Harga minyak dunia mengalami kenaikan tipis di tengah ketegangan geopolitik yang kembali memanas. Lonjakan kecil ini terjadi seiring dengan fluktuasi pasar yang dipicu oleh serangkaian serangan militer di kawasan Timur Tengah serta data ekonomi Amerika Serikat yang cukup positif.
Minyak Brent, salah satu patokan harga global, naik sekitar 0,4 persen menjadi USD81,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika naik 0,7 persen, mencapai USD75,07 per barel. Kedua jenis minyak ini mencatat kenaikan hampir lima persen pada Selasa, dan Brent bahkan menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024.
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah serangan terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Israel menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, tokoh tertinggi Iran. Respons Iran pun datang cepat dengan meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Iran juga mengarahkan ancamannya langsung ke jalur pengiriman minyak global, terutama Selat Hormuz. Jalur sempit ini menjadi arteri penting bagi ekspor minyak dari negara-negara besar seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen minyak dunia melewati selat ini setiap harinya.
1. Ancaman Terhadap Jalur Hormuz
Ancaman Iran terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz memicu kekhawatiran serius di pasar minyak. Meski belum terjadi penutupan total, aktivitas pelayaran sudah mulai terganggu. Beberapa kapal menghindari jalur ini, dan produksi minyak di negara-negara kawasan mulai terdampak.
2. Produksi Minyak Irak Turun Drastis
Irak, salah satu produsen minyak besar di kawasan, terpaksa mengurangi produksi karena kehabisan kapasitas penyimpanan. Beberapa ladang utama seperti Rumaila, West Qurna 2, dan Maysan mengalami pemangkasan produksi hingga ratusan ribu barel per hari. Produksi di wilayah Kirkuk utara juga ditangguhkan sebagai langkah antisipasi.
3. Respons Militer AS dan Israel
Serangan gabungan AS-Israel terhadap infrastruktur militer Iran terus berlanjut. Laksamana Brad Cooper mengungkapkan bahwa lebih dari 2.000 target telah dihancurkan. Respons ini dianggap berhasil, termasuk penenggelaman kapal perang Iran di Samudra Hindia.
Data Ekonomi AS Dorong Sentimen Positif
Meski ketegangan geopolitik masih menjadi sorotan, data ekonomi AS yang dirilis memberikan angin segar bagi pasar. Laporan dari ADP menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja swasta sebesar 63.000 pada Februari 2026, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya sebesar 50.000.
1. Pertumbuhan Tenaga Kerja yang Solid
Angka ini menjadi indikator awal bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Kenaikan ini memberikan optimisme bahwa ekonomi AS bisa bertahan meski harga minyak naik. Investor pun mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.
2. Fokus ke Laporan Non-Farm Payrolls
Seluruh perhatian pasar kini tertuju pada laporan penggajian non-pertanian yang akan dirilis akhir pekan ini. Data ini akan menjadi indikator lebih akurat tentang kondisi tenaga kerja AS dan bisa memengaruhi arah harga minyak ke depannya.
Prediksi Harga Minyak Naik di Kuartal II 2026
Investment bank Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak untuk kuartal kedua 2026. Brent diperkirakan naik USD10 menjadi rata-rata USD76 per barel, sementara WTI naik USD9 menjadi USD71 per barel.
1. Penurunan Aliran Minyak Lewat Hormuz
Prediksi ini didasarkan pada asumsi bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz akan tetap rendah. Penurunan ini berpotensi menyebabkan penurunan besar pada persediaan minyak di negara-negara OECD serta gangguan produksi di Timur Tengah.
2. Potensi Lonjakan Hingga USD100 per Barel
Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika gangguan di Hormuz berlangsung lebih lama, harga Brent bisa mencapai USD100 per barel. Level ini biasanya memicu penurunan permintaan sebagai mekanisme pasar untuk menjaga keseimbangan persediaan.
Reaksi Pasar dan Strategi Investasi
George Smith dari LPL Financial menyatakan bahwa pasar energi umumnya memberikan respons cepat terhadap risiko geopolitik. Saham energi sering kali menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian meningkat.
Namun, Smith juga menekankan bahwa tekanan harga biasanya mereda jika pasokan fisik dan distribusi tetap berjalan lancar. Artinya, lonjakan harga saat ini bisa bersifat sementara, tergantung pada perkembangan situasi di lapangan.
Tabel Perkiraan Harga Minyak 2026
| Jenis Minyak | Harga Sebelumnya | Harga Baru (Q2 2026) | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Brent | USD66 per barel | USD76 per barel | USD10 |
| WTI | USD62 per barel | USD71 per barel | USD9 |
Disclaimer
Harga minyak sangat rentan terhadap perubahan geopolitik dan kondisi ekonomi global. Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan serta kebijakan pemerintah dan bank sentral dunia.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













