Perbankan

DBS CIO 2Q26 Sarankan Investor Tingkatkan Strategi Pengelolaan Risiko di Tengah Eskalasi Konflik Global

Danang Ismail
×

DBS CIO 2Q26 Sarankan Investor Tingkatkan Strategi Pengelolaan Risiko di Tengah Eskalasi Konflik Global

Sebarkan artikel ini
DBS CIO 2Q26 Sarankan Investor Tingkatkan Strategi Pengelolaan Risiko di Tengah Eskalasi Konflik Global

Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, baru-baru ini membagikan pandangan penting terkait kondisi pasar global di tengah ketegangan yang kian memanas. Dalam paparannya, ia menyarankan investor untuk lebih proaktif dalam mengelola risiko portofolio, terutama di kuartal kedua 2026 yang penuh ketidakpastian.

Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah meningkatkan eksposur terhadap emas sebagai instrumen safe haven. Selain itu, mengganti sebagian posisi saham AS dengan indeks saham ber-volatilitas rendah juga menjadi pertimbangan penting agar portofolio tetap stabil meski badai konflik belum reda.

Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Aset Berisiko

Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama. Perang yang berkepanjangan dan ketidakpastian di kawasan ini berpotensi mengganggu rantai pasok global, terutama minyak mentah. Iran, sebagai salah satu produsen besar dalam OPEC, memiliki peran penting dalam menjaga .

1. Minyak sebagai Saluran Krisis Global

Minyak menjadi komoditas strategis yang paling terpengaruh saat ketegangan di Selat Hormuz meningkat. Titik ini adalah jalur kritis bagi perdagangan minyak dan LNG dunia. Jika situasi semakin memburuk, bisa melonjak dengan cepat.

Lonjakan harga minyak membawa dampak berantai. Inflasi berpotensi naik, bank sentral terbatas untuk melakukan moneter, dan pertumbuhan ekonomi bisa terhambat. Semua ini berimbas langsung pada performa aset berisiko seperti saham dan mata uang lemah.

2. Inflasi dan Kebijakan Moneter The Fed

Peningkatan harga energi berpotensi mendorong laju inflasi. Ini memaksa bank sentral, terutama The Fed, untuk menahan diri dari pemotongan suku bunga yang agresif. Padahal, banyak investor berharap stimulus moneter akan mendorong pasar saham naik.

Kondisi ini menciptakan dilema tersendiri. Investor harus siap menghadapi volatilitas pasar yang lebih tinggi dan menyesuaikan ekspektasi terhadap di tengah tekanan inflasi.

Perubahan Narasi di The Fed

Salah satu tokoh kunci dalam kebijakan moneter global, Kevin Warsh, membawa pandangan yang berbeda. Ia percaya bahwa revolusi AI bisa mendorong produktivitas ekonomi tanpa memicu inflasi yang tinggi. Pandangan ini membuka peluang bagi pemotongan suku bunga yang lebih agresif.

3. Potensi Pengetatan Kuantitatif Kembali

Meski begitu, Warsh juga khawatir akan dominasi moneter yang berlebihan. Ia menyarankan agar The Fed mengurangi neracanya secara signifikan. Langkah ini bisa memicu pengetatan kuantitatif baru dan mengubah bentuk kurva yield, yang berdampak pada sektor keuangan.

Dinamika ini menciptakan skenario yang kompleks. Investor harus siap dengan dua sisi koin: peluang dari pemotongan suku bunga dan risiko dari kebijakan pengetatan yang tak terduga.

Diversifikasi di Luar Perdagangan yang Ramai

Ketegangan geopolitik juga memicu aksi take profit di pasar-pasar yang sebelumnya populer, seperti saham Jepang dan Korea Selatan. Namun, menurut Hou Wey Fook, lonjakan harga saham di negara-negara tersebut bersifat sementara dan belum tentu berkelanjutan.

4. Fokus Kembali ke Fundamental

Seiring redanya volatilitas, investor diperkirakan akan kembali ke aset yang memiliki fundamental kuat. dan teknologi yang didorong AI menjadi fokus utama. Pelemahan nilai dolar juga memberi ruang bagi aset-aset ini untuk tumbuh lebih baik.

5. Rekomendasi Saham Pasar Berkembang

Saham pasar berkembang (EM) menjadi pilihan menarik di tengah situasi ini. Dengan potensi pemotongan suku bunga The Fed, pelemahan dolar, dan pertumbuhan pendapatan yang solid, saham EM menawarkan value yang cukup menjanjikan.

6. Potensi Saham Jepang

Saham Jepang juga tidak kalah menarik. Stimulus fiskal yang akan datang, reformasi tata kelola , dan selisih imbal hasil yang menarik menjadi alasan kuat untuk menambah eksposur di pasar ini.

Strategi Manajemen Risiko yang Perlu Dipertimbangkan

Di tengah ketidakpastian, manajemen risiko bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Investor perlu meninjau ulang alokasi aset dan memastikan portofolio tetap seimbang meski badai pasar datang.

7. Tambah Eksposur ke Emas

Emas selalu menjadi pelindung di masa-masa sulit. Dengan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, emas bisa menjadi safe haven yang efektif melindungi nilai portofolio.

8. Alihkan Sebagian Saham AS ke Indeks Volatilitas Rendah

Saham AS memang menawarkan return tinggi, tapi juga risiko volatilitas yang besar. Mengganti sebagian eksposur dengan indeks volatilitas rendah bisa menjadi langkah bijak untuk menjaga stabilitas.

9. Jaga Diversifikasi Portofolio

Diversifikasi tetap menjadi prinsip dasar investasi. Jangan terjebak hanya pada aset yang sedang naik. Sebarkan risiko ke berbagai kelas aset dan wilayah pasar agar tidak terlalu terpapar pada satu sumber risiko.

10. Pantau Perkembangan Kebijakan Moneter

Kebijakan The Fed dan bank sentral lainnya bisa berubah kapan saja. Investor perlu selalu mengikuti perkembangan terkini agar bisa menyesuaikan strategi dengan cepat.

Tabel Perbandingan Rekomendasi Aset CIO DBS Q2 2026

Aset Alasan Rekomendasi Potensi Risiko
Emas Safe haven di masa ketidakpastian Return jangka pendek terbatas
Saham EM Dukungan dari pemotongan suku bunga dan pelemahan dolar Risiko geopolitik dan mata uang
Saham Jepang Stimulus fiskal dan selisih yield menarik Volatilitas pasar domestik
Indeks Volatilitas Rendah S&P 500 Stabilitas di tengah ketidakpastian Return lebih rendah dari indeks agresif

Kesimpulan

Investasi di kuartal kedua 2026 bukan perkara mudah. Ketegangan geopolitik, kebijakan moneter yang belum pasti, dan volatilitas pasar membuat investor harus lebih selektif dalam memilih aset. Namun, dengan strategi manajemen risiko yang tepat dan diversifikasi yang seimbang, peluang masih terbuka untuk meraih keuntungan meski dalam kondisi sulit.

Disclaimer: Data dan rekomendasi dalam artikel ini bersifat informasional dan dapat berubah sewaktu- tergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik global.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.