Industri asuransi dan reasuransi di Tanah Air sedang memasuki babak baru dalam tata kelola risiko. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji penerapan New RBC atau Risk-Based Capital berdasarkan PSAK 117. Aturan ini dirancang untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kebutuhan modal perusahaan sesuai dengan risiko yang dihadapi. Namun, di balik potensi manfaatnya, penerapan New RBC juga membawa sejumlah tantangan yang tak bisa diabaikan.
Dengan pendekatan yang lebih dinamis dan kompleks, New RBC menuntut perusahaan untuk melihat lebih dalam pada struktur risiko mereka. Ini bukan sekadar soal modal, tapi juga soal data, sistem, dan keahlian yang dibutuhkan. Banyak pihak melihat bahwa perubahan ini bisa menjadi katalis transformasi industri, tapi juga bisa menjadi beban jika tidak disiapkan dengan matang.
Tantangan Utama dalam Penerapan New RBC
Penerapan New RBC bukan perkara yang bisa dilakukan semalam. Ada beberapa tantangan struktural yang perlu dihadapi oleh perusahaan asuransi dan reasuransi agar bisa siap dengan aturan baru ini. Tantangan-tantangan ini mencakup aspek teknologi, SDM, hingga pengelolaan data yang selama ini mungkin belum sepenuhnya optimal.
1. Kesiapan Data dan Model Risiko
Salah satu tantangan terbesar adalah kesiapan data historis dan model risiko yang digunakan. New RBC membutuhkan data yang lengkap dan berkualitas tinggi, terutamanya dalam hal underwriting dan klaim. Tidak cukup hanya memiliki data, tapi juga harus bisa dimodelkan secara akurat.
Sayangnya, banyak perusahaan masih berada dalam tahap penguatan data governance dan analytics. Artinya, mereka belum sepenuhnya siap untuk menerapkan model risiko yang kompleks, apalagi yang bersifat stochastic seperti yang diminta dalam New RBC.
2. Ketersediaan SDM yang Kompeten
Tantangan kedua terkait dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keahlian aktuaria dan manajemen risiko. New RBC membutuhkan aktuaria, risk modeler, dan analis keuangan yang paham tentang capital modelling dan stochastic modelling.
Di Indonesia, jumlah SDM dengan keahlian ini masih terbatas. Ini menjadi hambatan tersendiri karena implementasi yang sukses sangat bergantung pada kemampuan tim internal untuk memahami dan menjalankan model-model tersebut secara mandiri.
3. Investasi Teknologi yang Tinggi
Penerapan New RBC juga membutuhkan investasi besar dalam sistem teknologi. Perusahaan harus siap menggelontorkan dana untuk platform data warehouse, sistem manajemen risiko, hingga software khusus untuk capital modelling.
Investasi ini bisa meningkatkan biaya operasional di fase awal, terutama bagi perusahaan yang belum memiliki infrastruktur teknologi yang memadai. Ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi perusahaan kecil yang belum siap secara finansial.
4. Potensi Tekanan pada Kebutuhan Modal
New RBC bisa berdampak langsung pada kebutuhan modal perusahaan. Lini bisnis dengan volatilitas tinggi seperti asuransi kesehatan, kredit, atau bencana alam bisa saja memerlukan capital charge yang lebih besar.
Akibatnya, perusahaan harus meninjau ulang strategi underwriting atau reasuransi mereka. Ini bisa memaksa perubahan besar dalam cara bisnis dijalankan, terutama dalam hal pengambilan risiko dan alokasi modal.
Manfaat Jangka Panjang New RBC
Meski tantangan terasa berat, penerapan New RBC juga membawa sejumlah manfaat strategis. Manfaat ini mungkin tidak langsung terlihat, tapi akan terasa dalam jangka panjang.
1. Pengukuran Risiko yang Lebih Akurat
Dengan New RBC, pengukuran risiko menjadi lebih tepat sasaran. Perusahaan bisa memahami eksposur risiko mereka dengan lebih baik, sehingga kebutuhan modal bisa disesuaikan secara lebih realistis.
2. Mendorong Disiplin Manajemen Risiko
New RBC mendorong penerapan Enterprise Risk Management (ERM) yang lebih kuat. Kualitas pengelolaan risiko akan berdampak langsung pada struktur modal, sehingga perusahaan terdorong untuk mengelola risiko secara lebih profesional.
3. Meningkatkan Kepercayaan Pasar
Dengan standar solvabilitas yang lebih kuat, New RBC bisa meningkatkan kepercayaan investor, nasabah, dan mitra reasuransi internasional. Ini penting untuk mendukung ekspansi bisnis dan daya saing di kancah global.
Progres Penerapan New RBC di Indonesia
OJK saat ini sedang melakukan uji coba New RBC untuk perusahaan asuransi dan reasuransi dengan ekuitas di atas Rp5 triliun. Ini merupakan langkah awal sebelum diterapkan secara menyeluruh.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian OJK, Ogi Prastomiyono, menyebut bahwa penyesuaian kerangka RBC ditargetkan rampung pada tahun 2026. Implementasi akan dilakukan secara bertahap mulai 2027, dengan uji coba terlebih dahulu.
Tabel berikut menunjukkan progres rencana implementasi New RBC:
| Tahun | Tahapan |
|---|---|
| 2026 | Finalisasi kerangka RBC, uji coba awal |
| 2027 | Implementasi bertahap untuk perusahaan besar |
| 2028 dan seterusnya | Ekspansi ke perusahaan dengan modal lebih kecil |
Kesiapan Industri Menuju New RBC
Meski penerapan New RBC masih dalam tahap awal, beberapa perusahaan besar seperti PT Asuransi Asei Indonesia sudah mulai mempersiapkan diri. Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, Direktur Utama Asei, menyebut bahwa perusahaan sedang menyesuaikan model risiko dan metodologi perhitungan.
Namun, ia juga menekankan bahwa dampaknya tidak akan langsung terasa dalam jangka pendek. Perusahaan masih dalam fase adaptasi, baik dari segi sistem, SDM, maupun data.
Penutup
New RBC adalah langkah maju yang penting bagi industri asuransi dan reasuransi di Indonesia. Aturan ini bisa menjadi fondasi untuk industri yang lebih sehat dan berdaya saing global. Tapi, perjalanan menuju penerapan penuh masih panjang dan penuh tantangan.
Perusahaan perlu mulai mempersiapkan diri dari sekarang, baik dalam hal SDM, teknologi, maupun pengelolaan data. Tanpa persiapan yang matang, New RBC justru bisa menjadi beban yang memperlambat pertumbuhan.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan regulasi dan kebijakan OJK. Data dan timeline yang disebutkan merupakan hasil kajian dan rencana yang belum tentu final.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.









