Nasional

Inflasi Februari 2026 Capai 2,59 Persen Tanpa Kebijakan Diskon Listrik

Retno Ayuningrum
×

Inflasi Februari 2026 Capai 2,59 Persen Tanpa Kebijakan Diskon Listrik

Sebarkan artikel ini
Inflasi Februari 2026 Capai 2,59 Persen Tanpa Kebijakan Diskon Listrik

Inflasi Februari 2026 mencatatkan angka 4,76 persen secara tahunan. Angka itu terdengar cukup tinggi, tapi ternyata lonjakan tersebut dipicu oleh efek basis rendah dari diskon tarif listrik yang diberlakukan awal tahun lalu. Tanpa kebijakan itu, laju inflasi sebenarnya hanya berada di kisaran 2,59 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa lonjakan inflasi Februari 2026 bukan berasal dari tekanan ekonomi yang berkelanjutan. Ia menyebut bahwa inflasi yang tinggi saat itu lebih bersifat sementara, akibat pengaruh dari kebijakan subsidi listrik yang membuat pengeluaran masyarakat naik tajam secara statistik.

Inflasi Inti dan Permintaan Ramadan

Inflasi komponen inti naik 2,63 persen secara tahunan. Lonjakan ini dipicu oleh permintaan yang meningkat menjelang dan selama Ramadan 1447 Hijriah, terutama pada komoditas seperti dan barang konsumsi lainnya.

Permintaan yang tinggi saat Ramadan memang kerap mendorong . Namun, jika hanya melihat komoditas non-emas, inflasi inti hanya berada di level 1,4 persen. Ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak terlalu besar di sektor riil.

1. Permintaan Emas Naik Selama Ramadan

Permintaan emas meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri. Ini adalah fenomena tahunan yang biasa terjadi, terutama karena emas kerap dibeli sebagai hadiah atau tabungan jangka pendek.

2. Permintaan Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

Masyarakat cenderung meningkatkan pengeluaran menjelang hari raya. Mulai dari belanja sembako hingga kebutuhan non-makanan lainnya. Ini memberi tekanan pada harga barang secara umum.

Inflasi Pangan dan Cuaca

Inflasi komponen pangan yang bersifat bergejolak atau volatile food mencatatkan kenaikan sebesar 4,64 persen yoy. Angka ini tergolong moderat karena masih berada di bawah ambang lima persen.

Lonjakan harga pangan dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan peningkatan permintaan menjelang Ramadan. Beberapa komoditas yang terpengaruh antara lain , ikan segar, dan cabai merah.

1. Cuaca Ekstrem Ganggu Produksi

Hujan terus-menerus dan banjir di sejumlah daerah penghasil sayur dan ikan menyebabkan pasokan terganggu. Ini langsung berdampak pada kenaikan harga di pasar.

2. Permintaan Ramadan Meningkat

Menjelang Ramadan, permintaan terhadap bahan pangan segar meningkat tajam. Harga pun ikut naik karena pasokan tidak langsung bisa menyesuaikan.

Harga yang Diatur Pemerintah Naik Tajam

Salah satu penyumbang inflasi tertinggi berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah. Inflasi kelompok ini mencapai 12,66 persen yoy. Lonjakan ini terjadi karena efek basis rendah dari yang diberikan awal tahun lalu.

Diskon listrik 50 persen yang berlaku Januari-Februari 2025 membuat tarif listrik tercatat lebih rendah. Ketika periode normal kembali diterapkan, perbedaan harga terlihat besar secara statistik.

1. Diskon Listrik Menyebabkan Efek Basis Rendah

Pada Februari 2025, tarif listrik tercatat lebih rendah karena subsidi. Ketika Februari 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, selisihnya terlihat besar.

2. Pengaruhnya Mereda di Maret 2026

Menteri Keuangan memperkirakan efek ini akan mulai mereda pada Maret 2026. Inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah diproyeksikan akan kembali normal seiring penyesuaian data tahun lalu.

APBN Jadi Penyeimbang Inflasi

Pemerintah tetap optimis menjaga daya beli masyarakat melalui APBN. Fungsi APBN sebagai shock absorber atau penyerap guncangan ekonomi terus dijalankan agar makro ekonomi tetap terjaga.

Pengeluaran pemerintah untuk subsidi dan bantuan sosial tetap dialokasikan secara tepat sasaran. Ini membantu masyarakat menengah ke bawah tetap bisa mengakses kebutuhan dasar meskipun harga barang naik.

1. Subsidi Disalurkan Secara Terarah

Subsidi energi dan pangan terus diberikan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Ini dilakukan agar dampak kenaikan harga tidak dirasakan secara langsung oleh lapisan bawah.

2. Bantuan Sosial Dievaluasi Berkala

Program bantuan sosial seperti PKH dan BPNT terus dievaluasi. Penyesuaian jumlah dan sasaran dilakukan agar manfaatnya tepat sasaran dan tidak memicu inflasi lebih lanjut.

Inflasi Tetap dalam Target

Meskipun mencatatkan angka tinggi di awal Ramadan, inflasi secara keseluruhan masih berada dalam target Bank Indonesia. Target inflasi 2026 adalah 2,5 persen plus minus 1 persen.

Purbaya menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan perekonomian Indonesia masih stabil. Lonjakan inflasi awal tahun tidak memicu spiral inflasi yang sulit dikendalikan.

1. Stabilitas Harga Terjaga

Kebijakan moneter dan fiskal yang sinergis membantu menjaga stabilitas harga. Intervensi pasar dan pengawasan distribusi barang dilakukan secara aktif.

2. Daya Beli Masyarakat Terjaga

Upah minimum dan program sosial membantu menjaga daya beli masyarakat. Ini penting agar permintaan tidak terlalu tinggi dan memicu inflasi lebih lanjut.

Kinerja Ekonomi Semakin Inklusif

Selain inflasi, kinerja ekonomi secara keseluruhan juga menunjukkan tren positif. Penyerapan tenaga kerja meningkat, tingkat pengangguran menurun, dan jumlah penduduk miskin terus turun.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di sektor formal, tapi juga dirasakan oleh masyarakat luas.

1. Penurunan Angka Pengangguran

Angka pengangguran terbuka terus menurun seiring dengan peningkatan lapangan kerja baru, terutama di sektor digital dan .

2. Kemiskinan Terus Menurun

Jumlah penduduk miskin terus berkurang. Program pemerintah seperti bantuan produktif dan pengembangan desa membantu masyarakat keluar dari kemiskinan.


Disclaimer: Data dan proyeksi inflasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi resmi dari per Maret 2026. Angka dapat berubah seiring perkembangan kondisi ekonomi dan kebijakan yang diambil pemerintah.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.