Badai ekonomi global yang belum reda mulai berdampak pada sektor perbankan dalam negeri, khususnya bank-bank mini atau yang termasuk dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 dan 2. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa total aset KBMI 1 dan 2 justru menyusut secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal IV-2025. Penyusutan ini menjadi perhatian serius, mengingat bank-bank ini memiliki peran penting dalam mendorong inklusi keuangan dan pemberdayaan ekonomi mikro serta menengah.
Sementara itu, KBMI 3 dan 4 justru mencatatkan pertumbuhan aset yang cukup signifikan. Fenomena ini menggambarkan adanya pergeseran dinamika industri perbankan nasional yang mungkin dipicu oleh tekanan eksternal dan strategi adaptif dari masing-masing bank.
Penyusutan Aset KBMI 1 dan 2 di Tengah Ketidakpastian Global
1. Data OJK Soal Aset KBMI 1 dan 2
Pada kuartal IV-2025, total aset KBMI 1 turun 9,55% YoY, dari Rp1.447,34 triliun menjadi Rp1.309,08 triliun. KBMI 2 juga mengalami penurunan sebesar 4,41% YoY, dari Rp1.674,82 triliun menjadi Rp1.600,99 triliun. Angka ini kontras dengan pertumbuhan aset perbankan secara keseluruhan yang mencapai 9,51% YoY, dari Rp12.460,95 triliun menjadi Rp13.646,41 triliun.
| Kelompok Bank | Aset Q4 2024 (Rp Triliun) | Aset Q4 2025 (Rp Triliun) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| KBMI 1 | 1.447,34 | 1.309,08 | -9,55% |
| KBMI 2 | 1.674,82 | 1.600,99 | -4,41% |
| KBMI 3 | 3.117,10 | 3.725,44 | +19,52% |
| KBMI 4 | 6.221,68 | 7.010,90 | +12,69% |
2. Faktor Penyebab Penurunan Aset
Penurunan aset KBMI 1 dan 2 tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor makro yang turut memengaruhi kondisi ini, antara lain:
- Ketidakpastian ekonomi global yang berkepanjangan.
- Inflasi yang masih tinggi di berbagai negara maju.
- Kebijakan suku bunga acuan yang tinggi, khususnya dari The Fed, yang meningkatkan biaya dana bagi bank kecil.
- Tekanan likuiditas dan risiko pendanaan yang lebih besar dibandingkan bank besar.
3. Respons dari Bank-Bank Mini
Beberapa bank mini justru memilih untuk menyesuaikan strategi bisnis, bukan terus memaksakan pertumbuhan yang berisiko tinggi. Misalnya, Bank Neo Commerce menekankan pada pengelolaan risiko yang ketat dan menjaga kualitas portofolio kreditnya. Sementara itu, Krom Bank justru mencatatkan pertumbuhan aset yang sangat signifikan, mencapai 84% YoY.
Strategi Adaptif Bank Mini di Tengah Badai Makro
1. Krom Bank: Pertumbuhan Agresif dengan Fokus pada Digitalisasi
Krom Bank mencatatkan aset sebesar Rp12,23 triliun pada akhir 2025, naik dari Rp6,65 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi kredit yang agresif (103% YoY) dan lonjakan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 166% YoY.
Strategi yang diambil Krom Bank antara lain:
- Penyaluran kredit yang terukur ke sektor UMKM dan konsumsi produktif.
- Peningkatan dana murah (CASA) melalui inovasi layanan digital.
- Fokus pada efisiensi operasional dan penguatan modal inti.
2. Bank Neo Commerce: Prudent dan Fokus Kualitas
Bank Neo Commerce memilih pendekatan yang lebih hati-hati. Direktur Utama Eri Budiono menyatakan bahwa penurunan aset tidak serta merta menjadi indikator negatif, melainkan bagian dari penyesuaian strategi di tengah ketidakpastian global.
Beberapa langkah yang diambil antara lain:
- Menjaga kualitas portofolio kredit.
- Memperkuat manajemen risiko dan likuiditas.
- Menyesuaikan strategi bisnis dengan kondisi makroekonomi yang dinamis.
3. Pandangan Ekonom: Penyusutan Bisa Jadi Penyesuaian Strategi
Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata, menilai bahwa penyusutan aset KBMI 1 dan 2 tidak serta merta berarti krisis. Ia menyebut bahwa jika disertai dengan perbaikan kualitas aset dan penguatan modal, penyusutan bisa justru menjadi langkah defensif yang sehat.
Indikator makro perbankan nasional masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil:
- Rasio kecukupan modal tetap tinggi.
- Likuiditas perbankan masih memadai.
- Rasio kredit bermasalah terjaga.
Dampak Jangka Panjang dan Proyeksi ke Depan
1. Peran Bank Mini dalam Ekosistem Perbankan
Meski mengalami penyusutan aset, bank-bank mini tetap memiliki peran penting dalam ekosistem perbankan nasional. Mereka menjadi jembatan inklusi keuangan bagi masyarakat di daerah terpencil dan kalangan UMKM yang belum tersentuh layanan perbankan besar.
Namun, tantangan global yang terus berlanjut bisa memaksa sebagian bank untuk melakukan konsolidasi atau bahkan merger untuk tetap bertahan.
2. Tantangan Geopolitik dan Inflasi Global
Kondisi geopolitik dunia yang semakin tidak menentu, seperti ketegangan antara AS, Israel, dan Iran, berpotensi mengganggu pasokan minyak dan memicu kenaikan harga secara global. Ini akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.
3. Adaptasi Digital sebagai Kunci Bertahan
Bank-bank mini yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital justru memiliki peluang untuk tumbuh di tengah keterbatasan aset. Digitalisasi layanan tidak hanya meningkatkan efisiensi, tapi juga memperluas jangkauan nasabah dan mengurangi ketergantungan pada pendanaan mahal.
Kesimpulan
Penyusutan aset bank-bank mini di kuartal IV-2025 bukanlah gejolak yang perlu dikhawatirkan secara sistemik. Ini lebih merupakan bentuk penyesuaian strategi di tengah badai ekonomi global. Bank-bank yang mampu menjaga kualitas aset, memperkuat modal, dan beradaptasi dengan teknologi digital justru memiliki peluang untuk tumbuh lebih berkelanjutan di masa depan.
Namun, tantangan global seperti inflasi tinggi, ketidakpastian geopolitik, dan tekanan suku bunga tetap menjadi ancaman yang harus terus diwaspadai.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersumber dari OJK dan pernyataan resmi pihak bank terkait per kuartal IV-2025. Angka dan kondisi bisa berubah seiring perkembangan ekonomi makro dan kebijakan yang diambil oleh regulator.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













