Industri perbankan Indonesia terus menunjukkan ketangguhan di tengah gejolak ekonomi global. Meski begitu, Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menegaskan bahwa kesiapan menghadapi ketidakpastian ekonomi global tetap menjadi prioritas. Fundamental perbankan nasional masih solid, tapi bukan berarti bisa bersantai. Ada sejumlah langkah antisipatif yang perlu terus diperkuat agar sektor keuangan tetap stabil dan tumbuh berkelanjutan.
Salah satu indikator kinerja yang mencerminkan stabilitas ini adalah pertumbuhan kredit yang mencapai 9,96% secara tahunan (YoY) per Januari 2026. Angka ini meningkat dari 9,63% YoY di akhir 2025. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh sebesar 10,8% YoY. Rasio NPL tetap terjaga di level 2,14%, sementara CAR berada di angka 25,9%. Meski begitu, tekanan pada profitabilitas mulai terasa karena lonjakan biaya operasional.
Strategi Perbankan Hadapi Ketidakpastian Global
Ketegangan geopolitik global yang berkepanjangan berpotensi memicu lonjakan harga energi dan pangan. Ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi. Sektor usaha pun ikut tertekan, yang pada akhirnya bisa meningkatkan risiko NPL. Kondisi ini menuntut perbankan untuk lebih selektif dalam penyaluran kredit dan memperkuat pengelolaan risiko.
1. Penguatan Manajemen Risiko
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperkuat manajemen risiko. Ini mencakup pelaksanaan stress test sektoral pada portofolio di sektor transportasi, logistik, dan manufaktur yang sangat bergantung pada BBM. Selain itu, penerapan early warning system untuk mendeteksi potensi pemburukan NPL juga menjadi penting.
Perbankan juga perlu mengetat disiplin kredit dan menerapkan risk-based pricing. Dengan pendekatan ini, bank bisa lebih selektif dalam menilai risiko calon debitur dan menyesuaikan suku bunga pinjaman sesuai profil risiko.
2. Memastikan Likuiditas yang Memadai
Langkah kedua adalah memastikan likuiditas tetap mencukupi. Perbankan harus memperkuat Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR). Kedua rasio ini menjadi indikator penting dalam mengukur kemampuan bank menghadapi potensi volatilitas arus dana.
Memiliki bantalan arus kas yang cukup adalah kunci. Dalam kondisi ketidakpastian, likuiditas bisa menjadi penyelamat ketika ada lonjakan penarikan dana atau penurunan sumber pendanaan.
3. Pengelolaan Risiko Valas dan Likuiditas Devisa
Langkah ketiga adalah mengelola risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing. Perbankan perlu menjaga posisi devisa neto (PDN) tetap konservatif. Strategi lindung nilai (hedging) juga harus diperkuat untuk mengurangi eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar.
Selain itu, pengelolaan maturity mismatch valuta asing menjadi penting. Ini untuk memastikan bahwa kebutuhan valas jangka pendek dan panjang bisa terpenuhi tanpa mengganggu stabilitas likuiditas bank.
Peran Regulator dalam Menjaga Stabilitas
Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas OJK, Deden Firman Hendarsyah, menyatakan bahwa kondisi perbankan nasional masih cukup resilien. Terutama dari sisi permodalan dan likuiditas. Seluruh indikator utama masih berada di atas threshold minimal yang ditetapkan regulator.
| Indikator | Kondisi Awal 2026 | Catatan |
|---|---|---|
| Pertumbuhan Kredit | 9,96% YoY | Naik dari 9,63% YoY di 2025 |
| Pertumbuhan DPK | 10,8% YoY | Stabil |
| Rasio NPL | 2,14% | Terjaga |
| CAR | 25,9% | Kuat |
| Profitabilitas | Tertekan moderat | Kenaikan biaya operasional |
Tantangan yang Masih Mengintai
Meski kondisi perbankan nasional tergolong stabil, tekanan dari luar tetap ada. Inflasi global, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian ekonomi dunia bisa berdampak pada daya beli masyarakat. Ini berpotensi memicu lonjakan NPL, terutama di sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan ekonomi.
Perbankan juga harus menghadapi tantangan dari perubahan kebijakan moneter global. Kenaikan suku bunga di negara maju bisa memicu pergerakan modal keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Kesimpulan
Strategi mitigasi risiko yang disiapkan oleh perbankan nasional bukan sekadar antisipasi, tapi juga bentuk kesiapan menghadapi berbagai skenario ekonomi global. Dengan penguatan manajemen risiko, likuiditas, dan pengelolaan valas, sektor perbankan diharapkan tetap stabil dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Disclaimer: Data dan kondisi ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung dinamika global. Indikator yang disebutkan bersifat terkini hingga awal 2026 dan dapat berbeda di masa mendatang.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













