Investasi emas sering kali dipandang sebagai pelabuhan aman di tengah gejolak ekonomi. Namun, di industri asuransi, proporsi emas dalam portofolio investasi ternyata sangat kecil. Bahkan, datanya hanya 0,0005% dari total investasi. Angka ini terkesan mengejutkan, mengingat emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai yang andal.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa hingga Januari 2026, total investasi emas di sektor asuransi baru mencapai sekitar Rp3,4 miliar. Padahal, regulasi yang dikeluarkan dalam POJK No. 5/2023 memang sudah mengizinkan perusahaan asuransi menempatkan dana di instrumen emas murni. Tapi faktanya, pemanfaatannya masih sangat minim.
Mengapa Emas Tak Populer di Industri Asuransi?
Ada beberapa alasan mengapa emas belum menjadi pilihan utama di kalangan perusahaan asuransi. Meski diizinkan secara regulasi, penggunaannya masih terbatas karena berbagai pertimbangan strategis dan operasional.
1. Kesesuaian Profil Risiko dan Kewajiban
Perusahaan asuransi punya kewajiban jangka panjang terhadap nasabahnya. Oleh karena itu, setiap keputusan investasi harus disesuaikan dengan profil risiko dan karakteristik kewajiban tersebut. Misalnya, PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) lebih memilih instrumen yang lebih stabil dan dapat diprediksi, seperti Surat Berharga Negara (SBN).
Hengky Djojosantoso, Direktur Utama Ciputra Life, menjelaskan bahwa emas memang bisa menjadi safe haven. Namun, jika tidak sesuai dengan profil kewajiban, investasi emas justru bisa menimbulkan risiko mismatch. Artinya, ketika klaim nasabah jatuh tempo, perusahaan bisa kesulitan memenuhinya jika aset tidak likuid.
2. Likuiditas Emas Masih Dipertanyakan
Likuiditas adalah kunci dalam bisnis asuransi. Uang harus siap sedia kapan pun klaim diajukan. Sayangnya, emas fisik belum tentu bisa dicairkan dengan cepat tanpa kehilangan nilai. Budi Herawan, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), menyebut bahwa emas belum menjadi pilihan karena tidak secepat deposito atau SBN dalam hal likuiditas.
| Instrumen Investasi | Likuiditas | Risiko | Cocok untuk Asuransi? |
|---|---|---|---|
| Emas Fisik | Rendah | Sedang | Tidak Ideal |
| ETF Emas | Sedang | Rendah | Potensial |
| SBN | Tinggi | Rendah | Ideal |
| Deposito | Tinggi | Sangat Rendah | Sangat Ideal |
3. Biaya Penyimpanan dan Spread Tinggi
Investasi emas fisik memerlukan biaya penyimpanan yang tidak bisa diabaikan. Selain itu, spread antara harga jual dan beli emas juga cukup tinggi. Hal ini membuat investasi emas kurang efisien dibandingkan instrumen lain yang lebih likuid dan transparan.
Kapler Marpaung, dosen dan pengamat asuransi dari UGM, menyebut bahwa emas lebih berfungsi sebagai hedge, bukan sebagai aset penghasil income. Artinya, emas tidak menghasilkan dividen atau kupon seperti saham atau obligasi.
Strategi Investasi Asuransi yang Umum Digunakan
Perusahaan asuransi cenderung memilih instrumen yang lebih stabil dan mudah dikelola. Berikut beberapa pilihan utama yang digunakan saat ini:
1. Surat Berharga Negara (SBN)
SBN menjadi pilihan utama karena aman dan memberikan imbal hasil tetap. Ciputra Life, misalnya, menempatkan lebih dari 50% investasinya di SBN. Jika ditambah dengan obligasi korporasi, total investasi dalam instrumen pendapatan tetap mencapai 80%.
2. Deposito Berjangka
Deposito tetap menjadi primadona karena likuiditasnya tinggi dan risikonya sangat rendah. PT Great Eastern General Insurance (GEGI) menempatkan sekitar 65% investasinya dalam bentuk deposito berjangka.
3. Obligasi Korporasi
Instrumen ini memberikan return yang lebih tinggi dibandingkan SBN, tapi tetap dalam batas risiko yang dapat diterima. Cocok untuk diversifikasi portofolio.
Potensi ETF Emas di Masa Depan
Meski emas fisik belum populer, Exchange Traded Fund (ETF) Emas mulai menarik perhatian. Andy Soen, Finance Director GEGI, menyebut bahwa ETF emas lebih efisien dari segi biaya dan likuiditas dibandingkan emas batangan.
ETF emas bisa menjadi solusi menarik karena:
- Lebih likuid
- Biaya penyimpanan lebih rendah
- Mudah diperdagangkan
- Cocok untuk tujuan lindung nilai jangka panjang
Namun, Kapler Marpaung menekankan bahwa ekosistem pasar emas di Indonesia masih perlu diperkuat agar ETF emas bisa berkembang secara optimal.
Faktor Budaya dan Literasi Keuangan
Rendahnya investasi emas di sektor asuransi tidak lepas dari faktor budaya dan literasi keuangan. Masyarakat Indonesia masih lebih familiar dengan tabungan dan deposito. Sementara itu, literasi soal emas sebagai instrumen investasi masih rendah.
Bandingkan dengan negara seperti India dan China, di mana investasi emas mencapai puluhan persen dari total portofolio. Di Indonesia, angkanya masih jauh di bawah 1%. Ini menunjukkan bahwa ada celah besar yang bisa dimanfaatkan di masa depan.
Kesimpulan
Meski emas memiliki nilai sebagai instrumen lindung nilai, industri asuransi di Indonesia belum memanfaatkannya secara optimal. Alasannya utamanya adalah karena emas tidak sesuai dengan karakteristik bisnis asuransi yang membutuhkan likuiditas tinggi dan kepastian cash flow.
Namun, dengan berkembangnya instrumen seperti ETF emas dan peningkatan literasi keuangan, potensi emas sebagai bagian dari portofolio investasi asuransi bisa meningkat. Tapi, tentu saja, ini harus didukung oleh ekosistem pasar yang lebih matang dan regulasi yang lebih ramah.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika pasar dan kebijakan regulator.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.









