Inflasi Februari 2026 mencatatkan angka 4,76 persen secara tahunan. Angka itu terdengar cukup tinggi, tapi ternyata lonjakan tersebut dipicu oleh efek basis rendah dari kebijakan diskon tarif listrik yang diberlakukan awal tahun lalu. Tanpa kebijakan itu, laju inflasi sebenarnya hanya berada di kisaran 2,59 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa lonjakan inflasi Februari 2026 bukan berasal dari tekanan ekonomi yang berkelanjutan. Ia menyebut bahwa inflasi yang tinggi saat itu lebih bersifat sementara, akibat pengaruh dari kebijakan subsidi listrik yang membuat pengeluaran masyarakat naik tajam secara statistik.
Inflasi Inti dan Permintaan Ramadan
Inflasi komponen inti naik 2,63 persen secara tahunan. Lonjakan ini dipicu oleh permintaan yang meningkat menjelang dan selama Ramadan 1447 Hijriah, terutama pada komoditas seperti emas dan barang konsumsi lainnya.
Permintaan yang tinggi saat Ramadan memang kerap mendorong kenaikan harga. Namun, jika hanya melihat komoditas non-emas, inflasi inti hanya berada di level 1,4 persen. Ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak terlalu besar di sektor riil.
1. Permintaan Emas Naik Selama Ramadan
Permintaan emas meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri. Ini adalah fenomena tahunan yang biasa terjadi, terutama karena emas kerap dibeli sebagai hadiah atau tabungan jangka pendek.
2. Permintaan Konsumsi Rumah Tangga Meningkat
Masyarakat cenderung meningkatkan pengeluaran menjelang hari raya. Mulai dari belanja sembako hingga kebutuhan non-makanan lainnya. Ini memberi tekanan pada harga barang secara umum.
Inflasi Pangan dan Cuaca
Inflasi komponen pangan yang bersifat bergejolak atau volatile food mencatatkan kenaikan sebesar 4,64 persen yoy. Angka ini tergolong moderat karena masih berada di bawah ambang lima persen.
Lonjakan harga pangan dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan peningkatan permintaan menjelang Ramadan. Beberapa komoditas yang terpengaruh antara lain daging ayam, ikan segar, dan cabai merah.
1. Cuaca Ekstrem Ganggu Produksi
Hujan terus-menerus dan banjir di sejumlah daerah penghasil sayur dan ikan menyebabkan pasokan terganggu. Ini langsung berdampak pada kenaikan harga di pasar.
2. Permintaan Ramadan Meningkat
Menjelang Ramadan, permintaan terhadap bahan pangan segar meningkat tajam. Harga pun ikut naik karena pasokan tidak langsung bisa menyesuaikan.
Harga yang Diatur Pemerintah Naik Tajam
Salah satu penyumbang inflasi tertinggi berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah. Inflasi kelompok ini mencapai 12,66 persen yoy. Lonjakan ini terjadi karena efek basis rendah dari diskon listrik yang diberikan awal tahun lalu.
Diskon listrik 50 persen yang berlaku Januari-Februari 2025 membuat tarif listrik tercatat lebih rendah. Ketika periode normal kembali diterapkan, perbedaan harga terlihat besar secara statistik.
1. Diskon Listrik Menyebabkan Efek Basis Rendah
Pada Februari 2025, tarif listrik tercatat lebih rendah karena subsidi. Ketika Februari 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, selisihnya terlihat besar.
2. Pengaruhnya Mereda di Maret 2026
Menteri Keuangan memperkirakan efek ini akan mulai mereda pada Maret 2026. Inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah diproyeksikan akan kembali normal seiring penyesuaian data tahun lalu.
APBN Jadi Penyeimbang Inflasi
Pemerintah tetap optimis menjaga daya beli masyarakat melalui APBN. Fungsi APBN sebagai shock absorber atau penyerap guncangan ekonomi terus dijalankan agar stabilitas makro ekonomi tetap terjaga.
Pengeluaran pemerintah untuk subsidi dan bantuan sosial tetap dialokasikan secara tepat sasaran. Ini membantu masyarakat menengah ke bawah tetap bisa mengakses kebutuhan dasar meskipun harga barang naik.
1. Subsidi Disalurkan Secara Terarah
Subsidi energi dan pangan terus diberikan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Ini dilakukan agar dampak kenaikan harga tidak dirasakan secara langsung oleh lapisan bawah.
2. Bantuan Sosial Dievaluasi Berkala
Program bantuan sosial seperti PKH dan BPNT terus dievaluasi. Penyesuaian jumlah dan sasaran dilakukan agar manfaatnya tepat sasaran dan tidak memicu inflasi lebih lanjut.
Inflasi Tetap dalam Target
Meskipun mencatatkan angka tinggi di awal Ramadan, inflasi secara keseluruhan masih berada dalam target Bank Indonesia. Target inflasi 2026 adalah 2,5 persen plus minus 1 persen.
Purbaya menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan perekonomian Indonesia masih stabil. Lonjakan inflasi awal tahun tidak memicu spiral inflasi yang sulit dikendalikan.
1. Stabilitas Harga Terjaga
Kebijakan moneter dan fiskal yang sinergis membantu menjaga stabilitas harga. Intervensi pasar dan pengawasan distribusi barang dilakukan secara aktif.
2. Daya Beli Masyarakat Terjaga
Upah minimum dan program perlindungan sosial membantu menjaga daya beli masyarakat. Ini penting agar permintaan tidak terlalu tinggi dan memicu inflasi lebih lanjut.
Kinerja Ekonomi Semakin Inklusif
Selain inflasi, kinerja ekonomi secara keseluruhan juga menunjukkan tren positif. Penyerapan tenaga kerja meningkat, tingkat pengangguran menurun, dan jumlah penduduk miskin terus turun.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di sektor formal, tapi juga dirasakan oleh masyarakat luas.
1. Penurunan Angka Pengangguran
Angka pengangguran terbuka terus menurun seiring dengan peningkatan lapangan kerja baru, terutama di sektor digital dan UMKM.
2. Kemiskinan Terus Menurun
Jumlah penduduk miskin terus berkurang. Program pemerintah seperti bantuan produktif dan pengembangan desa membantu masyarakat keluar dari kemiskinan.
Disclaimer: Data dan proyeksi inflasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi resmi dari Kementerian Keuangan per Maret 2026. Angka dapat berubah seiring perkembangan kondisi ekonomi dan kebijakan yang diambil pemerintah.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













