Harga minyak mentah global sempat terkoreksi pada awal pekan ini, meski tetap bertahan di atas level psikologis USD100 per barel. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negara-negara lain perlu ikut menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur krusial bagi distribusi energi global.
Meski sempat naik tajam sebelumnya, sentimen pasar mulai mereda. Minyak Brent berjangka turun 0,23 persen menjadi USD102,90 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS juga terperosok 1,08 persen ke level USD97,64 per barel. Kedua jenis minyak ini mencatatkan lonjakan lebih dari 40 persen sepanjang Maret 2026, didorong oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan Geopolitik Picu Volatilitas Harga Minyak
Lonjakan harga minyak terjadi sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran beberapa waktu lalu. Respons dari Teheran berupa penghentian sementara pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, yang mengganggu sekitar 20 persen pasokan global. Gangguan ini menjadi salah satu insiden terbesar dalam sejarah distribusi energi internasional.
1. Serangan ke Infrastruktur Minyak Iran
Langkah militer AS-Israel terhadap Iran memicu reaksi cepat dari Teheran. Salah satunya adalah penghentian sementara operasional pelabuhan ekspor minyak utama Iran, yaitu Pulau Kharg. Pulau ini mengelola sekitar 90 persen volume ekspor minyak Iran.
2. Balasan Iran dengan Serangan Drone
Tak lama setelah serangan ke Kharg, drone Iran menyerang terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab. Meski operasi pemuatan minyak di sana sudah dilanjutkan, kondisi infrastruktur belum sepenuhnya pulih. Fujairah merupakan jalur alternatif distribusi minyak UEA yang berada di luar Selat Hormuz.
3. Ancaman Trump Terhadap Infrastruktur Minyak Iran
Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan melakukan serangan lanjutan ke Pulau Kharg sebagai balasan. Ancaman ini menambah ketidakpastian pasar dan memicu lonjakan harga minyak sebelum akhirnya mengalami koreksi.
Pasokan Cadangan Minyak Dunia Dikerahkan
Untuk menstabilkan harga, Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan akan merilis lebih dari 400 juta barel cadangan minyak ke pasar global. Ini merupakan penarikan cadangan terbesar dalam sejarah, yang bertujuan mengurangi tekanan akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.
1. Penyaluran Cadangan Dimulai dari Asia dan Oseania
Cadangan dari negara-negara Asia dan Oseania akan segera mengalir ke pasar. Negara-negara tersebut memiliki stok minyak yang cukup besar dan siap disalurkan dalam waktu dekat.
2. Cadangan Eropa dan Amerika Akan Masuk Akhir Maret
Sementara itu, cadangan dari Eropa dan Amerika Serikat direncanakan akan tersedia pada akhir Maret. Penyaluran ini diharapkan bisa menekan harga minyak yang sempat melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik.
3. Proyeksi Pemulihan Pasokan Minyak
Menteri Energi AS, Chris Wright, memperkirakan bahwa konflik antara AS dan Iran akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Pasokan minyak diperkirakan akan pulih seiring berakhirnya ketegangan, dan harga energi pun akan kembali turun.
Perbandingan Harga Minyak Mentah Global
Berikut adalah perbandingan harga minyak mentah utama dunia pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026:
| Jenis Minyak | Harga (USD/Barel) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Brent | 102,90 | -0,23% |
| WTI | 97,64 | -1,08% |
Catatan: Data di atas bersifat mengambang dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan pasar global.
Dampak Terhadap Pasar Energi Global
Ketegangan di Timur Tengah telah menciptakan ketidakpastian yang tinggi di pasar energi global. Harga minyak yang fluktuatif berdampak langsung pada biaya produksi dan distribusi barang di berbagai negara. Negara-negara pengimpor minyak terpaksa menyesuaikan anggaran energi mereka untuk mengantisipasi lonjakan harga.
Namun, dengan masuknya cadangan minyak dari berbagai negara, diharapkan tekanan terhadap harga bisa dikurangi. Pasar pun mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi meski masih rentan terhadap perkembangan situasi di kawasan konflik.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Meski harga minyak sempat melonjak tajam, langkah-langkah antisipatif dari negara-negara penghasil dan konsumen minyak memberikan sinyal positif. Namun, ketidakpastian geopolitik masih menjadi ancaman besar. Apalagi, dengan ancaman serangan balasan dari Iran, risiko eskalasi konflik masih tinggi.
Ke depan, peran diplomasi internasional menjadi kunci. Penyelesaian damai akan membuka jalan bagi pemulihan pasokan minyak dan penurunan harga. Namun, jika ketegangan terus berlanjut, pasar bisa kembali menghadapi volatilitas yang tinggi.
Disclaimer: Data harga minyak dan informasi terkait kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Informasi dalam artikel ini disajikan berdasarkan data terkini hingga tanggal publikasi.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













