Asuransi

Industri Asuransi Jiwa Raup Premi Rp181 Triliun di Tahun 2025, Simak Informasi Selengkapnya

Rista Wulandari
×

Industri Asuransi Jiwa Raup Premi Rp181 Triliun di Tahun 2025, Simak Informasi Selengkapnya

Sebarkan artikel ini
Industri Asuransi Jiwa Raup Premi Rp181 Triliun di Tahun 2025, Simak Informasi Selengkapnya

Perolehan premi industri asuransi jiwa di Tanah Air mencatatkan angka Rp181,27 triliun sepanjang tahun 2025. Meski terjadi sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya, pertumbuhan hasil investasi justru melonjak signifikan, menunjukkan bahwa sektor ini tetap menunjukkan ketahanan dan adaptasi di tengah dinamika .

Total pendapatan industri asuransi jiwa hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp238,71 triliun. Angka ini naik 9,3% year-on-year dari Rp218,73 triliun di tahun sebelumnya. Komponen utama pendapatan berasal dari dua sumber: premi dan hasil investasi. Jika premi turun 1,8%, hasil investasi justru melonjak hingga 103,1%, menjadi Rp47,32 triliun. Ini menunjukkan bahwa mulai lebih agresif memanfaatkan portofolio investasi sebagai sumber pendapatan .

Dinamika Premi Asuransi Jiwa di Tahun 2025

industri asuransi jiwa memang melambat di tahun 2025. Meski begitu, jumlah yang terlindungi terus meningkat. Ini menandakan bahwa masyarakat semakin sadar pentingnya perlindungan finansial, meski pola pembayaran premi mulai berubah.

1. Penurunan Premi Weighted

Premi weighted atau premi terimbang mencatatkan angka Rp111,56 triliun, turun 1,2% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp112,92 triliun. Penurunan ini terjadi karena banyak polis yang mencapai masa akhir kontrak. Artinya, sebagian besar nasabah telah menyelesaikan masa perlindungan mereka, sehingga tidak ada pembayaran premi lanjutan.

2. Premi Tunggal Masih Dominan

Premi tunggal, yaitu pembayaran premi satu kali untuk jangka waktu panjang, mencatatkan nilai Rp77,45 triliun. Meski turun 2,7% dibanding tahun sebelumnya, angka ini masih jauh lebih besar dibanding premi reguler tahun pertama yang hanya mencapai Rp30,05 triliun. Ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung memilih pembayaran satu kali untuk jangka panjang.

3. Premi Reguler Tahun Lanjutan Turun Tajam

Premi reguler tahun lanjutan tercatat sebesar Rp73,76 triliun, turun 4,3% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini diduga kuat karena banyak polis yang telah mencapai masa maturity atau akhir kontrak. Ketika kontrak berakhir, nasabah biasanya tidak memperpanjang perlindungan, sehingga premi lanjutan pun ikut menyusut.

Komposisi Premi Berdasarkan Produk dan Unit Usaha

Tidak semua produk asuransi memiliki kontribusi yang sama terhadap total premi. Ada pergeseran tren dari produk unit-linked ke produk tradisional, serta perbedaan performa antara unit konvensional dan syariah.

1. Dominasi Produk Tradisional

Premi asuransi tradisional mencatatkan angka Rp113,03 triliun, jauh lebih tinggi dibanding produk unit-linked yang hanya mencapai Rp68,24 triliun. Produk unit-linked justru mengalami penurunan sebesar 8,2%. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih lebih memilih produk yang menawarkan proteksi murni daripada yang terkait investasi.

2. Unit Konvensional Tetap Unggul

Premi dari unit konvensional tercatat sebesar Rp160,08 triliun, turun 1,2% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, unit syariah mencatatkan penurunan yang lebih tajam, yaitu 6,2%, menjadi Rp21,19 triliun. Meski demikian, unit syariah tetap menunjukkan pertumbuhan yang cukup stabil di tengah preferensi pasar yang lebih besar pada produk konvensional.

Distribusi Premi Berdasarkan Jenis Kepesertaan dan Kanal

Selain dari segi produk, distribusi premi juga bisa dilihat dari jenis kepesertaan dan kanal distribusi. Keduanya memberikan gambaran bagaimana masyarakat mengakses produk asuransi.

1. Premi Perorangan Naik Tipis

Premi perorangan mencatatkan angka Rp149,56 triliun, naik 1,4% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini jauh lebih besar dibanding premi kumpulan yang hanya mencapai Rp31,71 triliun. Ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat masih lebih memilih asuransi individu daripada kolektif atau korporat.

2. Bancassurance Jadi Kanal Utama

Dari sisi kanal distribusi, menjadi yang paling dominan dengan kontribusi premi sebesar Rp96,91 triliun. Diikuti oleh kanal keagenan sebesar Rp58,40 triliun dan distribusi alternatif sebesar Rp45,96 triliun. Ini menunjukkan bahwa kerja sama antara bank dan perusahaan asuransi masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam membeli produk asuransi.

Perbandingan Data Premi Asuransi Jiwa 2024–2025

Berikut adalah ringkasan data premi asuransi jiwa selama dua tahun terakhir:

Kategori 2024 2025 Perubahan (%)
Total Premi Rp184,59 triliun Rp181,27 triliun -1,8%
Premi Weighted Rp112,92 triliun Rp111,56 triliun -1,2%
Premi Tunggal Rp79,60 triliun Rp77,45 triliun -2,7%
Premi Reguler Tahun Pertama Rp30,58 triliun Rp30,05 triliun -1,7%
Premi Reguler Tahun Lanjutan Rp77,06 triliun Rp73,76 triliun -4,3%
Premi Tradisional Rp115,47 triliun Rp113,03 triliun -2,1%
Rp74,32 triliun Rp68,24 triliun -8,2%
Premi Unit Konvensional Rp162,03 triliun Rp160,08 triliun -1,2%
Premi Unit Syariah Rp22,56 triliun Rp21,19 triliun -6,2%

Penutup

Industri asuransi jiwa di pada tahun 2025 menunjukkan ketahanan meski menghadapi tekanan pada sisi premi. Penurunan premi tidak serta merta berdampak negatif, karena hasil investasi justru melonjak. Ini membuka peluang bagi perusahaan asuransi untuk terus mengembangkan strategi bisnis yang lebih seimbang antara proteksi dan investasi.

Namun, perlu diingat bahwa data di atas bersifat simulasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi, , dan dinamika pasar. Maka dari itu, informasi ini hanya dimaksudkan sebagai gambaran umum kondisi industri asuransi jiwa di tahun 2025.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.