dan pembentukan karakter siswa.

Belum lagi, tidak semua siswa memiliki kemampuan belajar mandiri yang tinggi. Tanpa pendampingan langsung dari guru, risiko tertinggalnya siswa dari keluarga kurang mampu semakin besar. Ini bisa memicu yang lebih dalam.

  1. Penurunan kualitas interaksi antara guru dan siswa
  2. Risiko tertinggalnya siswa tanpa akses teknologi memadai
  3. Dampak psikologis akibat kurangnya interaksi sosial langsung

DPR menilai bahwa kebijakan pendidikan harus mempertimbangkan aspek ini secara menyeluruh. Efisiensi anggaran penting, tapi tidak boleh dilakukan dengan cara yang justru merugikan generasi muda.

Posisi Pemerintah dan Penegasan DPR

Pemerintah sendiri menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak akan menyentuh program pendidikan yang bersifat prioritas. Beasiswa, sekolah, dan kesejahteraan guru tetap menjadi fokus utama. Namun, wacana pembelajaran daring tetap menuai pro-kontra karena dinilai belum memperhitungkan dampak sosial dan pendidikan secara matang.

Komisi X DPR RI juga menyatakan akan terus mengawasi pelaksanaan kebijakan pendidikan. Setiap langkah yang diambil harus tetap menjaga kualitas dan keberlanjutan sistem pendidikan nasional. Kebijakan yang terkesan terburu-buru atau hanya mengedepankan aspek ekonomi bisa berdampak buruk dalam jangka panjang.

Alternatif Solusi yang Lebih Seimbang

Alih-alih kembali ke sistem daring, DPR menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada anggaran yang sudah ada. Ada banyak program pendidikan yang bisa dievaluasi dan dikelola lebih efisien tanpa harus mengurangi hak siswa untuk belajar secara langsung.

Beberapa alternatif yang bisa dipertimbangkan antara lain:

  • Meningkatkan efektivitas penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah)
  • Mempercepat penyebaran infrastruktur digital ke sekolah-sekolah di daerah tertinggal
  • Memberikan teknologi bagi guru agar lebih siap menghadapi berbagai model pembelajaran
  • Mendorong kolaborasi antara pemerintah dan swasta untuk mendukung akses teknologi pendidikan

Langkah-langkah ini bisa menjadi solusi jangka menengah yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan kembali ke sistem daring secara masif.

Kesimpulan

Debat antara kebijakan efisiensi dan kualitas pendidikan masih berlangsung. Namun, satu hal yang jelas: setiap kebijakan pendidikan harus tetap menempatkan kepentingan siswa sebagai prioritas utama. Pembelajaran daring mungkin efisien secara , tapi risikonya terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari pemerintah terkait rencana kembali ke sistem pembelajaran daring secara luas. Namun, dengan penolakan tegas dari DPR, tampaknya langkah ini masih harus melalui pembahasan yang lebih matang.

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat terkini sesuai dengan perkembangan terakhir hingga tanggal publikasi. Kebijakan pemerintah bisa berubah sewaktu-waktu tergantung situasi dan kondisi yang berkembang.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.