Masjid kini tak hanya menjadi pusat ibadah, tapi juga bertransformasi sebagai simbol perubahan energi. Di tengah dorongan untuk mencapai target 100 GW energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, sebuah inisiatif unik lahir dari sinergi antara nilai-nilai keagamaan dan kepedulian lingkungan. Yakni, mengubah masjid menjadi pusat transisi energi. Langkah ini bukan sekadar simbolik, tapi merupakan bagian dari strategi nasional untuk mendorong adopsi energi bersih secara luas dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan yang disebut “Ekoteologi”, konsep yang menggabungkan ajaran agama dengan pelestarian alam, sebuah gerakan baru mulai terbentuk. Gerakan ini memanfaatkan ruh kebersamaan dan kepedulian umat untuk mendorong transisi energi yang lebih hijau dan inklusif. Masjid bukan lagi hanya tempat beribadah, tapi juga menjadi gardu perubahan sosial dan lingkungan.
Mengenal Konsep Wakaf Energi dan Sedekah Energi
Dua konsep utama yang menjadi pilar dari gerakan ini adalah Wakaf Energi dan Sedekah Energi. Keduanya merupakan inisiatif yang menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan solusi teknologi bersih. Wakaf Energi diperkenalkan oleh Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, sementara Sedekah Energi diinisiasi oleh MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact).
1. Definisi Wakaf Energi
Wakaf Energi adalah bentuk wakaf produktif yang memanfaatkan sumber energi terbarukan, seperti panel surya, untuk menghasilkan listrik yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Hasilnya tidak hanya memberi manfaat langsung, tapi juga berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
2. Definisi Sedekah Energi
Sedekah Energi adalah bentuk partisipasi kolektif umat dalam mendanai dan mengelola proyek energi bersih, khususnya solarisasi masjid. Program ini mengajak masyarakat untuk memberikan kontribusi finansial maupun keterampilan teknis untuk membangun sistem energi bersih di masjid-masjid.
Peran Masjid dalam Transisi Energi Nasional
Masjid memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam transisi energi nasional. Dengan jumlah masjid yang mencapai ratusan ribu di seluruh Indonesia, jika setiap masjid menggunakan energi bersih, dampaknya akan sangat signifikan.
1. Edukasi dan Inspirasi
Masjid menjadi pusat edukasi tentang pentingnya energi bersih. Melalui khutbah Jumat, pengajian, dan program sosial, pesan tentang keberlanjutan lingkungan bisa disampaikan secara efektif.
2. Implementasi Teknologi Hijau
Dengan mengadopsi panel surya dan sistem energi bersih lainnya, masjid menjadi contoh nyata penerapan teknologi hijau. Ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tapi juga menghemat biaya operasional.
Solarisasi Masjid: Langkah Konkret Menuju Energi Bersih
Program solarisasi masjid telah dimulai dan menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Sejauh ini, enam titik masjid di Indonesia telah berhasil disolarisasi melalui program Sedekah Energi.
1. Lokasi Masjid yang Disolarisasi
- Masjid Raya Al Azhar Jababeka, Cikarang
- Masjid Agung Demak, Jawa Tengah
- Masjid Raya Baiturrahman, Aceh
- Masjid Nurul Iman, Aceh Tamiang
- Masjid Al-Munawwarah, Yogyakarta
- Masjid At-Taqwa, Jakarta
2. Hasil Daya yang Dihasilkan
| Masjid | Daya Terpasang (WP) |
|---|---|
| Masjid Raya Al Azhar | 6.000 WP |
| Masjid Agung Demak | 4.500 WP |
| Masjid Raya Baiturrahman | 5.000 WP |
| Masjid Nurul Iman | 3.025 WP |
| Masjid Al-Munawwarah | 2.500 WP |
| Masjid At-Taqwa | 2.500 WP |
| Total | 23.525 WP |
Program ini tidak hanya memberikan manfaat energi, tapi juga melatih komunitas lokal untuk mengelola sistem panel surya secara mandiri. Ini adalah langkah penting untuk memastikan keberlanjutan program.
Kolaborasi dan Sinergi Strategis
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Dari pemerintah, yayasan, hingga komunitas lokal, semua berperan penting.
1. Peran Kementerian Agama
Melalui Direktorat Pemberdayaan Zakat Wakaf, Kementerian Agama memberikan dukungan regulasi dan kampanye agar program ini bisa menjangkau lebih banyak masyarakat.
2. Peran Yayasan dan Komunitas
Yayasan Pesantren Islam Al Azhar dan MOSAIC menjadi motor penggerak utama. Mereka tidak hanya menggalang dana, tapi juga memastikan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana serta hasil yang berkelanjutan.
Tantangan dan Peluang Ke Depan
Meski program ini menunjukkan hasil yang positif, tetap ada tantangan yang harus dihadapi. Di antaranya adalah keterbatasan dana, kurangnya pengetahuan teknis di komunitas lokal, dan perlunya regulasi yang lebih mendukung.
Namun, peluangnya sangat besar. Dengan semakin banyaknya masjid yang beralih ke energi bersih, dampaknya bisa menyebar ke masyarakat luas. Masjid menjadi laboratorium kecil untuk memperkenalkan teknologi hijau secara praktis dan nyata.
Komitmen Jangka Panjang
Yayasan Pesantren Islam Al Azhar telah menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan program ini. Rencananya, model Wakaf Energi dan Sedekah Energi akan diterapkan di lebih banyak masjid dan lembaga pendidikan dalam naungan yayasan.
Selain itu, akan ada pengembangan sistem monitoring yang lebih transparan, sehingga donatur dan masyarakat bisa melihat secara langsung dampak dari kontribusi mereka.
Penutup
Gerakan mengubah masjid menjadi pusat transisi energi adalah langkah nyata dan bermakna dalam mendorong target 100 GW energi terbarukan di Indonesia. Dengan menggabungkan nilai-nilai keagamaan dan teknologi bersih, inisiatif ini tidak hanya menghasilkan energi, tapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga bumi.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan program dan kondisi lapangan. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dari pihak penyelenggara program.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.









