Rupiah kembali terperosok di akhir perdagangan Rabu, 4 Maret 2026. Mata uang Garuda itu ditutup melemah 0,12% atau 20 poin, dari level Rp16.872 menjadi Rp16.892 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi meski sepanjang hari rupiah sempat bergerak fluktuatif, dengan rentang perdagangan antara Rp16.885 hingga Rp16.938.
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan sentimen pasar yang masih sensitif terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Investor tampaknya masih menahan diri sambil menunggu perkembangan lebih lanjut terkait eskalasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Dinamika Nilai Tukar Rupiah
Perdagangan rupiah pada Rabu menunjukkan tekanan pelemahan yang cukup konsisten menjelang penutupan. Ibrahim Assuaibi, analis pasar uang, mencatat bahwa rupiah sempat melemah hingga 60 poin di sesi tengah hari, sebelum pulih sebagian di akhir sesi.
Berikut data penutupan rupiah terhadap dolar AS berdasarkan berbagai sumber:
| Sumber Data | Kurs Penutupan | Perubahan Harian |
|---|---|---|
| Bloomberg | Rp16.892 | -20 poin (-0,12%) |
| Yahoo Finance | Rp16.880 | -15 poin (-0,09%) |
| Jisdor | Rp16.911 | -41 poin (-0,24%) |
Perbedaan angka antara sumber menunjukkan bahwa rupiah memang berada di zona tekanan, meskipun tidak secara signifikan. Pergerakan harian yang terbilang kecil ini menunjukkan bahwa pasar masih menahan diri dan menunggu isyarat lebih lanjut dari sentimen global.
Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah
1. Eskalasi Konflik Timur Tengah
Ketegangan antara AS-Israel melawan Iran semakin memanas. Serangan terkoordinasi yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei memicu respons keras dari Iran. Negara itu mengancam akan menyerang kapal yang melewati Selat Hormuz, jalur kritis bagi distribusi minyak global.
2. Gangguan Pasokan Minyak Global
Ancaman terhadap Selat Hormuz langsung memengaruhi pasar minyak. Produksi di ladang besar Irak seperti Rumaila dan West Qurna terpaksa dihentikan sementara. Total hingga 1,2 juta barel per hari produksi terhenti.
3. Intervensi Militer AS
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS siap mengawal kapal komersial jika diperlukan. Namun, upaya ini belum sepenuhnya menenangkan pasar, karena risiko geopolitik masih tinggi.
Proyeksi Rupiah untuk Perdagangan Kamis
Melihat dinamika tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis. Pergerakan diperkirakan fluktuatif dalam rentang Rp16.890 hingga Rp16.940 per USD.
Jika rupiah benar-benar menembus level Rp17.000 dalam pekan ini, maka target tahunan di Rp17.400 bisa mulai terlihat realistis. Namun, ini sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan respons pasar global terhadap risiko geopolitik.
Dampak pada Harga Komoditas dan Inflasi
Ketegangan di kawasan penghasil minyak utama dunia berpotensi mendorong kenaikan harga energi. Bila berlangsung lama, ini bisa berdampak langsung pada biaya impor energi bagi Indonesia, yang pada gilirannya bisa mendorong inflasi.
Sebagai negara pengimpor minyak, tekanan dari kenaikan harga minyak mentah bisa dirasakan di berbagai sektor, terutama transportasi dan produksi barang.
Respons Kebijakan Bank Sentral
Bank Indonesia (BI) biasanya akan memantau pergerakan rupiah secara ketat dalam situasi seperti ini. Jika pelemahan berlangsung terus, BI bisa melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Namun, langkah ini juga harus seimbang agar tidak mengganggu likuiditas domestik dan pertumbuhan ekonomi.
Apa yang Harus Dipantau Investor
Investor dan pelaku pasar disarankan untuk terus memperhatikan:
- Perkembangan konflik di Timur Tengah
- Data ekonomi AS, terutama terkait kebijakan Federal Reserve
- Harga minyak mentah global
- Kebijakan intervensi BI terhadap rupiah
Kondisi ini bisa berubah dengan cepat. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru dari sumber terpercaya.
Kesimpulan
Rupiah yang ditutup di level Rp16.892 per USD mencerminkan situasi ketidakpastian global. Sentimen negatif dari eskalasi konflik Timur Tengah masih menjadi pendorong utama pelemahan. Meski begitu, pergerakan harian yang tidak terlalu ekstrem menunjukkan bahwa pasar masih menahan diri.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada respons internasional terhadap ketegangan di kawasan tersebut. Investor disarankan tetap waspada dan mengikuti perkembangan secara berkala.
Disclaimer: Data kurs dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar dan kebijakan moneter. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan bukan sebagai rekomendasi investasi.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













