Wall Street terperosok dalam tekanan besar jelang akhir pekan. Lonjakan harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu gejolak di pasar saham Amerika Serikat. Investor mulai was-was, saham-saham ikut melemah, dan suasana bursa terasa berat.
Kabar penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi pemicu utama. Jalur pelayaran strategis ini menjadi koridor bagi sekitar 20 persen minyak global. Ketika aliran terganggu, dampaknya langsung terasa di harga energi dunia.
Pasar Saham AS Terpuruk
Indeks saham utama AS mengakhiri perdagangan Kamis, 12 Maret 2026 dengan catatan minus. S&P 500 turun 1,5 persen, Nasdaq anjlok 1,8 persen, dan Dow Jones terperosok 1,6 persen. Performa ini menempatkan ketiga indeks dalam zona negatif sejak awal tahun.
- S&P 500: 6.672,77 poin (-1,5%)
- Nasdaq Composite: 22.311,98 poin (-1,8%)
- Dow Jones Industrial Average: 46.677,85 poin (-1,6%)
Koreksi pasar ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai USD101,23 per barel, naik hampir 10 persen hanya dalam sehari. Investor mulai mengantisipasi tekanan inflasi yang akan datang.
1. Penutupan Selat Hormuz Ganggu Jalur Pasok Global
Iran secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Pernyataan ini disampaikan oleh kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency, atas nama pemimpin baru negara, Mojtaba Khamenei.
Penutupan ini bukan isapan jempol. Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran paling sibuk di dunia. Sekitar seperlima minyak global mengalir melalui selat sempit ini setiap hari.
2. Serangan ke Kapal Dagang Picu Ketidakpastian
Sejumlah kapal dagang menjadi sasaran serangan di kawasan Teluk Persia. Badan keamanan maritim United Kingdom melaporkan bahwa tiga kapal telah terkena proyektil tak dikenal dalam beberapa hari terakhir.
Serangan ini memperburuk situasi. Negara-negara seperti Irak dan Oman terpaksa menutup terminal minyak mereka sebagai langkah antisipasi.
3. Harga Minyak Dunia Melesat
Harga minyak mentah Brent mencatat kenaikan tajam. Dari level sekitar USD90 per barel, harga naik hampir 10 persen hanya dalam sehari. Awal pekan ini, harga sempat menyentuh USD120 per barel.
| Tanggal | Harga Minyak Brent (USD/barel) |
|---|---|
| Senin, 9 Maret 2026 | 92,50 |
| Rabu, 11 Maret 2026 | 91,30 |
| Kamis, 12 Maret 2026 | 101,23 |
Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya energi secara global. Dampaknya, tekanan inflasi kembali menghiasi radar ekonomi dunia.
4. Badan Energi Internasional Pangkas Proyeksi Pasokan
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah telah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern. IEA bahkan mengumumkan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar sepanjang masa.
Namun, langkah ini belum cukup untuk menenangkan pasar. Pasokan tahunan global dipangkas, dan proyeksi ke depan semakin tidak menentu.
5. Imbal Hasil Obligasi Naik, Saham Makin Tidak Menarik
Lonjakan harga minyak berdampak pada ekspektasi suku bunga. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan bank sentral menunda pemotongan suku bunga.
Imbal hasil obligasi AS naik. Ini membuat saham terlihat kurang menarik. Investor lebih memilih instrumen berpendapatan tetap yang mulai menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Sentimen Investor Merosot
Kepala investasi Truist, Keith Lerner, menyebut bahwa investor sedang mengevaluasi durasi konflik. Semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin besar risiko yang dihindari.
“Koreksi ini mungkin masih berlanjut sebelum mencapai level oversold yang lebih dalam,” kata Lerner. Meski begitu, ia tetap optimistis bahwa pasar secara keseluruhan masih bullish dalam jangka panjang.
Data Ekonomi AS Tetap Kuat
Di tengah gejolak pasar, data ekonomi AS menunjukkan performa yang cukup stabil. Klaim pengangguran awal turun menjadi 212 ribu, lebih rendah dari estimasi konsensus.
Angka ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup sehat. Meski lonjakan harga energi menjadi risiko, belum ada tanda-tanda PHK massal yang signifikan.
1. Defisit Perdagangan Menyempit Tajam
Data perdagangan AS menunjukkan bahwa defisit perdagangan pada Januari 2026 menyusut tajam. Ekspor melonjak ke level tertinggi, sementara impor turun.
| Bulan | Defisit Perdagangan (miliar USD) |
|---|---|
| Desember 2025 | 72,4 |
| Januari 2026 | 58,9 |
Penyusutan defisit ini menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap memiliki daya tahan meski dihadapkan pada tekanan eksternal.
2. Oracle Jadi Sorotan Positif
Di tengah tekanan pasar, saham Oracle memberikan kejutan positif. Perusahaan cloud computing ini mencatatkan kinerja yang melebihi ekspektasi, membantu indeks Nasdaq tetap bertahan di zona hijau pada sesi sebelumnya.
3. Trump Soroti Produksi Minyak AS
Mantan Presiden Donald Trump mengunggah pernyataan di Truth Social bahwa AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia bisa menguntungkan dari lonjakan harga.
Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa pemerintahan mendatang bisa mempertimbangkan pengecualian terhadap Undang-Undang Jones untuk memperlancar distribusi bahan bakar dalam negeri.
4. Pasar Saham Teknologi Tertekan
Sektor teknologi menjadi salah satu yang paling terpukul. Saham-saham seperti Apple, Microsoft, dan Nvidia ikut terkoreksi. Investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham berisiko tinggi.
5. Investor Hindari Risiko
Sentimen pasar saat ini sangat sensitif. Investor cenderung memilih instrumen yang lebih aman. Obligasi pemerintah dan emas menjadi alternatif yang lebih diminati.
6. Spekulasi Kebijakan Energi Baru
Pemerintahan AS disebut tengah mempertimbangkan langkah darurat untuk mengatasi lonjakan harga energi. Salah satunya adalah revisi Undang-Undang Jones yang membatasi pengiriman minyak antar negara bagian.
Langkah ini bisa membuka jalan bagi distribusi minyak yang lebih fleksibel di dalam negeri, meski masih dalam tahap spekulasi.
Outlook Pasar Masih Tidak Menentu
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Investor tetap waspada, dan pasar saham masih rentan terhadap guncangan eksternal.
Namun, data ekonomi AS yang kuat memberikan sedikit optimisme. Jika situasi energi global bisa distabilkan, pasar berpotensi pulih dalam jangka menengah.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan ekonomi global. Keputusan investasi sebaiknya diambil setelah mempertimbangkan konsultasi dengan ahli keuangan.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













