Dalam waktu satu tahun sejak peluncuran layanan bullion bank pada 26 Februari 2025, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) berhasil mencatatkan total emas kelolaan sebesar 22,5 ton. Angka ini menjadi cerminan dari antusiasme masyarakat terhadap investasi emas yang aman, syariah, dan mudah diakses secara digital.
Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif strategis pemerintah untuk memperkuat pengelolaan emas nasional. Peluncuran resmi bullion bank sendiri dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto, setelah BSI dan Pegadaian mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjalankan kegiatan usaha ini.
Emas sebagai Bagian dari Ekosistem Keuangan Syariah
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyebut bahwa kehadiran bullion bank menjadi tonggak penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional. Menurutnya, layanan ini tidak hanya mempermudah masyarakat memiliki emas, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari sistem keuangan yang produktif.
BSI ingin menjadikan emas sebagai lebih dari sekadar instrumen lindung nilai. Emas juga bisa menjadi alat investasi yang inklusif dan berkontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi.
Layanan bullion bank dirancang untuk memenuhi prinsip-prinsip syariah, mudah diakses secara digital, dan terjangkau oleh berbagai kalangan. Inovasi ini turut menarik minat generasi muda, khususnya generasi Z, yang komposisinya naik dari 24% menjadi 32% dalam satu tahun.
Pertumbuhan Nasabah dan Kontribusi Pendapatan
Jumlah nasabah BSI sepanjang 2025 melonjak lebih dari 2 juta menjadi lebih dari 23 juta. Ini merupakan pencapaian tertinggi sejak penggabungan bank syariah nasional pada 2021. Layanan bullion bank turut menjadi penarik utama, dengan jumlah nasabahnya meningkat lebih dari 400% dalam satu tahun terakhir.
Layanan ini melengkapi portofolio produk emas BSI yang sudah ada sebelumnya, seperti cicil emas dan gadai emas. Dengan begitu, BSI kini memiliki ekosistem emas terintegrasi yang mencakup perdagangan, simpanan, cicilan, hingga produk BSI Gold.
Seluruh transaksi emas di BSI dilakukan dengan underlying berupa emas fisik. Ini sesuai dengan prinsip syariah yang tidak membolehkan jual beli barang yang belum dimiliki.
Bisnis bullion juga memberikan kontribusi signifikan terhadap fee based income BSI. Ini menjadi salah satu pendorong kinerja keuangan perseroan yang solid sepanjang 2025.
Kinerja Keuangan BSI Sepanjang 2025
Per Desember 2025, total aset BSI mencapai Rp456 triliun, naik 11,64% secara year on year (YoY). Pembiayaan tumbuh 14,49% YoY dengan kualitas tetap terjaga, tercermin dari cost of financing (CoC) di level 0,84%. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) mencatat pertumbuhan 16,20% YoY menjadi Rp380 triliun.
Tabel Kinerja Keuangan Utama BSI per Desember 2025:
| Indikator | Nilai | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Total Aset | Rp456 triliun | 11,64% |
| Pembiayaan | – | 14,49% |
| Cost of Financing (CoC) | 0,84% | Stabil |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | Rp380 triliun | 16,20% |
BSI optimistis transformasi menjadi perusahaan persero langsung di bawah Danantara akan membuka peluang optimalisasi bisnis bullion bank sebagai mesin pertumbuhan baru.
Emas sebagai Instrumen Investasi Safe Haven
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas tetap menjadi instrumen investasi favorit karena sifatnya sebagai safe haven. Ditambah dengan kemudahan akses melalui layanan digital perbankan, minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat.
BSI berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan bullion bank, memperluas literasi investasi emas syariah, dan meningkatkan kolaborasi dengan regulator serta pelaku industri untuk memperkuat ekosistem bank emas nasional.
Perseroan juga berencana memperluas pemanfaatan emas dalam perencanaan keuangan nasabah. Misalnya untuk persiapan ibadah haji, kepemilikan rumah, hingga tujuan finansial lainnya.
Upaya ini didukung melalui kampanye literasi investasi bertajuk Langkah Emas Generasi E.M.A.S. yang bertujuan mendekatkan masyarakat dengan investasi emas.
Dukungan Regulator terhadap Pengembangan Bullion Bank
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem bullion bank sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi nasional.
“Emas menjadi instrumen investasi safe haven dalam kondisi apapun. Untuk itu kami terus mendorong Industri Jasa Keuangan termasuk Bank Syariah Indonesia untuk terus meningkatkan ekosistem bullion bank guna menjadi engine baru pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Airlangga.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan komitmen kuat otoritas untuk terus mendukung pengembangan industri bullion di Indonesia.
“Kami juga ingin menyampaikan komitmen kuat kami dari OJK untuk terus mendukung pemerintah dalam upaya pengembangan kegiatan usaha dan ekosistem bullion sehingga industri bullion dapat berkontribusi nyata dan signifikan dalam peningkatan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” kata Dian.
5 Langkah Mudah Memulai Investasi Emas di BSI
-
Unduh Aplikasi BSI Mobile
Akses layanan bullion bank langsung melalui aplikasi resmi BSI yang tersedia di Android dan iOS. -
Daftar Akun Baru atau Masuk ke Akun yang Sudah Ada
Pastikan data diri sudah lengkap dan terverifikasi untuk proses transaksi yang lancar. -
Pilih Menu Investasi Emas
Di sini tersedia berbagai opsi produk emas yang bisa dibeli secara cicilan maupun langsung. -
Tentukan Nominal dan Metode Pembayaran
Pilih jumlah emas yang ingin dibeli dan pilih metode pembayaran yang sesuai. -
Simpan atau Jual Emas Kapan Saja
Emas yang dibeli akan tersimpan di vault digital BSI dan bisa dikelola secara fleksibel.
Perbandingan Produk Emas BSI
| Produk | Fitur Utama | Minimum Pembelian |
|---|---|---|
| BSI Gold | Emas fisik tersimpan di vault | 0,01 gram |
| Cicil Emas | Beli emas secara berkala | Rp50.000/bulan |
| Gadai Emas | Cairkan dana dari emas yang dimiliki | 1 gram |
| Bullion Bank | Investasi emas digital syariah | 0,1 gram |
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat valid hingga Maret 2026. Angka kinerja keuangan, jumlah nasabah, dan pencapaian lainnya dapat berubah seiring perkembangan bisnis dan kondisi makroekonomi. Pembaca disarankan untuk mengacu pada sumber resmi BSI atau OJK untuk informasi terkini.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













