Di tengah keterbatasan akses perbankan di pelosok desa, kehadiran BRILink Agen jadi jembatan penting bagi masyarakat. Terutama di wilayah-wilayah yang jauh dari kota besar, layanan ini membawa transaksi keuangan lebih dekat ke rumah-rumah warga. Di Desa Prigi, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sosok bernama Rumiatun menjadi simbol nyata dari semangat layanan tersebut. Ia bukan hanya pedagang kios, tapi juga agen keuangan yang menjembatani kebutuhan ekonomi warga sehari-hari.
Sebagai pemilik kios pupuk, Rumiatun memahami betul kebutuhan warga sekitar. Bukan hanya kebutuhan bahan pertanian, tapi juga akses ke layanan perbankan. Sebelum kehadiran BRILink, warga harus rela menempuh jarak jauh hanya untuk tarik tunai atau cek saldo. Bagi petani yang sibuk di sawah, hal itu jelas merepotkan. Melihat celah ini, pada 2018, Rumiatun memutuskan untuk menjadi BRILink Agen. Langkah itu bukan hanya membantu dirinya menambah penghasilan, tapi juga memberi manfaat besar bagi komunitasnya.
Peran Rumiatun sebagai BRILink Agen
1. Menjadi Solusi Akses Keuangan Desa
Rumiatun memulai perannya sebagai BRILink Agen dengan visi sederhana: membawa layanan perbankan ke ujung jari warga. Kiosnya yang berada di lokasi strategis langsung menjadi titik layanan transaksi keuangan. Warga kini bisa tarik tunai, setor uang, transfer, hingga bayar tagihan tanpa harus pergi ke kota.
2. Menyediakan Layanan Pencairan Bantuan Sosial
Salah satu kontribusi besar Rumiatun adalah dalam penyaluran bantuan sosial, khususnya Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Ia membantu warga mengecek saldo dan mencairkan bantuan secara langsung di desa. Ini menghemat waktu, tenaga, dan biaya transportasi yang biasanya dikeluarkan warga.
3. Menjadi Edukator Keuangan Bagi Warga
Tantangan awal yang dihadapi Rumiatun adalah rendahnya literasi keuangan warga. Banyak yang belum paham cara menggunakan ATM atau buku tabungan. Ia pun tidak hanya melayani transaksi, tapi juga menjelaskan pentingnya menabung dan bertransaksi lewat bank. Edukasi ini membangun kepercayaan dan mendorong lebih banyak warga untuk menggunakan layanan formal.
Tantangan yang Dihadapi
1. Rendahnya Literasi Keuangan
Di awal karier sebagai agen, Rumiatun menghadapi tantangan besar: sebagian besar warga belum mengerti cara menggunakan layanan perbankan. Banyak yang bahkan tidak memiliki kartu ATM. Ia harus bersabar menjelaskan manfaat dan cara kerja sistem perbankan.
2. Keterbatasan Infrastruktur
Wilayah desa juga kerap menghadapi masalah jaringan internet yang tidak stabil. Hal ini memengaruhi kelancaran transaksi digital. Rumiatun harus siap dengan solusi alternatif agar pelayanan tetap berjalan meski ada kendala teknis.
3. Membangun Kepercayaan
Menjadi agen keuangan di desa bukan hanya soal transaksi. Rumiatun harus membangun kepercayaan dari warga. Ia melakukannya dengan konsistensi, kejujuran, dan pelayanan yang ramah. Lambat laun, warga mulai percaya dan aktif menggunakan layanan BRILink.
Dampak Positif bagi Komunitas
1. Meningkatkan Inklusi Keuangan
Kehadiran Rumiatun sebagai BRILink Agen membantu meningkatkan inklusi keuangan di desa. Warga yang sebelumnya tidak pernah menggunakan layanan perbankan kini mulai membuka rekening dan menabung secara rutin.
2. Mendorong Perputaran Ekonomi Lokal
Dengan layanan yang mudah diakses, warga lebih aktif dalam transaksi keuangan. Hal ini mendorong perputaran uang di desa dan membantu pertumbuhan ekonomi lokal.
3. Memberdayakan UMKM dan Petani
Banyak petani dan pelaku usaha kecil di sekitar kios Rumiatun yang kini bisa mengelola keuangan mereka dengan lebih baik. Mereka bisa menerima pembayaran, menabung, dan mengakses layanan lain yang mendukung usaha mereka.
Peran BRILink Agen dalam Ekosistem Keuangan Nasional
BRILink Agen seperti Rumiatun bukan hanya penyedia layanan transaksi. Mereka kini juga menjadi bagian dari ekosistem keuangan yang lebih besar. BRI melalui program BRILink terus mendorong inklusi keuangan dan menciptakan ekonomi berbagi dengan melibatkan masyarakat sebagai mitra.
Hingga akhir 2025, jumlah BRILink Agen di Indonesia telah mencapai lebih dari 1,1 juta agen. Mereka tersebar di lebih dari 66 ribu desa, menjangkau lebih dari 80% wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T. Ini menunjukkan betapa besar peran agen dalam mendekatkan layanan keuangan ke masyarakat terpencil.
Visi Rumiatun ke Depan
Setelah delapan tahun menjadi BRILink Agen, Rumiatun tetap optimis mengembangkan layanannya. Ia ingin terus meningkatkan jumlah transaksi dan memperluas jaringan pelanggan. Harapannya, kiosnya bisa menjadi pusat layanan keuangan dan kebutuhan pertanian sekaligus.
Rumiatun juga berharap bisa terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi baru. Ia sadar bahwa layanan keuangan terus berkembang, dan dirinya harus siap mengikuti perubahan tersebut agar tetap relevan dan bermanfaat.
Tabel Perkembangan BRILink Agen di Indonesia
| Tahun | Jumlah Agen | Pertumbuhan YoY | Wilayah Tercakup |
|---|---|---|---|
| 2023 | 980.000 | 10,5% | 60.000 desa |
| 2024 | 1.050.000 | 11,2% | 63.500 desa |
| 2025 | 1.100.000+ | 12,2% | 66.000+ desa |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan di lapangan.
Penutup
Kisah Rumiatun mencerminkan semangat gotong royong dalam bentuk layanan keuangan. Ia tidak hanya menjalankan usaha, tapi juga berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi warga desa. Lewat perannya sebagai BRILink Agen, Rumiatun membuktikan bahwa inklusi keuangan bisa dimulai dari hal-hal kecil, asal dilandasi niat baik dan komitmen yang kuat.
Peran agen seperti Rumiatun adalah bagian penting dari transformasi ekonomi digital di Indonesia. Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi dari pihak bank, mereka bisa terus tumbuh dan memberi dampak positif di komunitas mereka.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













