Nasional

Wall Street Terpuruk, Rekor Pekan Terburuk Pasar Saham Sejak Oktober 2025

Rista Wulandari
×

Wall Street Terpuruk, Rekor Pekan Terburuk Pasar Saham Sejak Oktober 2025

Sebarkan artikel ini
Wall Street Terpuruk, Rekor Pekan Terburuk Pasar Saham Sejak Oktober 2025

Wall Street terperosok dalam pekan yang memprihatinkan jelang akhir pekan lalu. Saham-saham di bursa New York ditutup lebih rendah pada Jumat, 6 Maret 2026, meski sempat membaik dari titik terendah sesi. Dua faktor utama memicu tekanan pasar: data tenaga kerja yang lebih lemah dari ekspektasi dan lonjakan minyak mentah yang dipicu ketegangan di Timur Tengah.

Indeks S&P 500 terperosok 1,4 persen, menutup di level 6.738,15 poin. Indeks Nasdaq turun 1,6 persen, sementara Dow Jones Industrial Average anjlok 1 persen. Meski begitu, para investor tampaknya masih berani membeli di level-level tertentu, terutama saat S&P 500 menguji support di kisaran 6.715.

Pekan Buruk Wall Street Sejak Oktober 2025

Pekan terakhir Maret 2026 menjadi salah satu yang paling menantang bagi Wall Street sejak pertengahan Oktober tahun lalu. Sentimen negatif semakin diperparah oleh ketidakpastian geopolitik dan data yang mengecewakan.

1. S&P 500 Turun Dua Persen

Indeks acuan S&P 500 mencatat koreksi mingguan sebesar 2 persen. Angka ini merupakan penurunan terbesar sejak Oktober , saat ketegangan global juga sempat memicu volatilitas pasar.

2. Nasdaq Anjlok 1,2 Persen

Indeks teknologi Nasdaq juga tidak luput dari tekanan. Dalam seminggu, indeks ini turun 1,2 persen. Saham-saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan dan biaya modal merasakan dampaknya.

3. Dow Jones Terpuruk 3,1 Persen

Dow Jones Industrial Average menjadi indeks yang paling terpukul dalam pekan ini. Penurunan sebesar ,1 persen menunjukkan betapa beratnya tekanan yang dirasakan oleh saham-saham blue-chip.

Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Lonjakan AS menjadi salah satu pemicu utama volatilitas pasar. Ketegangan di Timur Tengah, terutama serangan gabungan AS-Israel terhadap , memicu lonjakan harga energi.

1. Harga Minyak Naik Tajam

Harga minyak mentah berjangka AS melonjak usai konflik di Iran. Lonjakan ini berdampak langsung pada biaya bensin di Amerika Serikat, yang naik hingga USD3,25 per galon.

2. Inflasi Makin Sulit Dikendalikan

Lonjakan harga energi memperlebar tekanan inflasi. Margin perusahaan tergerus dan daya beli konsumen menurun. Ini mempersulit Federal Reserve dalam menjaga stabilitas harga.

3. Ketidakpastian Geopolitik Makin Menjalar

Konflik di Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan segera mereda. Pernyataan dari pejabat AS dan Israel menunjukkan bahwa serangan masih akan berlanjut, memicu spekulasi gangguan jangka panjang terhadap global.

Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan

Fokus investor juga tertuju pada laporan tenaga kerja AS bulan Februari. Hasilnya mengejutkan banyak pihak, karena justru menunjukkan pengurangan lapangan kerja.

1. AS Kehilangan 92.000 Pekerjaan

AS secara mengejutkan kehilangan 92.000 lapangan kerja pada Februari 2026. Angka ini jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 58.000 pekerjaan.

2. Tingkat Pengangguran Naik Jadi 4,4 Persen

Tingkat pengangguran naik dari 3,9 persen menjadi 4,4 persen. Lonjakan ini menunjukkan perlambatan di pasar tenaga kerja yang sebelumnya masih terjaga.

3. Revisi Data Sebelumnya Juga Negatif

Data sebelumnya juga direvisi ke arah yang lebih buruk. Penambahan pekerjaan Januari direvisi turun dari 130.000 menjadi 126.000, sementara Desember direvisi dari penambahan 48.000 menjadi pengurangan 17.000.

Reaksi Pasar dan Ekspektasi Suku Bunga

Data tenaga kerja yang buruk memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan lebih cepat memangkas suku bunga. Investor mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter.

1. Pasar Lebih Optimis pada Pemangkasan Suku Bunga

Laporan tenaga kerja yang lemah membuat trader meningkatkan taruhan pada kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat.

2. Penjualan Ritel Januari Masih Lesu

Data penjualan ritel Januari turun 0,2 persen secara bulanan, meski lebih baik dari ekspektasi. Namun, penjualan ritel inti tetap datar, menunjukkan daya beli konsumen yang belum pulih sepenuhnya.

3. Investor Harapkan Stimulus Lebih Awal

Investor mulai berharap bahwa data ekonomi yang melemah akan memaksa The Fed untuk mengambil langkah lebih cepat dalam menurunkan suku bunga, demi mencegah perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Penutup

Pekan terakhir Maret 2026 menjadi pengingat betapa rapuhnya pasar saham ketika dihadapkan pada gejolak geopolitik dan data ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi. Wall Street mengakhiri pekan dengan performa terburuk sejak Oktober 2025, dan belum ada tanda-tanda bahwa tekanan ini akan segera mereda.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan makroekonomi. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak menjadi rekomendasi investasi.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.