Musim RUPST memang selalu dinanti investor, terutama yang fokus pada saham-saham perbankan. Tahun ini, fokus utama jatuh pada potensi dividen tahun buku 2025 yang akan dibagikan oleh emiten-emiten bank besar. Meski kinerja sektor perbankan di tahun 2025 terbilang lesu karena tekanan makro ekonomi global dan domestik, banyak bank tetap menunjukkan komitmen kuat untuk memberikan return kepada pemegang saham.
Beberapa bank pelat merah dan private bank besar sudah mulai menggelar RUPST dan mengumumkan besaran dividen yang akan dibagikan. Meski laba bersih sebagian besar mengalami koreksi dibanding tahun sebelumnya, rasio pembayaran dividen (DPR) justru cenderung stabil atau bahkan naik. Hal ini menunjukkan bahwa bank-bank tersebut tetap ingin mempertahankan daya tarik bagi investor meski di tengah kondisi yang tidak sepenuhnya menguntungkan.
Bank-Bank Besar yang Sudah Menggelar RUPST 2026
Musim RUPST tahun ini dimulai dengan keputusan dari beberapa bank besar yang langsung mengumumkan rencana pembagian dividen. Dari daftar bank yang sudah menggelar RUPST, terlihat bahwa meskipun laba bersih ada yang turun, DPR tetap menjadi perhatian utama.
1. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
BBNI menjadi salah satu pelopor dalam musim RUPST tahun ini. RUPST tahun buku 2025 digelar pada 9 Maret 2026 dan berhasil mengantongi persetujuan untuk membagikan dividen final sebesar Rp 349,41 per saham.
Total dividen yang dibagikan mencapai Rp 13,03 triliun, atau sekitar 65% dari laba bersih konsolidasi sebesar Rp 20,04 triliun. Angka ini sama dengan DPR tahun lalu, meski laba bersih turun 6,6% secara tahunan.
2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Bank swasta terbesar Indonesia ini juga telah menyelesaikan RUPST-nya pada 12 Maret 2026. BBCA memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 336 per saham, dengan total dividen mencapai Rp 41,4 triliun.
Angka ini setara dengan 72% dari laba bersih tahun buku 2025. DPR sebesar 72% menjadi yang tertinggi dalam sejarah pembayaran dividen BBCA, yang biasanya berkisar antara 67% hingga 70%.
3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
BBRI telah mengumumkan jadwal RUPST tahun buku 2025 yang akan digelar pada 10 April 2026. Direktur Utama BBRI, Herry Gunardi, menyatakan bahwa bank ini membuka kemungkinan untuk menaikkan DPR dari level historisnya yang mencapai 86% pada tahun sebelumnya.
Laba bersih BBRI di tahun 2025 mencapai Rp 57,13 triliun, turun 5,26% dibanding tahun lalu. Namun, jika DPR tetap tinggi, total dividen yang akan dibagikan bisa melampaui Rp 49 triliun.
Bank-Bank dengan Rencana Dividen Menjanjikan
Selain bank-bank yang sudah menggelar RUPST, beberapa bank besar lainnya juga sudah memberikan bocoran mengenai rencana dividen mereka untuk tahun buku 2025. Meski belum mengumumkan jadwal pasti, sinyal dari manajemen menunjukkan bahwa komitmen terhadap investor tetap kuat.
4. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
Bank pelat merah ini belum mengumumkan jadwal RUPST tahun buku 2025. Namun, Direktur Utama BMRI, Riduan, menyebut bahwa DPR kemungkinan besar akan tetap di kisaran 78%, sama dengan tahun sebelumnya.
Laba bersih BMRI di tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,93% menjadi Rp 56,3 triliun. Jika DPR tetap di level 78%, total dividen yang akan dibagikan diperkirakan mencapai Rp 43,9 triliun, atau sekitar Rp 472 per saham.
5. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
BBTN juga belum mengumumkan jadwal RUPST. Meski begitu, Direktur Utama BBTN, Nixon Napitupulu, menyatakan bahwa bank ini sedang mempertimbangkan kenaikan DPR untuk tahun buku 2025.
Perbandingan Dividen Bank-Bank Besar
Berikut adalah ringkasan dividen yang telah diumumkan atau direncanakan oleh beberapa bank besar untuk tahun buku 2025:
| Bank | Dividen per Saham (Rp) | Total Dividen (Triliun Rp) | DPR (%) | Laba Bersih (Triliun Rp) |
|---|---|---|---|---|
| BBNI | 349,41 | 13,03 | 65% | 20,04 |
| BBCA | 336 | 41,4 | 72% | 57,4 |
| BBRI | (Belum final) | ±49,14 | ±86% | 57,13 |
| BMRI | ±472 | ±43,9 | ±78% | 56,3 |
| BBTN | (Belum final) | – | – | – |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung keputusan RUPST masing-masing bank.
Faktor yang Mempengaruhi Besaran Dividen
Meskipun sebagian besar bank masih menunjukkan komitmen kuat terhadap pembayaran dividen, beberapa faktor bisa memengaruhi keputusan akhir.
1. Laba Bersih yang Terkoreksi
Banyak bank mencatatkan pertumbuhan laba yang melambat atau bahkan negatif dibanding tahun sebelumnya. Hal ini wajar mengingat tekanan dari suku bunga acuan BI yang tinggi dan perlambatan aktivitas ekonomi.
2. Kebutuhan Modal untuk Ekspansi
Beberapa bank masih dalam tahap ekspansi digital dan jaringan cabang. Kebutuhan modal internal untuk mendukung pertumbuhan ini bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan besaran dividen.
3. Regulasi dan Rasio CAR
Otoritas pengawas terus memperketat regulasi perbankan, termasuk rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR). Bank harus memastikan bahwa pembayaran dividen tidak mengganggu stabilitas rasio ini.
Strategi Investasi Menghadapi Musim Dividen
Bagi investor, musim RUPST bisa menjadi peluang untuk memperoleh return tambahan selain capital gain. Namun, perlu kehati-hatian dalam memilih saham berdasarkan potensi dividen saja.
1. Cermati Kinerja Fundamental
Investor sebaiknya tidak hanya tergiur dengan besaran dividen, tapi juga melihat apakah bank tersebut memiliki kinerja fundamental yang sehat dan prospek jangka panjang yang baik.
2. Perhatikan Jadwal Cum Date
Tanggal cum date menjadi penentu siapa saja yang berhak mendapatkan dividen. Investor yang ingin mendapatkan dividen harus membeli saham sebelum tanggal cum date.
3. Evaluasi Return on Equity (ROE)
Bank yang memiliki ROE tinggi dan konsisten biasanya lebih mampu mempertahankan pembayaran dividen yang tinggi pula dalam jangka panjang.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada keputusan RUPST masing-masing bank. Investor disarankan untuk selalu mengacu pada pengumuman resmi dari emiten terkait sebelum membuat keputusan investasi.
Investasi saham mengandung risiko, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh modal. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













