PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN (BBTN) belum berencana melakukan buyback saham dalam waktu dekat. Meski tren sahamnya cukup fluktuatif akhir-akhir ini, bank BUMN ini memilih untuk tidak mengambil langkah yang biasanya dilakukan perusahaan untuk meningkatkan nilai saham di pasar.
Salah satu alasan utama adalah aturan kepemilikan publik. BTN harus menjaga porsi saham yang dikuasai publik minimal 40% agar tetap bisa menikmati insentif pajak korporasi sebesar sekitar 5%. Kalau buyback dilakukan sembarangan, bisa-bisa insentif ini terancam hilang.
Alasan BTN Tahan Diri dari Buyback Saham
-
Kepatuhan pada regulasi BUMN
Sebagai perusahaan milik negara, BTN punya kewajiban khusus. Salah satunya adalah memastikan saham publik tetap di atas ambang batas tertentu. Jika saham treasury terlalu banyak, maka porsi publik bisa turun di bawah 40%, dan ini berdampak langsung pada insentif pajak yang diterima.
-
Alternatif distribusi nilai lebih menarik
Daripada buyback, BTN lebih memilih mengalokasikan nilai lebih kepada karyawan dalam bentuk bonus saham. Ini bukan cuma solusi yang lebih aman secara regulasi, tapi juga bikin karyawan lebih puas. Bonus saham ini bisa jadi alternatif yang lebih bermanfaat jangka panjang, baik buat karyawan maupun perusahaan.
Kinerja Saham BTN Akhir-Akhir Ini
Saham BTN (BBTN) dalam sebulan terakhir sempat terkoreksi sebesar 7,35% atau 100 poin. Tapi kalau dilihat dari tiga bulan terakhir, saham ini justru menguat 15,60% atau 170 poin. Dalam tahun ini saja (YtD), saham BTN naik 7,23% atau 85 poin ke level Rp1.260 per saham.
Meski begitu, manajemen BTN tidak terlalu tergesa-gesa menanggapi fluktuasi ini dengan buyback. Mereka lebih fokus pada strategi jangka panjang yang tidak hanya memperhatikan harga saham, tapi juga kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan.
Rencana Dividen Naik Jadi Daya Tarik Investasi
BTN membuka peluang menaikkan porsi dividen dari laba bersih tahun buku 2025 hingga 30%, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 25%. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya meningkatkan return on equity (ROE).
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa kenaikan dividen ini juga bagian dari strategi manajemen laba agar lebih efisien dan menguntungkan pemegang saham.
Target ROE BTN Tahun Ini Naik 2%
BTN menargetkan ROE tahun ini naik sekitar 2% dibanding tahun lalu. Dengan meningkatkan porsi dividen, diharapkan laba yang dikembalikan ke pemegang saham juga semakin besar. Ini bisa jadi alternatif menarik selain buyback untuk memberi nilai tambah kepada investor.
Kinerja Keuangan BTN di Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi tahun yang cukup baik bagi BTN dari sisi kinerja keuangan. Laba bersih konsolidasian mencapai Rp3,5 triliun, naik 16,4% secara tahunan (YoY) dibanding tahun 2024 yang hanya mencatat laba bersih sebesar Rp3,0 triliun.
Pendapatan Bunga Naik Tajam
Pendapatan bunga BTN naik 23,0% YoY menjadi Rp36,3 triliun di akhir 2025, dibandingkan dengan Rp29,6 triliun pada tahun 2024. Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas kredit bank terus meningkat dan produktif.
| Komponen | 2024 | 2025 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Bunga | Rp29,6 triliun | Rp36,3 triliun | 23,0% |
| Beban Bunga | Rp17,9 triliun | Rp17,9 triliun | 0,4% |
| Pendapatan Bunga Bersih | Rp11,7 triliun | Rp18,4 triliun | 57,5% |
Penyaluran Kredit dan Dana Pihak Ketiga
Penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasian BTN tumbuh 11,9% YoY menjadi Rp400,6 triliun di akhir 2025, naik dari Rp358,9 triliun pada tahun 2024. Mayoritas kredit disalurkan ke sektor perumahan, mencapai Rp328,4 triliun atau naik 7,5% YoY dari Rp305,6 triliun.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) konsolidasian mencapai Rp437,4 triliun di akhir 2025, naik 14,6% YoY dari Rp381,7 triliun di tahun sebelumnya.
Strategi Jangka Panjang Lebih Diutamakan
BTN tidak ingin terjebak pada langkah jangka pendek seperti buyback hanya untuk menaikkan harga saham sesaat. Fokus utama masih pada pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, terutama di sektor perumahan yang menjadi andalan utama bank ini.
Dengan ROE yang terus meningkat dan rencana distribusi dividen yang lebih besar, BTN berharap bisa tetap menjadi pilihan investasi menarik tanpa harus mengorbankan posisi regulasi dan kesehatan keuangan perusahaan.
Kesimpulan
BTN (BBTN) memang belum ada rencana buyback saham, dan itu bukan tanpa alasan. Dengan berbagai pertimbangan regulasi, struktur kepemilikan, dan strategi distribusi laba, bank ini lebih memilih jalannya sendiri. Fokus pada penyaluran kredit, peningkatan ROE, dan distribusi dividen yang lebih besar jadi pilihan utama untuk memberi nilai kepada pemegang saham.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar, kebijakan perusahaan, dan regulasi yang berlaku.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













