Total aset Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 dan 2 mengalami penyusutan pada kuartal IV/2025. Meski begitu, penurunan ini tidak serta merta mencerminkan krisis sistemik, melainkan lebih pada penyesuaian strategis di tengah dinamika makroekonomi global dan kebijakan moneter yang ketat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset perbankan nasional pada kuartal IV/2025 sebesar Rp13.646,41 triliun, naik 9,51% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan ini tidak dirasakan merata di semua kelompok bank. KBMI 1 dan KBMI 2 justru mengalami kontraksi, sementara KBMI 3 dan KBMI 4 menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Penyebab Penurunan Aset KBMI 1 dan 2
Penurunan aset pada KBMI 1 dan 2 dipicu oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. Faktor makroekonomi global seperti ketidakpastian ekonomi, inflasi tinggi, serta kebijakan suku bunga yang ketat dari bank sentral global, khususnya The Fed, menjadi pemicu utama. Hal ini meningkatkan biaya dana bagi bank-bank kecil dan menengah, sehingga membatasi ekspansi kredit mereka.
KBMI 1 mencatatkan total aset sebesar Rp1.309,08 triliun, turun 9,55% YoY dari Rp1.447,34 triliun pada kuartal IV/2024. Sementara KBMI 2 mengalami penyusutan 4,41% YoY, dari Rp1.674,82 triliun menjadi Rp1.600,99 triliun.
1. Ketidakpastian Ekonomi Global
Ketidakpastian ekonomi global, terutama akibat ketegangan geopolitik dan perang antara AS, Israel, dan Iran, memicu volatilitas pasar dan menghambat pasokan minyak. Ini berpotensi mendorong inflasi dan memperlemah daya beli masyarakat.
2. Kebijakan Suku Bunga Tinggi
Kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral dunia, terutama The Fed, membuat biaya dana bagi bank menjadi lebih mahal. Bank dengan modal kecil seperti KBMI 1 dan 2 merasakan dampaknya lebih besar karena kurangnya buffer modal untuk menyerap tekanan biaya.
3. Tekanan pada Likuiditas dan Pendanaan
Beberapa bank KBMI 1 dan 2 menghadapi tekanan pendanaan, terutama dari penarikan dana besar atau konsentrasi deposan. Ini memaksa mereka untuk lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, yang pada akhirnya membatasi pertumbuhan aset.
Respons Bank dan Strategi Adaptasi
Meski menghadapi tantangan, sejumlah bank tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Krom Bank, misalnya, mencatat aset sebesar Rp12,23 triliun pada akhir 2025, naik 84% YoY. Bank ini berhasil melonjakkan pertumbuhan kredit hingga 103% dan DPK naik 166% berkat inovasi produk digital.
1. Fokus pada Kredit Prudent ke UMKM
Bank-bank yang berhasil tumbuh memilih fokus pada penyaluran kredit ke sektor UMKM dan konsumsi produktif. Pendekatan ini dianggap lebih aman dan memberikan return yang stabil.
2. Peningkatan Dana Murah (CASA)
Strategi lain yang digunakan adalah meningkatkan proporsi dana murah atau CASA (Current Account Savings Account). Ini membantu menekan biaya dana dan meningkatkan margin bunga.
3. Inovasi Layanan Digital
Inovasi layanan digital menjadi kunci dalam menarik nasabah baru dan meningkatkan efisiensi operasional. Bank yang mampu beradaptasi dengan teknologi lebih cepat menunjukkan kinerja yang lebih baik.
Dinamika Pertumbuhan KBMI 3 dan 4
Berbeda dengan KBMI 1 dan 2, KBMI 3 dan 4 justru mencatatkan pertumbuhan aset yang positif. Aset KBMI 3 mencapai Rp3.725,44 triliun, naik 19,52% YoY. Sementara KBMI 4 mencatatkan aset sebesar Rp7.010,90 triliun, tumbuh 12,69% YoY.
Tabel Perbandingan Pertumbuhan Aset KBMI (Kuartal IV/2024 vs Kuartal IV/2025)
| Kelompok | Aset Q4/2024 (Rp Triliun) | Aset Q4/2025 (Rp Triliun) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| KBMI 1 | 1.447,34 | 1.309,08 | -9,55% |
| KBMI 2 | 1.674,82 | 1.600,99 | -4,41% |
| KBMI 3 | 3.117,10 | 3.725,44 | +19,52% |
| KBMI 4 | 6.221,68 | 7.010,90 | +12,69% |
Apakah Ini Sinyal Guncangan Sistemik?
Penurunan aset KBMI 1 dan 2 belum tentu menjadi sinyal guncangan sistemik. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, menyatakan bahwa penyusutan bisa justru menjadi langkah defensif yang mengurangi risiko, selama disertai dengan peningkatan kualitas aset, modal, dan likuiditas.
Indikator makro industri perbankan masih menunjukkan kondisi yang sehat, seperti rasio kecukupan modal yang tinggi dan rasio kredit bermasalah yang terjaga. Ini menunjukkan bahwa penurunan aset lebih merupakan penyesuaian strategi ketimbang krisis.
Kesimpulan
Penyusutan aset KBMI 1 dan 2 pada kuartal IV/2025 adalah dampak dari tekanan makroekonomi global dan kebijakan moneter yang ketat. Meski menunjukkan perlambatan, kondisi ini belum mengarah pada risiko sistemik. Bank yang mampu beradaptasi dengan cepat melalui inovasi dan strategi fokus pada kualitas aset tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersumber dari laporan OJK kuartal IV/2025 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













